KEDIRI, Tandaglobal.news — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai membawa perubahan besar terhadap kehidupan generasi muda Indonesia. Di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul tantangan baru berupa melemahnya daya tahan karakter, kedisiplinan, dan rasa kebangsaan.
Pandangan tersebut disampaikan Kushartono, Ketua Harian Situs Rumah Persada Soekarno sekaligus pegiat budaya, menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurutnya, Generasi Z merupakan kelompok yang lahir dan tumbuh bersama internet sehingga memiliki karakter berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan baru dalam membangun nasionalisme.
“Generasi Z itu bukan generasi yang lemah. Mereka hanya menghadapi tantangan yang berbeda. Yang penting adalah bagaimana mereka mampu mengubah tantangan menjadi peluang, bukan dikalahkan oleh keadaan,” ujarnya.
Ia mengakui berbagai survei menunjukkan adanya kecenderungan menurunnya etos kerja, kedisiplinan, hingga daya tahan mental di kalangan generasi muda.
Namun, kondisi tersebut dinilai justru dapat menjadi peluang bagi lahirnya pemimpin-pemimpin baru dengan karakter kuat.
“Kalau mayoritas generasi mudah menyerah, maka mereka yang mampu bertahan akan menjadi pemenang dan calon pemimpin masa depan,” katanya.
Kushartono menilai persoalan utama generasi muda saat ini bukan terletak pada kemampuan intelektual.
Sebab, akses terhadap pengetahuan semakin luas melalui perkembangan teknologi.
Menurut dia, tantangan terbesar justru berada pada penguatan kecerdasan emosional dan spiritual.
“Anak-anak sekarang pintar. Informasi apa pun bisa diperoleh dalam hitungan detik. Tetapi rasa empati, kedisiplinan, dan karakter itulah yang harus diperkuat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa AI tidak dapat dijadikan penyebab utama atas berbagai persoalan yang muncul di masyarakat.
Teknologi, kata dia, hanya menjadi alat yang arah penggunaannya bergantung pada kualitas karakter manusia.
“Kalau benteng karakter seseorang kuat, maka teknologi tidak akan menyeretnya ke hal-hal negatif. Sebaliknya, kalau karakternya lemah, informasi apa pun bisa memengaruhinya,” jelasnya.
Selain itu, Kushartono mengingatkan bahwa media sosial memiliki kemampuan besar dalam membentuk opini publik secara cepat.
Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu maupun polarisasi.
Sebagai bentuk kontribusi dalam penguatan karakter, Situs Rumah Persada Soekarno mengembangkan laboratorium pendidikan karakter yang selama ini menjadi tempat belajar bagi pelajar SMP, SMA hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Melalui program tersebut, Kushartono berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang memiliki integritas, rasa kebangsaan, dan kepedulian sosial.
“Salam saya kepada Generasi Z, jadilah pribadi yang tangguh. Jangan kalah oleh keadaan. Jadikan tantangan sebagai kesempatan untuk tumbuh. Sebab, di tangan generasi inilah masa depan Indonesia akan ditentukan,” tutupnya.




















Tinggalkan Balasan