KEDIRI, Tandaglobal.news – Di lereng Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terdapat kawasan perkebunan yang menyimpan perjalanan sejarah panjang lebih dari satu abad. Kawasan tersebut adalah Kebun Ngrangkah Pawon, yang berada di wilayah Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten.
Nama Sepawon selama ini tidak hanya dikenal karena hamparan perkebunannya. Kawasan tersebut juga memiliki fasilitas pengolahan hasil perkebunan yang menjadi bagian dari perjalanan industri perkebunan di Kediri. Jejak tersebut menghubungkan masa perusahaan perkebunan kolonial, nasionalisasi setelah kemerdekaan, perubahan bentuk perusahaan negara, hingga transformasi perkebunan ke dalam struktur PTPN I Regional 5.
Namun, penyebutan “Pabrik Sepawon” perlu ditempatkan secara tepat. Berdasarkan sejumlah penelitian mengenai Kebun Ngrangkah Pawon, pada masa PTPN XII terdapat dua fasilitas pengolahan utama, yakni pabrik pengolahan kakao di Sepawon dan pabrik pengolahan kopi di Satak. Karena itu, menyebut Sepawon secara spesifik sebagai pabrik kopi kurang tepat secara historis.
Berawal dari Perkebunan Kolonial
Sejarah Kebun Ngrangkah Pawon dapat ditelusuri hingga akhir abad ke-19. Sejumlah penelitian mengenai perusahaan perkebunan tersebut mencatat bahwa kebun ini telah berdiri pada 1889 dan pada awalnya berkaitan dengan perusahaan perkebunan Belanda.
Salah satu sumber akademik menyebut Kebun Ngrangkah Pawon merupakan gabungan dari perkebunan Ngrangkah Pawon dan Satak yang pada masa awalnya dimiliki perusahaan perkebunan berbeda. Kebun Ngrangkah Pawon dikaitkan dengan NV Cultuur Maatschappij TVK (Tiedeman van Kerchem), sementara Kebun Satak disebut berkaitan dengan NV Landbouw Maatschappij & Co.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan kawasan perkebunan Ngrangkah Pawon bukanlah fenomena baru pada masa Indonesia merdeka. Sistem perkebunan di kawasan itu telah berkembang sejak masa ketika pemerintah kolonial membuka dan mengembangkan perkebunan komersial di berbagai wilayah Jawa.
Posisi Ngrangkah Pawon di lereng Gunung Kelud menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan perkebunan. Lingkungan pegunungan dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung membuat kawasan ini sesuai untuk berbagai komoditas perkebunan.
Sepawon dan Pembukaan Lahan Perkebunan
Sejarah lokal Desa Sepawon juga mencatat perkembangan kawasan tersebut pada masa kolonial. Desa Sepawon berada di Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, dan secara historis wilayahnya berkaitan erat dengan aktivitas perkebunan.
Catatan sejarah desa menyebut pembukaan lahan perkebunan di wilayah yang sekarang menjadi Desa Sepawon berlangsung pada 1923. Informasi ini menjadi bagian dari sejarah lokal mengenai terbentuknya kawasan permukiman dan perkebunan Sepawon.
Dengan demikian, terdapat dua penanda waktu yang perlu dibedakan. Tahun 1889 merujuk pada sejarah berdirinya perkebunan Ngrangkah Pawon sebagaimana dicatat dalam sejumlah penelitian perusahaan, sedangkan 1923 muncul dalam catatan sejarah Desa Sepawon berkaitan dengan pembukaan lahan perkebunan di wilayah desa.
Perbedaan konteks ini penting agar sejarah kawasan tidak disederhanakan seolah-olah perkebunan baru berdiri pada 1923.
Perkebunan dan Industri Pengolahan
Perkembangan perkebunan dalam skala besar membutuhkan fasilitas pengolahan hasil produksi. Tanaman perkebunan tidak seluruhnya dapat langsung dipasarkan setelah dipanen. Sebagian harus melalui proses pengolahan sebelum menjadi komoditas yang siap dipasarkan.
