

KEDIRI, Tandaglobal.news — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Kediri menggelar sosialisasi pendidikan politik bagi pemilih pemula di SMAN 1 Wates Kediri dan Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman politik generasi muda sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam pengawasan partisipatif.
Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Kabupaten Kediri berupaya membangun pemilih pemula yang cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam mengawal proses demokrasi.
Ketua Bawaslu Kabupaten Kediri, Syaifuddin Zuhri, menegaskan pentingnya pemahaman mengenai hak dan kewajiban politik sejak dini bagi pemilih pemula.
“Pemilih pemula bukan hanya sekadar angka di tempat pemungutan suara, melainkan agen perubahan yang menentukan kualitas demokrasi ke depan. Melalui pendidikan politik ini, kami ingin memastikan bahwa generasi muda mampu memahami tata cara pemilu serta menjaga integritas di seluruh tahapan penyelenggaraannya,” ujar Syaifuddin saat memberikan materi kepada peserta.
Dalam pemaparannya, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai hakikat demokrasi yang berlandaskan kedaulatan rakyat, yakni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Materi tersebut mencakup karakteristik pemilu demokratis melalui prinsip predictable procedure, unpredictable result, yaitu prosedur yang dapat diprediksi, tetapi menghasilkan kepemimpinan yang dinamis.
Selain itu, materi mengenai lima pilar kondisi demokratis menurut Franz Magnis Suseno turut disampaikan, mulai dari pemerintahan yang berada di bawah kontrol masyarakat hingga jaminan hak-hak demokratis dasar.
Komisioner Bawaslu Kabupaten Kediri Divisi Pencegahan, Parmas dan Humas, Siswo Budi Siswo, menyoroti pentingnya etika berdemokrasi serta bahaya praktik politik uang dan penyebaran disinformasi yang dapat menyasar kalangan muda.
“Kami mengajak para siswa dan generasi muda untuk menghindari hal-hal yang mencederai demokrasi, seperti mengarahkan suara dengan paksaan, menyebarkan hoaks tanpa klarifikasi, melakukan intimidasi, serta yang paling krusial adalah politik uang. Pilihan yang mandiri tanpa intervensi materi adalah kunci mutlak lahirnya kepemimpinan yang berkualitas dan berintegritas,” tegas Siswo Budi.
Sosialisasi di SMAN 1 Wates dan Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) tersebut juga mendorong perubahan pola partisipasi politik, dari keterlibatan formal menuju partisipasi substantif yang didasarkan pada kesadaran kritis.
“Generasi muda harus beralih dari partisipasi transaksional yang mudah disetir oleh isu SARA dan hoaks, menuju partisipasi sadar yang berbasis pada kesadaran kritis pribadi. Mereka harus mandiri, tegas menolak politik uang, serta peduli pada pengawasan integritas proses. Aksi nyata seperti menggunakan hak pilih secara cerdas, menjadi relawan pengawas, hingga aktif dalam edukasi literasi digital adalah wujud nyata kontribusi mereka bagi daerah,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penguatan pemahaman mengenai enam tugas utama Bawaslu, mulai dari pencegahan dini pelanggaran, pengawasan melekat, hingga penanganan sanksi.
Melalui semangat pengawasan bersama, Bawaslu Kabupaten Kediri berharap pemilih muda dapat berperan dalam gerakan ant politik uang serta membangun komunitas yang kritis, santun, dan berintegritas demi menjaga keadilan pemilu.



















Tinggalkan Balasan