Magelang, Tandaglobal.news Lereng Gunung Merbabu telah lama menjadi salah satu kawasan penghasil kopi berkualitas di Jawa Tengah. Tanah vulkanik yang subur, udara pegunungan yang sejuk, serta ketinggian yang ideal menjadikan kawasan ini sebagai tempat tumbuhnya kopi dengan karakter rasa yang khas hingga dikenal di pasar nasional maupun internasional.

Meski kerap disebut sebagai Pabrik Kopi Merbabu, kawasan ini sejatinya tidak pernah memiliki pabrik pengolahan kopi bersejarah yang secara resmi menggunakan nama tersebut. Sebutan itu lebih merujuk pada sentra produksi dan pengolahan kopi yang berkembang di lereng Gunung Merbabu, mencakup wilayah Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Semarang.

Sejarah budidaya kopi di lereng Merbabu bermula pada abad ke-19 ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda memperluas perkebunan kopi ke berbagai dataran tinggi di Pulau Jawa untuk memenuhi permintaan ekspor ke Eropa.

Lereng Merbabu dipilih karena memiliki ketinggian antara 900 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut dengan tanah vulkanik yang kaya unsur hara sehingga sangat mendukung pertumbuhan tanaman kopi, terutama jenis arabika.

Berbeda dengan sejumlah perkebunan besar yang memiliki pabrik pengolahan sendiri, hasil panen kopi dari kawasan Merbabu pada masa kolonial umumnya dikirim ke fasilitas pengolahan milik perusahaan perkebunan di wilayah sekitar sebelum dipasarkan melalui Pelabuhan Semarang.

Sebagian besar kebun kopi di kawasan ini dikelola oleh masyarakat dan perkebunan skala menengah yang memasok hasil panennya ke tempat pengolahan yang telah tersedia sehingga tidak berkembang menjadi satu kompleks pabrik besar seperti di beberapa daerah lain di Jawa Tengah.

Perkembangan kopi Merbabu sempat mengalami kemunduran ketika pendudukan Jepang pada 1942 hingga 1945. Banyak lahan perkebunan dialihkan menjadi tanaman pangan sehingga produksi kopi menurun secara signifikan.

Setelah Indonesia merdeka, masyarakat kembali menanam kopi secara bertahap sebagai salah satu sumber mata pencaharian. Budidaya kopi terus berkembang seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap kopi berkualitas.

Memasuki dekade 1990-an, kopi Merbabu mulai memasuki babak baru. Para petani menerapkan sistem panen petik merah, memperbaiki proses pascapanen, serta meningkatkan pengendalian mutu sehingga kualitas biji kopi semakin baik dan mampu bersaing di pasar specialty coffee.

Perkembangan tersebut mengantarkan kawasan ini memperoleh perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Merapi Merbabu Magelang, sebuah pengakuan yang memperkuat identitas sekaligus menjaga mutu kopi yang dihasilkan dari kawasan tersebut.

Kopi Merbabu dikenal memiliki karakter rasa yang kompleks dengan nuansa karamel, madu, rempah, buah-buahan, herbal, floral, lemon, hingga sentuhan cokelat dan vanila. Karakter tersebut terbentuk dari perpaduan tanah vulkanik, iklim pegunungan, serta teknik budidaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini industri kopi di lereng Merbabu terus berkembang melalui kelompok tani, koperasi, UMKM, hingga pelaku usaha kopi spesialti. Produk yang dipasarkan pun semakin beragam, mulai dari green bean, roasted bean, hingga kopi bubuk yang telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan menembus pasar ekspor.

Perjalanan kopi Merbabu menjadi bukti bahwa kejayaan industri kopi Indonesia tidak selalu lahir dari keberadaan pabrik-pabrik besar. Kolaborasi para petani, kekayaan alam pegunungan, serta tradisi budidaya yang terus dijaga mampu melahirkan kopi berkualitas yang kini menjadi salah satu kebanggaan Jawa Tengah di pasar kopi dunia.