Cirebon, Tandaglobal.news — Di kawasan timur Kabupaten Cirebon, tepatnya di wilayah Sindanglaut yang kini secara administratif berada di Desa Sidamulya, Kecamatan Astanajapura, berdiri salah satu pabrik gula tertua di Jawa Barat yang masih bertahan hingga kini. Pabrik Gula Sindanglaut menjadi saksi perjalanan panjang industri gula Indonesia, mulai dari era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, nasionalisasi perusahaan, hingga kembali bangkit pada abad ke-21.

Pabrik Gula Sindanglaut didirikan pada 1830, bertepatan dengan diterapkannya kebijakan Cultuurstelsel atau Tanam Paksa oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Saat itu, wilayah Cirebon dipilih sebagai salah satu sentra pengembangan tanaman tebu karena memiliki lahan subur serta akses transportasi yang memadai menuju pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa.

Pabrik tersebut didirikan oleh Dr. William Denisson bersama menantunya, Joan Quarles van Ufford, sebagai bagian dari kontrak produksi gula dengan pemerintah kolonial Belanda.

Dalam dokumen kolonial, nama pabrik ini ditulis sebagai Sindanglaoet, mengikuti ejaan Belanda yang berlaku pada masa itu.

Sejak awal berdiri, pabrik dirancang untuk mengolah tebu dari perkebunan di sekitar Cirebon dan berkembang menjadi salah satu pusat industri gula terbesar di wilayah tersebut.

Bersama pabrik gula lain seperti Karangsuwung dan Tersana Baru, PG Sindanglaut turut menjadikan Cirebon sebagai salah satu daerah penghasil gula utama di Pulau Jawa sepanjang abad ke-19.

Memasuki masa setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870, sistem ekonomi kolonial mulai bergeser dari dominasi pemerintah menuju investasi swasta.

Pengelolaan PG Sindanglaut kemudian beralih kepada perusahaan perkebunan swasta Belanda, salah satunya NV Maatschappij tot Exploitatie der Suikeronderneming Sindanglaoet, yang didukung jaringan perusahaan dagang di Batavia.

Pada sekitar 1896, pabrik menjalani modernisasi besar melalui pemasangan mesin penggilingan, boiler, evaporator, serta peralatan kristalisasi gula yang lebih modern.

Pembaruan tersebut meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat posisi PG Sindanglaut sebagai salah satu pabrik gula penting di wilayah Cirebon.


Memasuki awal abad ke-20, PG Sindanglaut mencapai masa kejayaannya.

Hamparan perkebunan tebu membentang luas di kawasan Lemahabang, Astanajapura, hingga wilayah timur Cirebon.

Untuk menunjang distribusi hasil panen, perusahaan membangun jaringan lori dan rel kereta tebu yang menjadi ciri khas industri gula kolonial di Pulau Jawa.

Pada masa itu, pabrik tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi gula, tetapi juga menjadi penggerak utama roda perekonomian masyarakat.

Ribuan pekerja, mulai dari buruh kebun, operator mesin, teknisi, masinis, hingga tenaga administrasi menggantungkan penghidupan pada aktivitas pabrik.

Di sekitar kawasan industri kemudian berkembang permukiman, pasar, sekolah, serta berbagai fasilitas sosial yang menunjang kehidupan para pekerja dan keluarganya.

Gula hasil produksi PG Sindanglaut dipasarkan ke berbagai daerah di Hindia Belanda, bahkan sebagian diekspor melalui jaringan perdagangan kolonial ke pasar internasional.

Situasi berubah ketika Perang Dunia II meluas ke kawasan Asia.

Pada 1942, Jepang mengambil alih berbagai aset industri di Hindia Belanda, termasuk pabrik-pabrik gula.

Produksi gula menurun akibat terbatasnya suku cadang, bahan bakar, tenaga ahli, serta perubahan kebijakan ekonomi selama masa perang.

Meski sebagian mesin mengalami kerusakan, infrastruktur utama pabrik tetap dipertahankan sehingga memungkinkan kegiatan produksi kembali berjalan setelah Indonesia merdeka.


Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, pemerintah mulai mengambil alih perusahaan-perusahaan milik Belanda.

Proses nasionalisasi pada akhir 1950-an menjadikan PG Sindanglaut sebagai aset negara.

Dalam berbagai reorganisasi perusahaan perkebunan negara, pengelolaan pabrik beberapa kali mengalami perubahan kelembagaan.

PG Sindanglaut kemudian menjadi bagian dari PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan dikelola oleh PT PG Rajawali II bersama sejumlah pabrik gula lain di wilayah Cirebon dan Jawa Barat.

Selama beberapa dekade berikutnya, pabrik terus beroperasi sebagai salah satu penopang produksi gula di Jawa Barat.

Berbagai program modernisasi dilakukan melalui rehabilitasi mesin, peningkatan efisiensi penggilingan, serta penguatan kemitraan dengan petani tebu rakyat.

Produk utama yang dihasilkan adalah Gula Kristal Putih (GKP).

Sementara hasil samping berupa molasses atau tetes tebu dimanfaatkan sebagai bahan baku industri alkohol maupun pakan ternak.

Meski kapasitasnya tidak sebesar PG Jatitujuh maupun sejumlah pabrik gula besar di Jawa Timur, keberadaan PG Sindanglaut tetap memiliki arti penting sebagai salah satu pabrik gula tua di Jawa Barat yang mampu mempertahankan fungsi industrinya hingga era modern.

Pada 2020, aktivitas penggilingan sempat dihentikan akibat persoalan pasokan tebu, efisiensi produksi, serta kebutuhan restrukturisasi operasional.

Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa PG Sindanglaut akan bernasib sama seperti sejumlah pabrik gula kolonial lain yang berhenti beroperasi secara permanen.


Harapan baru muncul pada 2023 ketika ID FOOD bersama PT PG Rajawali II memutuskan mengoperasikan kembali PG Sindanglaut.

Penggilingan perdana musim tanam 2022–2023 dilaksanakan pada 11 Juli 2023 dan dihadiri Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Kembalinya operasional pabrik menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri gula di wilayah Cirebon.

Selain membuka kembali lapangan kerja, beroperasinya PG Sindanglaut turut menggerakkan kembali ekosistem pertanian tebu, sektor transportasi, perdagangan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Saat ini, kapasitas terpasang PG Sindanglaut mencapai sekitar 2.000 ton tebu per hari (TCD).

Peningkatan efektivitas penggilingan dan produksi gula terus dilakukan setiap musim giling guna memperkuat kontribusi terhadap industri gula nasional.

Selain memiliki nilai ekonomi, PG Sindanglaut juga menyimpan nilai sejarah yang tinggi sebagai saksi perkembangan industri gula Indonesia sejak era Tanam Paksa hingga masa modern.

Bangunan-bangunan tua, cerobong asap, rumah dinas, serta jejak jalur lori yang masih dapat ditemukan di sekitar kawasan pabrik menjadi bukti perkembangan teknologi industri gula selama hampir dua abad.

Keberadaan pabrik ini memperlihatkan bagaimana Cirebon pernah menjadi salah satu pusat industri gula terpenting di Jawa Barat.

Dari sebuah pabrik kolonial yang lahir pada 1830 hingga kini menjadi bagian dari Holding BUMN Pangan ID FOOD, PG Sindanglaut terus bertransformasi tanpa kehilangan identitas historisnya sebagai salah satu warisan industri gula Indonesia.