Dalam perkembangan Kebun Ngrangkah Pawon, aktivitas perkebunan kemudian terhubung dengan fasilitas pengolahan. Pada periode PTPN XII, penelitian mengenai kebun tersebut mencatat adanya dua pabrik pengolahan, yaitu pabrik pengolahan kakao bulk di Sepawon dan pabrik pengolahan kopi di Satak.
Artinya, Sepawon memiliki posisi penting dalam rantai produksi kakao. Sementara itu, kawasan Satak menjadi lokasi pengolahan kopi.
Penjelasan ini sekaligus memperjelas penggunaan nama “Pabrik Sepawon”. Dalam konteks sejarah industri perkebunan, yang paling kuat didukung sumber adalah keberadaan pabrik pengolahan kakao di Sepawon pada masa pengelolaan PTPN XII.
Komoditas yang Pernah Berkembang
Kebun Ngrangkah Pawon tidak hanya mengandalkan satu jenis tanaman. Berbagai penelitian mencatat keberadaan komoditas perkebunan seperti kopi robusta, kakao, karet, cengkeh, tanaman kayu, tebu dan hortikultura dalam perkembangan kawasan tersebut.
Komposisi tanaman tersebut menunjukkan bahwa perkebunan mengalami perubahan sesuai dengan kebijakan pengelolaan, kebutuhan produksi dan kondisi ekonomi.
Pada periode tertentu, kopi dan kakao menjadi bagian penting dari kegiatan perkebunan. Di sisi lain, karet juga berkembang dan kemudian menjadi salah satu komoditas utama kebun.
Perubahan komoditas tersebut membuat sejarah Sepawon tidak dapat hanya dilihat dari satu jenis produk. Kawasan ini merupakan bagian dari sistem perkebunan yang mengalami penyesuaian selama lebih dari satu abad.
Peralihan Setelah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka, sistem perkebunan yang sebelumnya berada dalam penguasaan perusahaan kolonial mengalami perubahan mendasar.
Perkebunan-perkebunan peninggalan kolonial secara bertahap masuk ke dalam pengelolaan negara. Kebun Ngrangkah Pawon kemudian mengalami beberapa kali perubahan organisasi dan nama perusahaan.
Berdasarkan data sejarah perusahaan yang dihimpun dalam penelitian akademik, pada periode 1957–1960, kebun berada di bawah PPN Baru Perwakilan Jawa Timur Prae Unit Budidaya A.
Kemudian pada 1960–1962, pengelolaannya berada di bawah PPN Kesatuan VI. Setelah itu, pada periode 1963–1968, terjadi pemisahan pengelolaan antara Kebun Ngrangkah Pawon dan Kebun Satak. Ngrangkah Pawon berada di bawah PPN Karet XV, sedangkan Satak berada di bawah PPN Antan XII.
Perubahan tersebut menggambarkan proses panjang reorganisasi perkebunan negara setelah Indonesia mengambil alih aset-aset perkebunan peninggalan kolonial.
Memasuki Era PNP XXIII
Pada 1968, PPN Karet XV dan PPN Antan XII bergabung menjadi PNP XXIII. Sejak saat itu, Ngrangkah Pawon dan Satak kembali berada dalam satu struktur perusahaan.
Perubahan bentuk perusahaan kembali terjadi pada 1972. PNP XXIII berubah menjadi PTP XXIII.
Status PTP XXIII berlangsung hingga 1994. Pada tahun tersebut terjadi restrukturisasi perusahaan perkebunan di Jawa Timur. Sejumlah perusahaan perkebunan kemudian bergabung ke dalam PTP Jawa Timur.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya penataan perusahaan-perusahaan perkebunan negara agar pengelolaannya lebih terintegrasi.
Lahirnya PTPN XII
Babak baru terjadi pada 1996 ketika PTP Jawa Timur berubah menjadi PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII).
Penelitian mengenai sejarah perusahaan mencatat bahwa PTPN XII merupakan hasil penggabungan beberapa perusahaan perkebunan negara dan kemudian mengelola berbagai komoditas di Jawa Timur, termasuk kopi, kakao, karet, teh, cengkeh dan tanaman kayu.
Kebun Ngrangkah Pawon kemudian menjadi salah satu unit perkebunan yang berada dalam pengelolaan PTPN XII.
Pada periode tersebut, kawasan Ngrangkah Pawon memiliki wilayah yang luas dan terdiri atas beberapa afdeling. Salah satu penelitian mencatat luas keseluruhan kebun mencapai sekitar 3.952,15 hektare dan terdiri atas tujuh afdeling.
Struktur afdeling tersebut menunjukkan bahwa Kebun Ngrangkah Pawon bukan sekadar sebuah perkebunan kecil, melainkan sebuah unit usaha perkebunan dalam skala besar.
Pabrik Kakao di Sepawon
Salah satu bagian penting dari sejarah kawasan ini adalah keberadaan Pabrik Pengolahan Kakao Bulk di Sepawon.
Kakao yang diproduksi dari areal perkebunan membutuhkan proses pengolahan sebelum dapat dipasarkan. Kehadiran pabrik membuat kegiatan produksi tidak berhenti pada proses budidaya tanaman, tetapi berlanjut ke tahap pengolahan hasil.
Penelitian mengenai Kebun Ngrangkah Pawon menyebut secara jelas bahwa terdapat dua pabrik pengolahan, yakni pabrik kakao di Sepawon dan pabrik kopi di Satak.
Sumber akademik lain juga mencatat bahwa Kebun Ngrangkah Pawon pada periode tertentu memiliki komoditas utama kopi robusta dan kakao bulk, selain tanaman kayu, tebu dan hortikultura.
Karena itu, sejarah pabrik di Sepawon tidak bisa dipisahkan dari sejarah budidaya kakao di kawasan Ngrangkah Pawon.
Pabrik Kopi Berada di Satak
Kesalahan penyebutan yang cukup mudah terjadi adalah menganggap seluruh fasilitas pengolahan di Kebun Ngrangkah Pawon sebagai Pabrik Kopi Sepawon.
Padahal, berdasarkan penelitian mengenai struktur perkebunan, pabrik kopi berada di Satak, sementara pabrik pengolahan kakao berada di Sepawon.
Kedua kawasan tersebut memang berada dalam satu kesatuan sejarah perkebunan Ngrangkah Pawon, sehingga nama dan lokasinya kerap tercampur dalam penyebutan masyarakat.
Pemisahan lokasi ini penting untuk menjaga ketepatan sejarah. Dengan demikian, apabila sebuah tulisan membahas “Pabrik Sepawon”, maka konteks pengolahan kakao merupakan keterangan yang lebih kuat berdasarkan sumber akademik yang tersedia.
Luas dan Struktur Perkebunan
Kebun Ngrangkah Pawon berkembang menjadi kawasan perkebunan dengan luas ribuan hektare. Penelitian yang dilakukan terhadap kebun tersebut mencatat luas konsesi sekitar 3.952,15 hektare.
Kawasan perkebunan tersebut mencakup beberapa wilayah administratif, termasuk Kecamatan Plosoklaten, Ngancar dan Puncu.
Keberadaan perkebunan dalam skala besar membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Perkebunan membutuhkan tenaga kerja dalam berbagai bidang, mulai dari pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengolahan hasil, hingga pekerjaan administrasi dan pendukung.
Karena itu, sejarah Ngrangkah Pawon juga merupakan bagian dari sejarah sosial ekonomi masyarakat di sekitar lereng Gunung Kelud.
Perkebunan sebagai Sumber Penghidupan
Keberadaan perkebunan selama puluhan tahun menciptakan hubungan yang erat antara perusahaan perkebunan dan masyarakat sekitar.
Bagi masyarakat Desa Sepawon dan wilayah di sekitarnya, perkebunan menjadi salah satu sumber aktivitas ekonomi. Lapangan pekerjaan muncul dari kegiatan budidaya, pemeliharaan, pemanenan dan pengolahan hasil perkebunan.
Selain itu, kawasan perkebunan juga membentuk pola permukiman dan akses jalan yang menghubungkan kawasan produksi dengan wilayah di luar perkebunan.
