Jakarta, Tandaglobal.news — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Meski luas lahan yang terbakar terus ditekan, kabut asap di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih dilaporkan cukup pekat hingga mengganggu sejumlah aktivitas, terutama penerbangan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 23 September 2026, melaporkan masih terdapat 209,78 hektare lahan yang berada dalam proses pemadaman. Dari total 1.212,52 hektare lahan yang sebelumnya terbakar, sebanyak 1.002,74 hektare telah berhasil dipadamkan.
Suharyanto menyampaikan, aktivitas masyarakat secara umum masih berlangsung seperti biasa. Lalu lintas, toko, hingga rumah makan disebut tetap beroperasi. Namun, akses keluar-masuk wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mengalami sejumlah gangguan akibat kondisi asap.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara di Pontianak menunjukkan situasi yang perlu diperhatikan. Berdasarkan pemantauan IQAir pada 23 September 2026 pukul 16.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Kota Pontianak mencapai 1.186, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 670 mikrogram per meter kubik. Data tersebut tercatat pada waktu dan lokasi pemantauan tertentu di Pontianak.
Kabut asap juga berdampak terhadap operasional transportasi udara. BNPB menyebut kondisi asap yang pekat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah berkaitan dengan belum maksimalnya pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Situasi tersebut turut menghambat penerbangan komersial serta operasi pemadaman melalui udara.
Gangguan penerbangan tercatat di sejumlah wilayah Kalimantan. Kementerian Perhubungan melaporkan ratusan penerbangan terdampak selama periode 14–20 September 2026 akibat kondisi jarak pandang, termasuk keterlambatan, pembatalan atau penundaan, dan pengalihan penerbangan.
BNPB memperkirakan penanganan karhutla dan dampak asap masih membutuhkan waktu. Suharyanto menyebut kondisi tersebut diperkirakan dapat berakhir paling cepat pada pertengahan Oktober 2026 dan paling lambat pada minggu ketiga November 2026.
Dengan demikian, laporan mengenai aktivitas masyarakat yang masih berjalan normal tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi udara di seluruh wilayah terdampak telah kembali normal. Data kualitas udara di Pontianak pada 23 September menjadi salah satu gambaran kondisi setempat di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah kawasan Kalimantan Barat.




















Tinggalkan Balasan