MUSI BANYUASIN, Tandaglobal.news Nama PT Pinago Utama Tbk tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perkebunan dan industri pengolahan karet di Sumatera Selatan. Berdiri pada 12 Mei 1979, perusahaan yang bermula dari usaha perkebunan tersebut kemudian berkembang menjadi perusahaan agribisnis terpadu yang mengelola karet, kelapa sawit, pengolahan hasil perkebunan, hingga produk turunannya.

Perjalanan PT Pinago Utama menarik karena perkembangan perusahaan tidak berhenti pada kegiatan perkebunan. Dalam beberapa dekade, Pinago membangun fasilitas pengolahan karet, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik ribbed smoked sheet atau RSS, hingga fasilitas pengolahan turunan sawit dan pupuk organik.

Dengan basis utama di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, perusahaan berkembang di tengah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan karet dan kelapa sawit.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, PT Pinago Utama didirikan berdasarkan Akta No. 15 tanggal 12 Mei 1979 yang dibuat di hadapan Aminus, notaris di Palembang. Status badan hukum perusahaan kemudian memperoleh pengesahan melalui Keputusan No. YA5/81/20 tanggal 28 Maret 1981.

Sejarah tersebut menjadi titik awal perjalanan perusahaan yang kini telah memiliki kegiatan usaha dari hulu hingga hilir.

Berdiri pada 1979

Tonggak pertama sejarah PT Pinago Utama adalah 12 Mei 1979.

Pada tanggal tersebut, perusahaan didirikan dengan nama PT Pinago Utama.

Dokumen perusahaan mencatat pendirian dilakukan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Pinago Utama No. 15 tanggal 12 Mei 1979. Akta tersebut kemudian mendapatkan persetujuan pemerintah pada 28 Maret 1981.

Artinya, terdapat perbedaan antara tanggal pendirian perusahaan dan tanggal perusahaan memperoleh pengesahan badan hukum.

Perusahaan berdiri secara akta pada 1979, sementara pengesahan status hukumnya tercatat pada 1981.

Pembedaan tersebut penting dalam menulis sejarah perusahaan agar tahun pendirian tidak tercampur dengan tahun pengesahan badan hukum.

Memulai perjalanan dari perkebunan karet

Pada fase awal perkembangannya, Pinago Utama membangun basis usaha melalui perkebunan.

Menurut milestones perusahaan, penanaman kebun karet dilakukan pada 1991.

Langkah tersebut menjadi dasar bagi perkembangan perusahaan di sektor karet.

Perkebunan karet mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman pangan tahunan. Tanaman membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum dapat menghasilkan secara komersial.

Karena itu, keputusan melakukan penanaman pada 1991 merupakan investasi jangka panjang.

Kebun karet kemudian menjadi salah satu sumber bahan baku bagi kegiatan industri perusahaan.

Perkembangan tersebut nantinya membawa Pinago Utama tidak hanya menjadi perusahaan perkebunan, tetapi juga masuk ke sektor pengolahan karet.

Berkembang di Musi Banyuasin

Basis kegiatan Pinago Utama berada di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Wilayah tersebut mempunyai sejarah panjang dalam perkebunan karet.

Karet telah menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat Sumatera Selatan, termasuk masyarakat di wilayah Musi Banyuasin.

Kehadiran perusahaan perkebunan dan pabrik pengolahan kemudian membentuk rantai ekonomi yang menghubungkan kebun dengan industri.

Dalam database Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Musi Banyuasin, unit kebun PT Pinago Utama tercatat berada di Babat Toman, sementara fasilitas pabrik kelapa sawit dan PT Pinago Crumb Rubber juga tercatat di wilayah tersebut.

Lokasi tersebut memperlihatkan keterkaitan erat antara kegiatan perkebunan dan pengolahan yang menjadi ciri bisnis Pinago.

Masuk ke industri pengolahan karet

Perubahan penting terjadi pada pertengahan 1990-an.

