
Tandaglobal.news | Karanganyar — Kisah Karto dan Srintil menggambarkan cerita cinta sederhana yang berkembang di tengah kehidupan buruh tebu Pabrik Gula Tasikmadu pada akhir abad ke-19.
Pada akhir musim kemarau 1882, ladang tebu Tasikmadu menjadi tempat pertemuan dua anak muda yang bekerja di lingkungan perkebunan gula.
Karto, seorang tukang tebang berusia 22 tahun dari Ngijo, kerap menunggu Srintil, putri juru timbang yang biasa mengantarkan makanan untuk ayahnya.
Dalam kesehariannya, Karto dikenal sebagai pekerja yang cekatan ketika menebang tebu.
Namun, keberaniannya berubah ketika berhadapan dengan Srintil yang selalu membuatnya gugup.
Ketatnya aturan selama musim giling membuat para pekerja harus menjaga perilaku di lingkungan pabrik.
Mandor sering mengingatkan para buruh agar tidak berpacaran selama bekerja.
Karena itu, Karto dan Srintil menyampaikan perasaan melalui tanda-tanda sederhana yang mereka sebut sebagai bahasa tebu.
Setiap dini hari, Karto memilih batang tebu terbaik lalu membuat ukiran kecil berbentuk hati pada ruasnya.
Tebu tersebut kemudian diletakkan di lori paling belakang agar mudah dikenali oleh Srintil.
Sebagai balasan, Srintil meninggalkan daun sirih yang dibentuk menyerupai burung kecil di pematang yang biasa dilewati Karto.
Waktu berlalu dan hubungan keduanya semakin dekat meskipun berlangsung secara diam-diam.
Suatu sore, hujan turun dan membuat aktivitas pengangkutan tebu terhenti lebih awal.
Di bawah pohon waru dekat saluran irigasi, Karto dan Srintil akhirnya bertemu tanpa pengawasan siapa pun.
Dalam suasana tersebut, keduanya saling mengungkapkan perasaan yang selama ini mereka simpan.
“Mas Karto… tebu-tebu hati itu… tak simpen kabeh,” kata Srintil.
Karto menjawab, “Daun sirihmu uga tak simpen, Ning. Wangine… ngancani saben bengi.”
Pertemuan itu kemudian diketahui oleh R.M. Joyodipuro yang saat itu berkeliling memeriksa aliran irigasi dan memastikan para buruh pulang dengan aman setelah hujan.
Melihat keduanya, R.M. Joyodipuro memilih menyampaikan kisah tersebut kepada Kanjeng Gusti Mangkunegara IV.
“Gusti, kula mirsani loro nom-noman remen-remenan ing kebon tebu. Katone tulus,” ujar R.M. Joyodipuro.
Mangkunegara IV kemudian memberikan tanggapan dengan restu atas hubungan tersebut.
“Cinta itu seperti saluran air, Joyo. Bila jernih, biarkan mengalir. Besok beri mereka cuti dua hari. Dan… kirimkan sepasang selendang lurik sebagai restu dariku,” ujar Mangkunegara IV.
Dua minggu kemudian, Karto dan Srintil disatukan dalam upacara sederhana di pendapa kecil dekat klinik pabrik.
Dalam kisah tersebut, mas kawin mereka bukan berupa emas, melainkan gula cetak besar berbentuk hati.
Selendang lurik pemberian Mangkunegara, seikat tebu, dan lipatan sirih menjadi simbol perjalanan cinta mereka.
Tahun demi tahun berlalu, keduanya tetap mengenang awal pertemuan mereka setiap musim giling tiba.
Karto kembali membuat bentuk hati dari ruas tebu, sementara Srintil melipat daun sirih menjadi burung kecil.
Kisah mereka kemudian diwariskan oleh cucu-cicit sebagai cerita tentang cinta yang tumbuh dari lingkungan perkebunan gula Tasikmadu.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan