Tandaglobal.news | Tulungagung — Kisah pembangunan jalur lori menuju Pabrik Gula (PG) Kunir kembali menjadi perhatian setelah dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026).

Cerita tersebut mengangkat memori pembangunan infrastruktur pabrik pada akhir dekade 1920-an yang menyisakan jejak sejarah di tengah masyarakat Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung.

Pembangunan jalur rel lori kala itu melintasi area pemakaman desa dan lapangan sepak bola yang menjadi ruang aktivitas warga.

PG Kunir dibangun pada 1928 oleh Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) sebagai salah satu pabrik gula modern di wilayah Tulungagung.

Pabrik tersebut mulai beroperasi pada 1930 dengan kapasitas giling sekitar 30.000 hingga 35.000 picol setiap musim.

Kehadiran industri gula saat itu disambut positif oleh masyarakat yang berharap terbukanya lapangan pekerjaan sekaligus meningkatnya perekonomian desa.

Pembangunan kompleks pabrik berlangsung sesuai rencana.

Mesin-mesin didatangkan dari Eropa.

Cerobong asap didirikan sebagai bagian dari fasilitas produksi.

Lokasi pabrik juga dipilih di atas tanah kas desa.

Persoalan kemudian muncul ketika perusahaan mulai merancang jalur rel lori untuk mengangkut tebu menuju pabrik.

Berdasarkan perencanaan teknis, jalur lurus dinilai sebagai lintasan paling efisien untuk mendukung operasional pengangkutan tebu.

Rute tersebut harus memotong dua kawasan sekaligus, yakni pemakaman desa dan lapangan sepak bola yang menjadi pusat kegiatan masyarakat.

“Jalur lurus dinilai sebagai rute paling cepat, paling hemat, dan paling efisien untuk mendukung operasional pabrik.”

Bagi masyarakat setempat, lapangan sepak bola bukan sekadar lahan terbuka.

Tempat itu menjadi ruang berkumpul warga, lokasi pertandingan antar-desa, sekaligus arena bermain anak-anak setiap sore.

Di sisi lain berdiri pemakaman desa yang menjadi tempat peristirahatan para leluhur.

Sebenarnya terdapat alternatif jalur lain yang tidak melewati kedua kawasan tersebut.

Namun jalur itu membutuhkan lintasan yang lebih panjang.

Pilihan tersebut dinilai akan meningkatkan biaya pembangunan rel, kebutuhan material, serta waktu tempuh lori.

“Secara teknis dan ekonomi, jalur lurus dianggap sebagai pilihan yang paling rasional meski harus melewati ruang yang memiliki nilai sosial bagi masyarakat.”

Pemerintah desa kemudian menggelar musyawarah bersama pihak perusahaan untuk membahas rencana tersebut.

Pertemuan itu dihadiri Administratur PG Kunir, Arie Gorzeman, beserta para teknisi perusahaan.

Dalam musyawarah tersebut, masyarakat menyampaikan keberatan atas rencana pembangunan rel yang melintasi makam dan lapangan desa.

Sesepuh desa, Mbah Sumo, menegaskan pentingnya menjaga area pemakaman sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Sementara seorang pemuda bernama Bedi mempertahankan keberadaan lapangan sepak bola yang telah lama menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Keberatan warga harus berhadapan dengan pertimbangan biaya serta perencanaan teknis yang telah disusun perusahaan.

Situasi berubah ketika Bupati saat itu, RMT Pringgodiningrat, turut hadir dalam pembahasan.

Kehadiran pemerintah daerah memperkuat pandangan bahwa keberlangsungan pabrik lebih diutamakan karena dinilai mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Pabrik berarti pekerjaan, dan pekerjaan berarti kehidupan masyarakat. Pertimbangan itulah yang akhirnya lebih diutamakan.”

Keputusan akhir menetapkan jalur lori tetap dibangun mengikuti lintasan lurus sesuai perencanaan awal.

Pembangunan rel tidak disertai pemindahan makam secara besar-besaran.

Pagar pemakaman digeser dan sejumlah pepohonan ditebang untuk memberi ruang bagi jalur rel.

Lapangan sepak bola pun terbelah oleh rel baja sehingga tidak lagi dapat dimanfaatkan seperti sebelumnya.

Saat lori pertama melintas pada musim giling 1930, masyarakat hanya menyaksikannya dari tepi rel tanpa sorak maupun protes.

Jalur lori tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang operasional PG Kunir.

Aktivitas pabrik selanjutnya meredup akibat krisis ekonomi yang melanda pada dekade 1930-an.

Kisah pembangunan jalur lori ini menjadi salah satu gambaran perkembangan industri gula pada masa kolonial di Hindia Belanda.

Cerita tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pada masa itu tidak jarang berhadapan dengan ruang sosial yang memiliki arti penting bagi masyarakat.

Hingga kini, kisah rel lori yang membelah pemakaman dan lapangan sepak bola masih dikenang sebagai bagian dari memori kolektif warga di sekitar kawasan bekas PG Kunir.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.