Dalam sejarah perusahaan, pabrik karet remah atau Crumb Rubber Factory mulai beroperasi pada 1995.

Berdirinya pabrik tersebut menjadi salah satu titik balik paling penting dalam perjalanan Pinago Utama.

Sebelumnya, kegiatan perusahaan lebih berorientasi pada perkebunan.

Dengan hadirnya pabrik karet remah, perusahaan mulai masuk ke tahap pengolahan.

Karet yang dihasilkan dari perkebunan maupun yang diperoleh melalui jaringan pasokan dapat diproses menjadi produk industri.

Langkah tersebut meningkatkan nilai tambah komoditas.

Karet tidak berhenti sebagai hasil perkebunan, tetapi dapat diolah menjadi bahan baku industri.

Apa itu crumb rubber?

Crumb rubber atau karet remah merupakan salah satu bentuk karet alam yang diproduksi melalui proses pengolahan secara industri.

Bahan bakunya dapat berasal dari bahan olahan karet yang kemudian menjalani proses pencacahan, pencucian, penggilingan, pengeringan, pengujian mutu dan pengepakan.

Hasil akhirnya berbentuk balok karet yang dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri.

Salah satu pasar penting produk tersebut adalah industri ban.

Karena itu, pabrik crumb rubber menjadi mata rantai penting antara perkebunan karet dengan industri manufaktur.

Pabrik karet mengubah arah bisnis Pinago

Pengoperasian pabrik crumb rubber pada 1995 menunjukkan bahwa Pinago mulai membangun konsep integrasi usaha.

Perusahaan tidak hanya mengelola kebun.

Perusahaan juga mempunyai fasilitas untuk mengolah komoditas yang dihasilkan.

Konsep tersebut memberikan beberapa keuntungan.

Pertama, perusahaan dapat memperoleh nilai tambah dari hasil perkebunan.

Kedua, perusahaan memiliki kendali lebih besar terhadap proses pengolahan.

Ketiga, perusahaan dapat membangun hubungan langsung dengan pasar industri.

Keempat, keberadaan pabrik menciptakan kebutuhan tenaga kerja dan jasa pendukung di sekitar wilayah operasi.

Perubahan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi pengembangan bisnis Pinago pada tahun-tahun berikutnya.

Memasuki perkebunan kelapa sawit

Setelah membangun basis karet, Pinago Utama mulai melakukan penanaman kelapa sawit pada 1997.

Data milestones perusahaan mencatat penanaman kebun kelapa sawit dimulai pada 1997.

Masuknya kelapa sawit menandai diversifikasi usaha.

Perusahaan tidak lagi hanya bergantung pada karet.

Kelapa sawit kemudian berkembang menjadi salah satu bisnis utama Pinago.

Langkah tersebut juga mengikuti perubahan struktur industri perkebunan Indonesia.

Pada periode tersebut, kelapa sawit berkembang pesat karena meningkatnya kebutuhan minyak nabati, baik untuk konsumsi maupun industri.

Dari kebun sawit menuju pabrik CPO

Penanaman sawit kemudian diikuti pembangunan fasilitas pengolahan.

Menurut sejarah resmi perusahaan, pabrik Crude Palm Oil atau CPO mulai beroperasi pada 2003.

Pembangunan pabrik CPO kembali memperlihatkan strategi integrasi Pinago.

Tandan buah segar atau TBS dari kebun dapat diolah menjadi minyak sawit mentah.

Dengan demikian, perusahaan memperoleh nilai tambah lebih tinggi dibandingkan jika hanya menjual hasil perkebunan.

Pabrik juga membutuhkan sistem transportasi untuk mengirim TBS dari kebun menuju fasilitas pengolahan.

Kecepatan pengiriman menjadi penting karena TBS harus segera diproses setelah dipanen agar kualitas minyak tetap terjaga.

Karet dan sawit menjadi dua pilar utama

Sejak memasuki dekade 2000-an, struktur bisnis Pinago semakin jelas.

