
Tandaglobal.news | Sidoarjo — Kisah pemogokan buruh di Pabrik Gula (PG) Tanggulangin pada musim giling tahun 1925 kembali menjadi perhatian setelah dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026).
Peristiwa tersebut mengangkat perjuangan para buruh yang menuntut perubahan kondisi kerja, terutama terkait jam kerja dan upah, hingga menyebabkan aktivitas produksi pabrik berhenti selama empat hari.
Pada Juli 1925, PG Tanggulangin yang berada di bawah pengelolaan Oei Tiong Ham Concern menjadi salah satu pusat industri gula di Jawa Timur.
Saat itu, perusahaan menargetkan produksi tahunan lebih dari 180.000 pikul gula sehingga kegiatan produksi selama musim giling memiliki nilai ekonomi yang besar.
Pabrik tersebut dipimpin oleh administratur H. J. Brouwer yang menerapkan disiplin produksi ketat untuk menjaga kelancaran proses pengolahan tebu menjadi gula.
Bagi manajemen pabrik, setiap penghentian mesin selama musim giling dapat menimbulkan kerugian karena keterlambatan pengolahan tebu berpengaruh terhadap kualitas rendemen dan hasil produksi.
Situasi berubah ketika pada suatu pagi di bulan Juli 1925 para buruh memilih menghentikan pekerjaan mereka.
Seorang buruh bernama Satim disebut maju mewakili rekan-rekannya untuk menyampaikan keberatan mengenai kondisi kerja yang mereka alami.
“Kami mogok. Jam kerja terlalu panjang. Upah tidak cukup untuk hidup,” ujar Satim sebagaimana dikisahkan dalam narasi yang beredar.
Aksi mogok tersebut berlangsung selama empat hari dan membuat kegiatan penggilingan tebu di PG Tanggulangin terhenti.
Jalur kereta pengangkut tebu yang biasanya mendukung aktivitas produksi disebut menjadi sepi selama aksi berlangsung.
Dalam narasi yang beredar, ribuan pikul gula disebut gagal diproduksi karena sebagian tebu terlambat masuk ke proses penggilingan.
Kerugian akibat penghentian produksi diperkirakan mencapai sekitar 3.500 pikul gula atau bernilai puluhan ribu gulden.
Kondisi tersebut kemudian mendorong pihak manajemen melaporkan situasi kepada kantor pusat perusahaan di Surabaya.
“Selama puncak musim giling, pemogokan buruh menyebabkan kerugian sekitar 3.500 pikul sehingga diperlukan langkah tegas untuk memulihkan keadaan,” demikian isi laporan yang dikutip dalam narasi tersebut.
Peristiwa itu kemudian diberitakan secara singkat oleh surat kabar kolonial De Locomotief pada edisi November 1925.
Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa aksi mogok buruh bumiputra di PG Tanggulangin sempat mengganggu kegiatan produksi sebelum keadaan kembali terkendali.
Setelah aparat kolonial turun ke lokasi, para buruh akhirnya kembali bekerja pada hari kelima.
Narasi tersebut menyebut sebagian tuntutan buruh mulai diakomodasi melalui penyesuaian jam kerja dan kenaikan upah harian dalam jumlah terbatas.
Langkah tersebut dilakukan agar kegiatan produksi pabrik dapat segera kembali berjalan.
“Sebagian tuntutan dipenuhi, tetapi penggerak aksi harus menerima konsekuensi yang berat,” demikian narasi tersebut menggambarkan akhir dari pemogokan.
Meski aktivitas pabrik kembali normal, Satim disebut tidak lagi bekerja di PG Tanggulangin setelah dianggap sebagai penggerak aksi mogok.
Ia dikisahkan dipecat tanpa kompensasi, sementara namanya disebut tidak tercantum dalam arsip perusahaan setelah peristiwa tersebut.
Kisah pemogokan buruh PG Tanggulangin menjadi gambaran mengenai dinamika hubungan industrial pada masa kolonial.
Perkembangan industri gula pada masa itu tidak hanya berkaitan dengan produksi dan keuntungan perusahaan, tetapi juga melibatkan kehidupan para pekerja yang berada di balik operasional pabrik.
Meski belum seluruh bagian cerita dapat diverifikasi sebagai catatan sejarah resmi, narasi tersebut menjadi bagian dari ingatan sejarah mengenai perjuangan buruh dalam industri gula di Jawa Timur.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan