Bondowoso, Tandaglobal.news Di lereng Pegunungan Ijen, pada ketinggian sekitar 1.100 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, berdiri Pabrik Kopi Jampit, salah satu pabrik pengolahan kopi tertua di Indonesia yang hingga kini masih beroperasi. Bersama hamparan Kebun Kalisat/Jampit, kawasan ini menjadi saksi perjalanan panjang Java Coffee yang pernah mengharumkan nama Pulau Jawa di pasar dunia.

Sejarah Jampit tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perkebunan kopi di Jawa sejak akhir abad ke-17. Saat itu pemerintah kolonial Belanda membawa bibit kopi arabika dari Yaman untuk dibudidayakan di berbagai wilayah pegunungan yang memiliki iklim sejuk dan tanah vulkanik subur.

Memasuki abad ke-18, kopi Jawa menjadi salah satu komoditas ekspor utama melalui VOC. Permintaan yang terus meningkat membuat pemerintah kolonial memperluas perkebunan ke sejumlah daerah, termasuk wilayah Besuki yang kini menjadi bagian dari Bondowoso.

Potensi dataran tinggi Ijen mulai dilirik pada akhir abad ke-19. Suhu yang berkisar antara 17 hingga 20 derajat Celsius, curah hujan tinggi, serta tanah vulkanik yang kaya mineral menjadikan kawasan ini sangat ideal untuk menghasilkan kopi arabika berkualitas.

Pengembangan kawasan Ijen dipelopori oleh Gerhard David Birnie, pengusaha perkebunan Belanda yang pada dekade 1890-an membuka Perkebunan Blawan. Keberhasilan usaha tersebut mendorong perluasan perkebunan ke wilayah lain, termasuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Kalisat/Jampit.

Tonggak penting sejarah Jampit terjadi pada tahun 1927 ketika perusahaan David Birnie Administratie Kantoor mendirikan Perkebunan Kalisat/Jampit beserta pabrik pengolahannya. Pabrik ini dibangun menggunakan teknologi modern pada masanya untuk mengolah kopi arabika dengan metode washed process yang menghasilkan mutu ekspor.

Bangunan pabrik dirancang dengan arsitektur kolonial yang khas, mulai dari dinding tebal, ventilasi tinggi, hingga area fermentasi, pencucian, penjemuran, dan gudang penyimpanan. Sebagian besar bangunan utama tersebut masih bertahan hingga sekarang.

Pada masa kolonial, kawasan perkebunan dibagi ke dalam beberapa afdeling seperti Jampit, Sempol, Krepekan, Kampung Malang, dan Kampung Baru. Sistem administrasi yang tertata membuat proses budidaya, panen, hingga pengiriman hasil ke pabrik berjalan secara terorganisasi.

Dari pabrik inilah lahir kopi arabika yang dikenal memiliki karakter rasa floral, citrus, madu, dan karamel dengan tingkat keasaman yang seimbang. Kopi Jampit kemudian menjadi bagian dari reputasi besar Java Coffee yang diekspor ke Belanda, Jerman, Prancis, hingga berbagai negara Eropa.

Perjalanan Jampit tidak selalu berjalan mulus. Saat pendudukan Jepang pada 1942–1945, produksi kopi menurun akibat keterbatasan tenaga kerja, rusaknya jaringan transportasi, serta terhentinya jalur ekspor. Setelah Indonesia merdeka, kawasan perkebunan ini akhirnya dinasionalisasi pada 1957–1958 dan menjadi bagian dari perusahaan perkebunan negara.


Pada tahun 1996, pengelolaan Jampit berada di bawah PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Berbagai pembaruan dilakukan, mulai dari modernisasi mesin, peningkatan sistem sortasi, hingga penerapan standar mutu internasional tanpa menghilangkan bangunan bersejarah yang menjadi identitas kawasan.

Saat ini Kebun Kalisat/Jampit memiliki luas sekitar 3.105 hektare dengan sekitar 1.500 hektare ditanami kopi arabika. Kopi yang dihasilkan juga menjadi bagian dari produk Java Ijen-Raung Arabica yang telah memperoleh pengakuan Indikasi Geografis berkat perpaduan kondisi alam dan teknik budidaya yang khas.

Selain menjadi pusat produksi, Jampit juga berkembang sebagai kawasan warisan industri. Rumah administratur bergaya Indische, deretan rumah karyawan, gudang tua, hingga bangunan pabrik yang masih berfungsi menjadi daya tarik bagi peneliti, mahasiswa, maupun wisatawan yang ingin mengenal sejarah kopi Indonesia.

Hampir satu abad setelah berdiri, Pabrik Kopi Jampit tetap mempertahankan tradisi pengolahan kopi arabika berkualitas dari lereng Ijen. Keberadaannya bukan hanya menjaga warisan industri perkebunan kolonial, tetapi juga meneruskan nama besar Java Coffee yang sejak lama dikenal sebagai salah satu kopi terbaik dari Indonesia.