Karet dan kelapa sawit menjadi dua komoditas utama.

Keduanya mempunyai karakteristik bisnis berbeda.

Karet menghasilkan bahan baku industri yang sangat terkait dengan industri ban.

Sementara sawit menghasilkan minyak yang digunakan dalam berbagai kebutuhan industri dan konsumsi.

Diversifikasi tersebut memberikan perusahaan sumber pendapatan yang lebih beragam.

Ketika harga atau produksi salah satu komoditas mengalami tekanan, perusahaan masih memiliki bisnis lainnya.

Pabrik Ribbed Smoked Sheet

Perjalanan industri karet Pinago tidak berhenti pada crumb rubber.

Pada 2006, perusahaan mulai mengoperasikan pabrik karet lembaran asap atau Ribbed Smoked Sheet (RSS).

RSS merupakan salah satu bentuk produk karet alam yang dibuat dalam bentuk lembaran dan melalui proses pengasapan.

Produk tersebut mempunyai karakteristik berbeda dengan crumb rubber.

Dengan memiliki fasilitas RSS, Pinago dapat mengembangkan variasi produk karet.

Ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memanfaatkan komoditas karet secara lebih luas.

Mengapa RSS penting?

RSS memiliki sejarah panjang dalam industri karet.

Sebelum teknologi crumb rubber berkembang luas, karet lembaran asap menjadi salah satu bentuk utama perdagangan karet alam.

Produk tersebut masih digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.

Dengan membuka fasilitas RSS pada 2006, Pinago kembali masuk ke salah satu bentuk pengolahan karet yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.

Perusahaan dengan demikian memiliki dua jalur utama pengolahan karet, yaitu:

  • Crumb Rubber
  • Ribbed Smoked Sheet

Kedua produk tersebut memberikan perusahaan fleksibilitas dalam mengelola hasil karet.

Mengembangkan industri turunan

Perjalanan Pinago selanjutnya memperlihatkan semakin kuatnya konsep industri terpadu.

Pada 2010, perusahaan mulai mengoperasikan beberapa fasilitas baru, yaitu PKO Mill, fasilitas biogas dan pabrik pupuk organik.

PKO atau Palm Kernel Oil merupakan minyak yang diperoleh dari inti sawit.

Sementara fasilitas biogas dan pupuk organik menunjukkan upaya perusahaan memanfaatkan hasil samping dari kegiatan perkebunan dan pengolahan.

Dengan demikian, pengembangan usaha Pinago tidak hanya mengejar volume produksi.

Perusahaan juga mulai mengembangkan pemanfaatan produk samping.

Dari limbah menjadi sumber nilai tambah

Pengembangan fasilitas biogas dan pupuk organik menjadi bagian penting dalam perjalanan Pinago.

Industri perkebunan dan pengolahan menghasilkan berbagai produk samping.

Jika tidak dikelola dengan baik, produk tersebut dapat menjadi beban lingkungan.

Sebaliknya, jika diolah, sebagian dapat dimanfaatkan kembali.

Biogas dapat digunakan sebagai sumber energi.

Produk organik tertentu dapat diproses menjadi pupuk.

Konsep tersebut memperkuat karakter Pinago sebagai perusahaan agribisnis terpadu.

Perkembangan entitas anak

Seiring pertumbuhan bisnis, Pinago juga mengembangkan struktur kelompok usaha.

Dalam milestones perusahaan, tercatat pendirian beberapa entitas anak serta penyertaan kepemilikan pada perusahaan lain.

Salah satunya adalah PT Musi Andalan Sumatera.

Perusahaan juga mendirikan PT Hamparan Mutiara Hijau dan melakukan penyertaan kepemilikan pada PT Sriwijaya Nusantara Sejahtera.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bisnis Pinago mulai mempunyai struktur yang lebih kompleks.

Kegiatan usaha tidak lagi hanya dijalankan oleh satu badan usaha, tetapi melalui beberapa entitas dalam satu kelompok.