Dengan perjalanan lebih dari satu abad, keberadaan perkebunan akhirnya menjadi bagian dari identitas kawasan Sepawon.
Dari Kopi dan Kakao Menuju Karet
Seiring perubahan zaman, komoditas yang menjadi fokus perusahaan juga berubah.
Salah satu sumber mengenai PTPN XII Ngrangkah Pawon mencatat bahwa kebun tersebut pernah mengelola kopi robusta, karet dan cokelat, tetapi kemudian fokus pengolahan beralih pada karet.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana industri perkebunan terus menyesuaikan diri.
Tidak semua komoditas yang pernah menjadi unggulan pada masa lalu tetap menjadi komoditas utama pada masa berikutnya. Perubahan pasar, produktivitas, kondisi tanaman dan strategi perusahaan turut menentukan arah pengembangan kebun.
Memasuki Era PTPN I Regional 5
Transformasi kembali terjadi dalam struktur perkebunan negara setelah restrukturisasi holding perkebunan.
Situs resmi Kebun Ngrangkah Pawon kini menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu kebun milik PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5. Sebelumnya, kebun tersebut berada dalam lingkungan PTPN XII.
Situs resmi perusahaan menyebut penggabungan sembilan entitas PTPN ke dalam PTPN I berlangsung pada 1 Desember 2023. Setelah restrukturisasi tersebut, PTPN I Regional 5 menjadi bagian dari struktur baru pengelolaan perkebunan negara.
Saat ini, profil resmi Kebun Ngrangkah Pawon menyebut karet, tebu dan aneka kayu sebagai komoditas utama.
Perubahan itu memperlihatkan bahwa wajah perkebunan Ngrangkah Pawon saat ini tidak sepenuhnya sama dengan periode ketika kopi dan kakao menjadi komoditas penting.
Pembangunan Pabrik RSS
Perjalanan industri perkebunan di Ngrangkah Pawon juga masih berlangsung.
Pada 8 Januari 2026, manajemen PTPN I Regional 5 melakukan kunjungan kerja ke Kebun Ngrangkah Pawon. Salah satu agenda utamanya adalah meninjau pembangunan Pabrik RSS serta melihat proses produksi dan pembibitan di kawasan kebun.
RSS merupakan singkatan dari Ribbed Smoked Sheet, yaitu salah satu bentuk produk olahan karet.
Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan di kawasan Ngrangkah Pawon terus mengalami perkembangan. Jika pada periode sebelumnya Sepawon dikenal dengan pengolahan kakao sebagai bagian dari sistem perkebunan, kini pengembangan pengolahan juga berkaitan dengan komoditas karet.
Dengan demikian, sejarah pabrik di kawasan ini tidak berhenti pada bangunan dan fasilitas dari masa lalu. Aktivitas industri perkebunan terus beradaptasi mengikuti komoditas yang dikembangkan perusahaan.
Jejak Kolonial yang Berubah Menjadi Aset Negara
Perjalanan Ngrangkah Pawon memperlihatkan perubahan besar dalam sistem kepemilikan dan pengelolaan perkebunan di Indonesia.
Pada awalnya, perkebunan berada dalam sistem perusahaan kolonial. Setelah kemerdekaan, aset perkebunan beralih ke negara dan dikelola melalui berbagai organisasi perkebunan negara.
Perusahaan pengelolanya kemudian berubah beberapa kali, mulai dari PPN, PNP, PTP hingga PTPN.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama. Setiap perubahan membawa struktur organisasi, kebijakan dan orientasi produksi yang berbeda.
Namun, satu hal yang tetap bertahan adalah fungsi kawasan sebagai pusat kegiatan perkebunan.
Sepawon dan Identitas Lereng Gunung Kelud
Letak Ngrangkah Pawon di kawasan lereng Gunung Kelud memberikan karakter tersendiri bagi perkebunan tersebut.
Situs resmi kebun menyebut lokasinya berada di kawasan lereng Gunung Kelud. Situs tersebut saat ini mencatat ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut, meskipun sejumlah penelitian akademik mengenai areal kebun mencatat rentang ketinggian yang berbeda untuk bagian-bagian kawasan perkebunan.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara keterangan profil perusahaan dan data geografis penelitian untuk bagian-bagian areal kebun.
