Tandaglobal.news | Sidoarjo — Pabrik Gula Toelangan menyimpan jejak sejarah yang kembali dikenal luas melalui kisah Sanikem atau Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam cerita tersebut, Sanikem digambarkan sebagai gadis berusia 14 tahun dari keluarga sederhana di Sidoarjo yang menjadi korban ambisi ayahnya sendiri.

Ayah Sanikem bekerja sebagai juru tulis di Pabrik Gula Toelangan pada sekitar tahun 1890-an.

Pada masa itu, jabatan kasir menjadi posisi yang dianggap bergengsi bagi seorang pribumi karena berkaitan dengan peningkatan status sosial.

Demi mendapatkan promosi tersebut, sang ayah menjadikan Sanikem sebagai gundik Herman Mellema, seorang administrateur pabrik gula asal Belanda.

Namun, janji kenaikan jabatan itu tidak pernah terwujud dan sang ayah tetap bekerja sebagai juru tulis.

Sementara itu, Sanikem harus menjalani kehidupan yang bukan menjadi pilihannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Sanikem kemudian berkembang menjadi Nyai Ontosoroh di bawah bimbingan Herman Mellema.

Ia digambarkan sebagai perempuan pribumi yang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan memperluas pengetahuan.

Nyai Ontosoroh menguasai bahasa Belanda, memahami laporan-laporan pabrik, serta mampu mengelola tanah, ternak, dan usaha.

Dari seorang nyai yang berada dalam posisi sosial rendah pada masa kolonial, ia tumbuh menjadi perempuan mandiri dan berwawasan luas.

Ia juga berhasil mengembangkan Buitenzorg, sebuah perusahaan pertanian dan peternakan di kawasan Wonokromo, Surabaya.

Kisah tersebut membuat banyak pembaca tertarik menelusuri hubungan antara dunia sastra Pramoedya Ananta Toer dengan jejak sejarah yang ada di dunia nyata.

Terlepas dari perdebatan mengenai unsur fiksi dan kenyataan sejarah dalam Bumi Manusia, keberadaan Pabrik Gula Toelangan menjadi salah satu lokasi yang sering dikaitkan dengan latar cerita tersebut.

Jejak Buitenzorg di Wonokromo kini sulit ditemukan karena perubahan kawasan perkotaan dan perjalanan waktu.

Namun, bangunan Pabrik Gula Toelangan dan rumah administrateur atau Besaran yang pernah menjadi bagian dari kompleks pabrik masih berdiri.

Saat menakhodai PTPN X yang mengelola PG Toelangan, saya dua kali berkunjung ke pabrik tersebut ketika sudah tidak lagi beroperasi.

Saat itu, kondisi PG Toelangan hanya menyisakan bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan panjang industri gula.

Saya menyusuri bangunannya dengan langkah perlahan sambil melihat setiap sudut peninggalan masa lalu tersebut.

Di depan rumah administrateur yang masih berdiri kokoh, bangunan utama pabrik terlihat dari kejauhan dengan kemegahan yang tersisa.

Dari teras belakang rumah itu, terlihat hamparan bekas kebun tebu yang kini telah mengalami perubahan fungsi.

Pemandangan tersebut menghadirkan kembali ingatan tentang masa ketika kawasan Toelangan menjadi bagian dari kehidupan industri gula kolonial.

Pabrik Gula Toelangan tidak hanya menyimpan cerita tentang produksi gula, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah kisah tentang perjuangan perempuan bernama Nyai Ontosoroh.

Meskipun merupakan tokoh dalam karya sastra, karakter Nyai Ontosoroh menggambarkan semangat untuk belajar, mandiri, dan menghadapi keterbatasan keadaan.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.