Menjadi perusahaan publik

Babak baru terjadi ketika PT Pinago Utama menjadi perusahaan terbuka.

Saham perusahaan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 31 Agustus 2020.

Setelah menjadi perusahaan publik, tuntutan transparansi dan tata kelola perusahaan menjadi semakin besar.

Perusahaan harus menyampaikan laporan keuangan dan laporan tahunan kepada publik.

Informasi mengenai kegiatan usaha, risiko, kinerja, struktur kepemilikan dan tata kelola juga menjadi bagian dari keterbukaan informasi.

Status sebagai perusahaan terbuka membuat perjalanan Pinago dapat dipantau lebih luas oleh investor dan masyarakat.

Perubahan nama menjadi PT Pinago Utama Tbk

Setelah tercatat di bursa, perusahaan menggunakan nama PT Pinago Utama Tbk.

Kegiatan utamanya mencakup perkebunan kelapa sawit dan karet serta turunannya.

Identitas tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan telah berkembang jauh dari usaha perkebunan awal.

Pinago kini menjadi kelompok usaha dengan kegiatan yang mencakup perkebunan, pengolahan hasil perkebunan dan produk turunannya.

Sertifikasi ISPO

Perkembangan perusahaan juga ditandai dengan penerapan standar keberlanjutan di sektor perkebunan kelapa sawit.

Dalam milestones, PT Pinago Utama tercatat memperoleh sertifikasi ISPO pada 2017.

Sementara PT Sriwijaya Nusantara Sejahtera juga tercatat menerima sertifikasi ISPO pada 2019.

ISPO atau Indonesian Sustainable Palm Oil merupakan sistem sertifikasi perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari perkembangan tata kelola perkebunan.

Luas perkebunan terus berkembang

Dalam laporan tahunan 2024, Pinago mencatat total luas tanaman 19.147 hektare, meningkat dibandingkan 17.987 hektare pada 2023.

Angka tersebut mencakup kegiatan perkebunan dalam kelompok usaha perusahaan.

Untuk komoditas karet, laporan 2024 mencatat total areal karet 3.801 hektare, terdiri atas 2.806 hektare tanaman menghasilkan dan 995 hektare tanaman belum menghasilkan.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kebun karet masih menjadi bagian penting dalam bisnis perusahaan.

Profil tanaman karet

Tanaman karet Pinago memiliki umur yang beragam.

Data 2024 menunjukkan:

  • Tanaman umur 1–5 tahun: 539 hektare
  • Tanaman umur 6–18 tahun: 1.678 hektare
  • Tanaman lebih dari 18 tahun: 589 hektare
  • Total tanaman menghasilkan: 2.806 hektare.

Komposisi umur tanaman menjadi faktor penting dalam menentukan produktivitas kebun.

Tanaman yang belum menghasilkan membutuhkan perawatan dan investasi sebelum memasuki masa produksi.

Sementara tanaman yang sudah tua dapat membutuhkan peremajaan.

Karena itu, perusahaan perkebunan harus terus melakukan pengelolaan umur tanaman.

Produksi karet

Sebagai perusahaan yang mempunyai kebun dan fasilitas pengolahan, Pinago menghasilkan beberapa produk karet.

Laporan tahunan 2024 mencatat produksi crumb rubber sebesar 23.733 ton dan Ribbed Smoked Sheet sebesar 1.608 ton.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa crumb rubber tetap menjadi produk karet utama.

Namun, RSS juga tetap mempunyai posisi dalam portofolio perusahaan.

Kedua produk tersebut memberikan pilihan bagi perusahaan dalam mengolah hasil karet.

Penjualan crumb rubber

Pada 2024, volume penjualan crumb rubber Pinago tercatat 22.751 ton, turun dari 33.030 ton pada 2023.

Namun, harga jual rata-rata meningkat dari sekitar Rp21.066 per kilogram pada 2023 menjadi Rp27.700 per kilogram pada 2024.

Perubahan tersebut menggambarkan salah satu karakteristik industri komoditas.

Volume penjualan dapat turun, sementara harga rata-rata meningkat.

Kinerja perusahaan kemudian sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara produksi, volume penjualan dan harga komoditas.

Penjualan RSS meningkat

Berbeda dengan crumb rubber, penjualan Ribbed Smoked Sheet mengalami peningkatan.

Laporan tahunan 2024 mencatat volume penjualan RSS mencapai 2.133 ton, naik dari 1.290 ton pada 2023. Harga jual rata-rata juga meningkat dari sekitar Rp27.100 per kilogram menjadi Rp36.124 per kilogram.

Data tersebut menunjukkan bahwa kedua produk karet memiliki dinamika pasar yang berbeda.

Perusahaan harus menyesuaikan produksi dan strategi penjualan berdasarkan permintaan dan harga masing-masing produk.

Karet tetap menjadi bisnis penting

Meskipun Pinago kini memiliki bisnis sawit yang besar, karet tetap menjadi salah satu identitas utama perusahaan.

Hal tersebut terlihat dari keberadaan:

  • kebun karet;
  • pabrik crumb rubber;
  • pabrik RSS;
  • jaringan pengadaan bahan baku;
  • dan pasar produk karet.

Dengan demikian, sejarah Pinago tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri karet Sumatera Selatan.

Tidak hanya mengolah hasil kebun sendiri

Salah satu karakter industri karet di Sumatera Selatan adalah keterhubungan antara perkebunan perusahaan dengan perkebunan rakyat.

Pabrik pengolahan membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar.

Karena itu, industri crumb rubber pada umumnya tidak hanya bergantung pada produksi satu kebun.

Jaringan pembelian bahan baku dari masyarakat dan pemasok menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan operasi.

Keberadaan fasilitas PT Pinago Crumb Rubber di Musi Banyuasin juga tercatat dalam database pemerintah daerah.

Hal tersebut memperlihatkan posisi pabrik sebagai bagian dari industri pengolahan di wilayah tersebut.

Hubungan dengan masyarakat sekitar

Perusahaan perkebunan mempunyai hubungan langsung dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Kegiatan perusahaan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Selain tenaga kerja langsung, kegiatan perkebunan dan pabrik juga menciptakan pekerjaan tidak langsung melalui transportasi, perdagangan, jasa dan pemasok.

Di daerah yang perekonomiannya banyak bergantung pada perkebunan, keberadaan industri pengolahan menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi.

Pinago berkembang dalam lingkungan ekonomi tersebut.

Tantangan industri karet

Perjalanan Pinago juga berlangsung di tengah berbagai tantangan industri karet.

Harga karet alam sangat dipengaruhi pasar internasional.

Permintaan industri ban menjadi salah satu faktor utama.

Ketika ekonomi global melemah, permintaan terhadap produk industri dapat turun.

Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi permintaan bahan baku karet.

Di sisi lain, perusahaan juga harus menghadapi persoalan produktivitas kebun, cuaca, biaya produksi dan ketersediaan tenaga kerja.

Tantangan perubahan iklim

Perkebunan merupakan sektor yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Laporan tahunan 2024 menyebut produksi TBS inti Pinago turun 14 persen, dari 179.913 ton pada 2023 menjadi 155.246 ton pada 2024.

Total TBS yang diolah juga sedikit turun dari 438.424 ton menjadi 425.023 ton.

Perusahaan menyebut penurunan tersebut dipengaruhi kemarau berkepanjangan.

Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana faktor iklim dapat memberikan dampak langsung terhadap produksi perkebunan.

Kinerja perusahaan pada 2024

Meskipun menghadapi perubahan produksi dan penjualan sejumlah produk, Pinago mencatat peningkatan laba bersih.

Laporan tahunan 2024 menyebut laba bersih meningkat dari sekitar Rp191,6 miliar pada 2023 menjadi Rp220,9 miliar pada 2024, atau naik sekitar 15 persen.

Peningkatan tersebut terutama berkaitan dengan kenaikan laba usaha dan penurunan biaya keuangan.

Kinerja ini memperlihatkan bahwa bisnis Pinago tidak hanya bergantung pada satu produk.

Diversifikasi antara karet, sawit dan produk turunannya memberikan struktur bisnis yang lebih beragam.

Sawit menjadi sumber pendapatan besar

Dalam laporan 2024, segmen sawit mencatat pendapatan sekitar Rp1,55 triliun, meningkat 4,63 persen dibandingkan 2023.

Pendapatan tersebut berasal dari beberapa produk, termasuk minyak sawit, inti sawit, TBS, palm kernel oil dan cangkang.

Data tersebut menunjukkan besarnya peran sawit dalam struktur bisnis Pinago saat ini.

Namun, perkembangan sawit tidak menghapus sejarah karet perusahaan.

Justru, dua komoditas tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi Pinago.

Model bisnis terpadu

Jika melihat perjalanan sejak 1979, Pinago berkembang menjadi perusahaan dengan model usaha yang cukup terpadu.

Rantai bisnisnya dapat digambarkan sebagai:

perkebunan → panen → pengolahan → produk industri → pemasaran.

Pada karet, rantai tersebut menghasilkan crumb rubber dan RSS.

Pada sawit, rantai tersebut menghasilkan CPO, inti sawit, PKO dan produk lainnya.

Perusahaan juga mengembangkan fasilitas biogas dan pupuk organik.

Model tersebut memungkinkan sebagian hasil samping dimanfaatkan kembali.

Dari perusahaan lokal menuju perusahaan terbuka

Perjalanan Pinago juga mencerminkan perubahan struktur perusahaan Indonesia.

Didirikan pada 1979 sebagai perusahaan berbadan hukum, Pinago kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan perkebunan dan fasilitas pengolahan.

Puluhan tahun kemudian, perusahaan memasuki pasar modal.

Pada 31 Agustus 2020, saham PT Pinago Utama mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Masuk bursa menjadi tonggak penting karena perusahaan memasuki era keterbukaan informasi.

Laporan tahunan dan laporan keuangan menjadi sumber informasi penting mengenai perkembangan perusahaan.

Pentingnya transparansi

Sebagai perusahaan terbuka, Pinago wajib menyampaikan informasi mengenai kinerja dan kegiatan usaha kepada publik.

Hal tersebut membuat perjalanan perusahaan dapat ditelusuri melalui laporan tahunan.

Data seperti luas perkebunan, produksi karet, produksi sawit, kapasitas pabrik, pendapatan, laba, struktur kepemilikan dan risiko usaha menjadi lebih terbuka.

Dokumentasi tersebut juga penting bagi penulisan sejarah perusahaan.

Dengan adanya laporan tahunan, perubahan perusahaan dari tahun ke tahun dapat ditelusuri secara lebih akurat.

Pinago dan sejarah karet Musi Banyuasin

Musi Banyuasin merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang perkebunan karet di Sumatera Selatan.

Keberadaan Pinago menambah panjang daftar perusahaan yang mengembangkan perkebunan dan industri karet di daerah tersebut.

Pabrik karet memungkinkan hasil perkebunan masuk ke pasar industri.

Produk karet kemudian dapat dikirim menuju konsumen industri, termasuk industri yang menggunakan karet sebagai bahan baku.

Dengan demikian, keberadaan Pinago menjadi bagian dari rantai ekonomi karet di Sumatera Selatan.

Tantangan regenerasi tanaman

Perusahaan perkebunan harus menghadapi siklus tanaman.

Tanaman yang sudah tua mengalami penurunan produktivitas dan pada akhirnya perlu diremajakan.

Data umur tanaman karet Pinago pada 2024 menunjukkan adanya tanaman muda, tanaman produktif dan tanaman yang telah berusia lebih dari 18 tahun.

Komposisi tersebut memperlihatkan pentingnya perencanaan jangka panjang.

Perusahaan perlu memastikan ada tanaman baru yang siap menggantikan tanaman yang memasuki akhir masa produktif.

Menjaga produktivitas

Produktivitas perkebunan ditentukan oleh banyak faktor.

Jenis tanaman, umur tanaman, pemeliharaan, pemupukan, kondisi cuaca, teknik panen dan pengelolaan lahan semuanya berpengaruh.

Karena itu, perusahaan harus melakukan pengelolaan kebun secara berkelanjutan.

Pada karet, kualitas bahan baku juga sangat penting karena akan menentukan efisiensi proses di pabrik.

Sementara pada sawit, waktu antara panen dan pengolahan menjadi faktor penting dalam menjaga mutu TBS.

Integrasi memberikan nilai tambah

Keberadaan pabrik di dekat wilayah perkebunan memberikan keuntungan logistik.

Hasil perkebunan tidak harus dikirim terlalu jauh sebelum diproses.

Untuk karet, bahan baku dapat masuk ke fasilitas crumb rubber atau RSS.

Untuk sawit, TBS dapat dikirim ke pabrik CPO.

Produk hasil pengolahan kemudian dapat dikirim menuju pasar.

Konsep tersebut memperkuat nilai tambah yang dihasilkan perusahaan di wilayah operasi.

Lingkungan menjadi bagian dari bisnis

Perkembangan industri perkebunan membuat persoalan lingkungan semakin penting.

Perusahaan harus mengelola limbah, air, emisi, energi dan penggunaan lahan.

Pengembangan fasilitas biogas dan pupuk organik menunjukkan bahwa Pinago juga mengembangkan pemanfaatan hasil samping dari kegiatan industri.

Pendekatan tersebut sejalan dengan perkembangan industri perkebunan modern yang semakin menekankan efisiensi sumber daya.

Pinago saat ini

Berdasarkan laporan tahunan 2024, PT Pinago Utama Tbk kini merupakan perusahaan dengan bisnis utama perkebunan dan pengolahan kelapa sawit serta karet.

Perusahaan memiliki areal tanaman sekitar 19.147 hektare pada 2024.

Di sektor karet, terdapat 3.801 hektare areal karet, dengan 2.806 hektare tanaman menghasilkan dan 995 hektare belum menghasilkan.

Perusahaan juga mengoperasikan fasilitas pengolahan karet dan sawit serta berbagai fasilitas turunannya.

Struktur tersebut menjadikan Pinago bukan sekadar perusahaan perkebunan, melainkan perusahaan agribisnis terintegrasi.

Dalam perkembangan terbaru yang tercatat pada laporan 2024, Pinago memiliki total luas tanaman sekitar 19.147 hektare. Di sektor karet, perusahaan memiliki sekitar 3.801 hektare areal karet, dengan 2.806 hektare tanaman menghasilkan. Produksi 2024 tercatat 23.733 ton crumb rubber dan 1.608 ton RSS.

Dengan demikian, sejarah PT Pinago Utama bukan sekadar kisah sebuah perusahaan perkebunan di Musi Banyuasin. Perjalanannya menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan yang berdiri pada 1979 berkembang dari perkebunan karet, masuk ke industri crumb rubber, melakukan diversifikasi ke kelapa sawit, membangun berbagai fasilitas pengolahan, mengembangkan produk turunan, hingga menjadi perusahaan terbuka.

Di tengah sejarah panjang industri karet Sumatera Selatan, Pinago mempunyai posisi tersendiri karena menggabungkan perkebunan dan industri pengolahan dalam satu kelompok usaha. Dari kebun karet yang mulai ditanam pada 1991 hingga pabrik crumb rubber dan RSS, karet tetap menjadi salah satu bagian penting dari identitas perusahaan.

Perjalanan lebih dari empat dekade tersebut juga memperlihatkan perubahan besar industri agribisnis Indonesia: dari perusahaan perkebunan menuju industri terpadu yang mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah, sekaligus terhubung dengan pasar dan rantai industri yang lebih luas.