KEDIRI, Tandaglobal.news Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pendidikan tengah mengawal pelaksanaan program revitalisasi bangunan sekolah yang dinilai tidak layak dan mengalami kerusakan. Untuk memastikan pembangunan berjalan lancar dan sesuai prosedur, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, meninjau langsung sejumlah lokasi pengerjaan pada Senin (21/9/2026).

Kunjungan tersebut menyasar tiga sekolah, yakni SMPN 1 Ngasem, SDN 1 Tenggerkidul di Kecamatan Pagu, serta SDN Gayam di Kecamatan Gurah.

Program revitalisasi yang bersumber dari bantuan pemerintah pusat tersebut mengalami peningkatan kuota penerima secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika tahun lalu Kabupaten Kediri hanya menerima bantuan untuk sekitar 40 hingga 50 sekolah, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 100 satuan pendidikan, mulai dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP negeri dan swasta.

Dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menegaskan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari tugas monitoring dan evaluasi (monev) untuk memastikan seluruh proses pembangunan berjalan sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) dari Kementerian Pendidikan.

“Kami ingin memastikan bahwa semua prosedur sudah dilaksanakan, semua SOP sudah dilaksanakan, dan semua dikelola oleh sekolah melalui panitia pembangunan satuan pendidikan. Panitianya berasal dari komite atau masyarakat sekitar, tim teknisnya dari profesional, dan penanggung jawabnya adalah kepala sekolah,” ujar Muhsin.

Ia juga mengajak masyarakat dan tokoh sekitar untuk turut memantau jalannya pembangunan agar pengerjaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kondisi yang memprihatinkan hingga memicu turunnya bantuan tersebut terlihat di SDN 1 Tenggerkidul.

Bendahara Revitalisasi SDN 1 Tenggerkidul, Elita Nur Aini, mengungkapkan bahwa sekolah yang berdiri sejak 1982 tersebut sudah lama tidak tersentuh perombakan.

Tembok yang mulai rontok serta atap yang bocor parah setiap kali hujan turun membuat kegiatan belajar menjadi tidak nyaman.

Pengerjaan di sekolah tersebut mencakup rehabilitasi tujuh ruang kelas dengan mengganti atap, jendela, pintu, hingga tiang teras.

“Harus selesai di akhir Desember karena perhitungannya 150 hari sejak dana keluar di bulan Agustus. Karena tujuh lokal semuanya direhab, siswa kelas 5 dan 6 kami titipkan untuk belajar di rumah penduduk, sedangkan kelas 1 sampai 4 di gedung madrasah TPA. Alhamdulillah, wali murid setuju dan sampai satu bulan ini anak-anak tetap bisa belajar dengan lancar,” jelas Elita terkait kondisi 102 siswanya selama masa pembangunan.

Berbeda dengan SDN 1 Tenggerkidul, pelaksanaan revitalisasi di SDN Gayam mengalami sedikit kendala terkait logistik.

Bendahara Revitalisasi SDN Gayam, Ria Diana Wati, menyebutkan bahwa perbaikan enam ruang kelas dan satu laboratorium di sekolahnya sempat terkendala antrean pengiriman material genteng dari wilayah Trenggalek.

Meski demikian, progres pembangunan tetap berjalan sesuai target rampung pada Desember mendatang dengan melibatkan tenaga pertukangan dari warga lokal Desa Gayam.

Untuk proses kegiatan belajar mengajar, 180 siswa SDN Gayam tidak perlu mengungsi ke luar lingkungan sekolah.

“Satu kelas dirangkap jadi satu. Misalnya kelas 1 yang tadinya dua rombongan belajar dirangkap jadi satu ruangan, karena muridnya masih memenuhi kuota sekitar 30 siswa per kelas. Khusus kelas 6 tetap dipisah agar fokus persiapan ujian. Alhamdulillah masih ada ruangan yang bisa dipakai, dan ruang guru sementara pindah ke perpustakaan,” kata Ria.

Selain mengandalkan dana dari pemerintah pusat, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri juga menyiapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan secara menyeluruh.

Muhsin memaparkan bahwa pihaknya mengalokasikan dana sekitar Rp20 miliar untuk merehabilitasi sekolah-sekolah yang tidak masuk dalam daftar penerima bantuan pusat atau menutupi kekurangan perbaikan di sekolah penerima revitalisasi.

“Pengajuan revitalisasi pusat dan APBD ini tidak bisa saling menunggu. Jadi, kita tetap memberikan anggaran rehab bagi sekolah yang memang memerlukan. Bisa jadi satu sekolah kerusakannya tujuh kelas, tapi dari revitalisasi pusat hanya dapat empat, maka kita tambah dari APBD,” pungkas Muhsin.

Melalui langkah tersebut dan pengawasan berlapis, diharapkan seluruh perbaikan ruang kelas di Kabupaten Kediri dapat selesai tepat waktu.

Dengan fasilitas yang kembali memadai, kenyamanan dan semangat belajar siswa diharapkan ikut meningkat.