Terlepas dari perbedaan tersebut, posisi kawasan di lereng Gunung Kelud menjadi salah satu ciri penting Ngrangkah Pawon.
Hamparan perkebunan, udara sejuk dan lanskap pegunungan menjadikan kawasan tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sejarah dan lingkungan.
Lebih dari Sekadar Pabrik
Jika dilihat secara keseluruhan, sejarah Sepawon bukan hanya cerita mengenai sebuah pabrik.
Di balik fasilitas pengolahan terdapat sejarah pembukaan perkebunan, perubahan kepemilikan, perkembangan komoditas, reorganisasi perusahaan negara dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama perkebunan.
Pabrik merupakan salah satu mata rantai dari sistem yang jauh lebih besar.
Tanaman dibudidayakan di areal perkebunan, hasilnya dipanen, kemudian diproses melalui fasilitas pengolahan sebelum dipasarkan. Dalam sistem tersebut, pabrik menjadi penghubung penting antara kegiatan pertanian dan industri.
Itulah yang membuat kawasan Sepawon memiliki arti dalam sejarah perkebunan Kediri.
Warisan Sejarah yang Terus Berubah
Lebih dari satu abad setelah sejarah awal Kebun Ngrangkah Pawon dicatat, kawasan tersebut masih menjalankan fungsi sebagai perkebunan.
Perusahaan pengelolanya telah berganti berkali-kali. Komoditas yang dikembangkan juga mengalami perubahan. Fasilitas pengolahan ikut beradaptasi dengan kebutuhan produksi.
Namun, jejak sejarahnya tetap dapat ditelusuri melalui keberadaan kebun, afdeling, fasilitas pengolahan dan berbagai catatan perusahaan maupun penelitian akademik.
Dari perusahaan perkebunan Belanda pada akhir abad ke-19, kawasan ini kemudian menjadi bagian dari perkebunan negara setelah kemerdekaan, melewati berbagai bentuk organisasi perusahaan, masuk ke PTPN XII, dan kini berada di bawah PTPN I Regional 5.
Perjalanan tersebut menjadikan Ngrangkah Pawon dan Sepawon sebagai salah satu contoh bagaimana perkebunan warisan kolonial mengalami transformasi menjadi bagian dari industri perkebunan nasional.
Penutup
Sejarah Pabrik Sepawon merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjalanan panjang Kebun Ngrangkah Pawon di Kabupaten Kediri.
Kawasan tersebut telah berkembang sejak masa perusahaan perkebunan Belanda pada akhir abad ke-19. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaannya berpindah ke berbagai badan perkebunan negara hingga akhirnya masuk dalam struktur PTPN.
Dalam periode PTPN XII, keberadaan pabrik pengolahan kakao di Sepawon dan pabrik kopi di Satak menjadi bagian penting dari sistem produksi perkebunan. Sementara itu, pada masa sekarang, Kebun Ngrangkah Pawon berada di bawah PTPN I Regional 5 dengan komoditas utama karet, tebu dan aneka kayu.
Pembangunan Pabrik RSS yang ditinjau manajemen pada Januari 2026 menunjukkan bahwa aktivitas industri di kawasan tersebut masih terus berkembang.
Karena itu, Sepawon tidak hanya menyimpan cerita masa lalu. Kawasan ini juga memperlihatkan bagaimana warisan perkebunan dari era kolonial terus bertransformasi mengikuti perkembangan industri perkebunan Indonesia.
Catatan sejarah: berdasarkan sumber akademik yang tersedia, belum ditemukan data yang cukup kuat untuk memastikan secara spesifik tahun pembangunan gedung pabrik kakao di Sepawon, nama arsitek, desain bangunan, maupun tahun pertama pabrik tersebut mulai beroperasi. Karena itu, informasi tersebut tidak dicantumkan sebagai fakta agar sejarah tetap akurat.




















Tinggalkan Balasan