
Tandaglobal.news | Ngawi — Di balik padatnya aktivitas lori pengangkut tebu pada masa kejayaan industri gula kolonial, tersimpan kisah sederhana tentang cinta yang tumbuh di sebuah warung kecil di tepi rel Pabrik Gula Soedhono pada penghujung musim giling tahun 1928.
Menjelang akhir tahun 1928, kesibukan di Pabrik Gula Soedhono mulai mereda seiring berakhirnya musim giling.
Lori-lori yang sebelumnya hilir mudik mengangkut tebu menuju pabrik perlahan semakin jarang melintas.
Suasana Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, pun kembali tenang setelah berbulan-bulan dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas para pekerja.
Di salah satu sisi jalur lori berdiri sebuah warung sederhana milik keluarga Karsi.
Warung tersebut menjual pecel, nasi, dan kopi hitam yang menjadi tempat singgah para buruh pabrik serta awak lori untuk melepas lelah seusai bekerja.
Karsi setiap hari membantu kedua orang tuanya melayani para pelanggan yang datang silih berganti.
Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal, ia dikenal memiliki ingatan yang tajam terhadap setiap pelanggan.
Ia hafal siapa saja yang masih memiliki utang dan siapa yang selalu membayar tepat waktu.
Salah seorang pelanggan tetap warung itu adalah Djono, seorang juru api lori di Pabrik Gula Soedhono.
Setiap mampir, Djono hampir selalu memesan secangkir kopi hitam dan seporsi pecel.
Sesekali ia berutang, tetapi tidak pernah terlambat melunasi pembayaran setelah menerima upah mingguan.
Pada masa itu, lori merupakan sarana penting untuk mengangkut tebu dari kebun menuju pabrik sebelum memasuki proses penggilingan.
Keberadaan rel lori juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pabrik gula.
Suatu sore yang lengang ketika tidak ada lori melintas, Djono masih duduk menikmati secangkir kopi di warung tersebut.
Di balik meja, Karsi tampak membersihkan gelas sambil sesekali memperhatikan suasana yang mulai sepi.
Dalam keheningan sore itu, Djono akhirnya memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.
“Dik Karsi… kopi iki tanpa gula, nanging yen tak ombe karo ndelok kowe, rasane kok dadi legi temen,” ujar Djono sambil tersenyum.
Ucapan itu membuat Karsi menghentikan pekerjaannya sejenak sebelum membalas dengan senyum kecil.
Djono yang masih terlihat gugup kemudian melanjutkan perkataannya dengan maksud yang lebih serius.
“Tinimbang saben dina tuku pecel karo kopi nang kene, luwih becik yen upahku tak gawe mbayari, ben kowe sing masakno terus… saklawase,” lanjut Djono.
Karsi tidak langsung memberikan jawaban atas ungkapan tersebut.
Ia hanya tertawa kecil sambil menundukkan kepala sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Respons sederhana itu menjadi awal dari hubungan yang kemudian berkembang menuju ikatan yang lebih serius.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada awal tahun 1929, Djono dan Karsi melangsungkan pernikahan secara sederhana.
Setelah menikah, keduanya tetap menetap di Desa Tepas.
Warung keluarga tetap beroperasi seperti biasa untuk melayani para pelanggan.
Djono pun masih menjalankan pekerjaannya sebagai juru api lori di Pabrik Gula Soedhono.
Kisah tersebut menjadi potret kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitar industri gula pada masa kolonial Hindia Belanda.
Di balik kesibukan musim giling dan lalu lalang lori pengangkut tebu, tersimpan cerita tentang kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang yang tumbuh tanpa kemewahan.
Cerita ini juga mengingatkan bahwa sejarah pabrik gula tidak hanya meninggalkan bangunan tua, rel lori, maupun mesin-mesin produksi.
Jejak sejarah juga hidup melalui kisah-kisah kemanusiaan yang pernah tumbuh di lingkungan masyarakat sekitar.
Hingga kini, romansa Djono dan Karsi masih dikenang sebagai salah satu cerita sederhana yang lahir di tepian rel lori Pabrik Gula Soedhono dan menjadi bagian dari memori sosial masyarakat setempat.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan