KEDIRI, Tandaglobal.news — Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNN) Kediri mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyalahgunaan rokok elektronik atau vape sebagai media baru peredaran narkotika yang kini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
Kepala BNN Kabupaten Kediri AKBP Andi Febrianto mengungkapkan, tren penggunaan vape yang semakin populer, terutama di kalangan anak muda, dimanfaatkan jaringan narkoba untuk menyebarkan zat terlarang dalam bentuk yang lebih sulit dikenali.
Peringatan tersebut muncul setelah BNN RI mengungkap kasus penyelundupan lebih dari 3 ton kuncup bunga kering cannabis buds di Gresik yang diduga akan diolah menjadi bahan campuran cairan vape.
“Modus yang berkembang saat ini adalah mencampurkan zat-zat narkotika ke dalam liquid vape. Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan kandungan senyawa berbahaya seperti kanabinoid, ketamin hingga etomidate yang memiliki efek psikoaktif dan adiktif,” jelasnya.
Menurut Andi, vape menjadi sasaran jaringan narkoba karena telah berkembang menjadi gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda.
Selain praktis digunakan, vape juga memiliki beragam varian rasa dan tidak menimbulkan aroma menyengat seperti rokok konvensional.
Kondisi tersebut membuat peredarannya lebih sulit terdeteksi dibandingkan penyalahgunaan narkotika dalam bentuk lain.
“Karena tampilannya seperti produk biasa, masyarakat sering kali tidak menyadari adanya kandungan berbahaya di dalamnya. Inilah yang menjadi perhatian serius BNN,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah negara di Asia telah mengambil langkah tegas terhadap penggunaan vape.
Di Indonesia sendiri, BNN RI telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait berbagai langkah pengawasan yang diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan vape sebagai sarana distribusi narkotika.
Andi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih waspada dan aktif mengawasi lingkungan sekitar, terutama kalangan remaja yang menjadi target utama para pelaku peredaran narkoba.
“Kita harus bersama-sama melindungi generasi muda. Jangan sampai mereka menjadi korban karena kurangnya informasi mengenai modus-modus baru peredaran narkoba,” katanya.




















Tinggalkan Balasan