Toraja, Tandaglobal.news — Di balik secangkir kopi Toraja yang telah dikenal hingga pasar internasional, tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari upaya menghidupkan kembali komoditas kopi yang sempat menghilang dari perdagangan dunia. Perjalanan tersebut kemudian melahirkan PT Toarco Jaya beserta merek Toarco Toraja yang hingga kini terus berkembang di Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Sejarah kopi Toraja telah dimulai sejak akhir abad ke-17 ketika kopi mulai dibudidayakan di Indonesia. Berdasarkan catatan Key Coffee Inc., kopi Toraja pernah menjadi salah satu kopi bernilai tinggi yang banyak diminati kalangan kerajaan Eropa karena kelangkaan serta karakter cita rasanya.

Memasuki masa Perang Dunia II, kondisi perkebunan kopi di Toraja mengalami kemunduran. Banyak lahan perkebunan tidak lagi dikelola sehingga kopi Toraja perlahan menghilang dari pasar internasional dan hampir terlupakan.

Upaya menghidupkan kembali kopi Toraja dimulai pada April 1973 ketika Key Coffee Inc., yang sebelumnya bernama Kimura Coffee, mengirim salah satu eksekutifnya ke Sulawesi untuk menelusuri keberadaan kopi Toraja.

Perjalanan menuju kawasan perkebunan saat itu tidak mudah. Rombongan harus menggunakan jeep, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda hingga berjalan kaki untuk mencapai wilayah pegunungan Toraja.

Sesampainya di lokasi, sebagian besar perkebunan terlihat terbengkalai. Namun, masih terdapat petani lokal yang mempertahankan tanaman kopi Toraja dalam skala kecil sehingga menjadi titik awal kebangkitan kembali komoditas tersebut.

Temuan itu mendorong perusahaan menjalankan program regenerasi kopi Toraja dengan melibatkan masyarakat serta petani setempat agar budidaya kopi kembali berkembang.

PT Toarco Jaya kemudian resmi berdiri pada 1976 melalui kerja sama antara PT Utesco dari Indonesia dan Suladeco Ltd. dari Jepang.

Nama TOARCO merupakan singkatan dari Toraja Arabica Coffee, yang mencerminkan jenis kopi sekaligus daerah asalnya. Perusahaan tersebut kemudian memproduksi kopi Arabika berkualitas tinggi dari wilayah Toraja Utara.

Setahun kemudian, tepatnya pada 1977, nama Toarco Toraja Coffee resmi didaftarkan sebagai merek dagang. Pada tahun yang sama, fasilitas pengolahan kopi di Padamaran Farm mulai dibangun untuk mendukung proses produksi.


Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1978 ketika hasil produksi PT Toarco Jaya untuk pertama kalinya dikirim ke Jepang.

Setelah melalui proses cup testing dan dinilai memiliki kualitas yang memenuhi standar, produk tersebut dipasarkan secara resmi dengan nama TOARCO TORAJA.

Peluncuran produk di Jepang mendapat sambutan positif. Permintaan pasar bahkan disebut melampaui perkiraan awal sehingga semakin memperkuat posisi kopi Toraja di pasar internasional.

Untuk mendukung kebutuhan produksi, perusahaan juga mengembangkan perkebunan di Padamaran seluas sekitar 530 hektare sebagai salah satu pusat pengembangan kopi Toarco Toraja.

Perjalanan Toarco Toraja tidak hanya bertumpu pada perkebunan milik perusahaan. Sejak awal, perusahaan aktif melibatkan petani lokal melalui penyediaan bibit, pendampingan budidaya, serta pembukaan lapangan pekerjaan.

Hubungan dengan petani terus diperkuat melalui perluasan wilayah pembelian kopi dan pelatihan guna meningkatkan kualitas hasil panen. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga karakter khas kopi Toraja.

Dalam proses produksinya, perusahaan menerapkan pengawasan mutu sejak tahap pemetikan buah. Hanya buah kopi merah yang dipilih sebelum memasuki proses pengolahan basah, pengeringan, pengupasan kulit tanduk, pemisahan ukuran dan berat, hingga penyortiran secara manual.

Tahap akhir dilakukan melalui pengujian cita rasa untuk memastikan setiap produk memenuhi standar kualitas sebelum dipasarkan.

Selain menjaga mutu produk, perusahaan juga menerapkan pengelolaan perkebunan yang lebih ramah lingkungan. PT Toarco Jaya memperoleh sertifikasi Rainforest Alliance pada 2008 dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia pada 2016.

Hampir lima dekade setelah proses pengembangan kembali dimulai, Toarco Toraja tidak hanya dikenal sebagai produk kopi premium, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan kerja sama Indonesia dan Jepang dalam membangkitkan kembali kopi Toraja bersama masyarakat dan petani lokal.

Hingga kini, PT Toarco Jaya masih memproduksi kopi Arabika di Toraja Utara. Sejarah panjangnya menjadi bukti bahwa komoditas yang pernah hilang dari pasar dunia dapat kembali berkembang melalui kolaborasi perusahaan, petani, dan masyarakat setempat.