KEDIRI, Tandaglobal.news — Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) terus memperkuat fondasi demokrasi melalui sosialisasi pendidikan politik bagi generasi muda. Kegiatan tersebut digelar di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, Jumat (23/10/2026).

Langkah ini dilakukan untuk membekali pemilih pemula dengan wawasan, keterampilan, dan kesadaran kritis agar tidak terjebak dalam praktik politik transaksional maupun disinformasi.

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Kediri, Yuli Marwantoko, menegaskan bahwa pendidikan politik bagi pemilih pemula memiliki makna lebih luas daripada sekadar mengenal nama partai politik atau figur tertentu.

“Pendidikan politik adalah proses sistematis untuk membekali warga negara, khususnya generasi muda, dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan agar mampu berpartisipasi aktif serta bertanggung jawab. Ini bukan tentang menghafal nama partai atau tokoh, melainkan tentang memahami prinsip-prinsip demokrasi, hak dan kewajiban warga negara, serta mekanisme pengambilan keputusan publik secara rasional,” ujar Yuli.

Dalam pemaparannya, Yuli menjelaskan pentingnya memahami UUD 1945, Pancasila sebagai landasan ideologis negara, serta Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. Menurutnya, pemahaman terhadap landasan hukum tersebut dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi.

“Kami ingin mendorong transformasi kesadaran masyarakat. Warga yang berpengetahuan adalah pilar utama demokrasi yang kuat, sehingga mereka tidak hanya mencoblos saat pemilu, tetapi juga mampu memilih pemimpin berkualitas, mengawal kebijakan publik, dan mengawasi jalannya pemerintahan,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Bakesbangpol Kabupaten Kediri juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi pemilih pemula di era digital. Tantangan itu meliputi penyebaran hoaks, rendahnya minat terhadap literasi dan riset politik, serta praktik politik uang yang dapat mencederai kualitas demokrasi.

“Tantangan terbesar kita hari ini adalah hoaks, misinformasi, serta praktik politik uang dan pragmatisme yang membuat pemilu cenderung transaksional, bukan berdasarkan visi dan program. Hal ini sangat berbahaya karena menghambat masyarakat untuk mengambil keputusan politik yang tepat,” tegas Yuli Marwantoko.

Menutup pemaparannya, Bakesbangpol Kabupaten Kediri berharap generasi muda tidak bersikap pasif, tetapi mengambil peran sebagai penggerak literasi digital dan agen perubahan di lingkungan sosial mereka.

“Generasi muda harus menjadi benteng pertahanan dengan cara mengkritisi informasi politik secara objektif, memverifikasi sumber berita sebelum membagikannya, serta aktif memanfaatkan media sosial untuk kampanye edukatif. Dengan kolaborasi berbagai pihak, pendidikan politik ini akan menjadi pondasi kokoh bagi terciptanya demokrasi yang bersih, kuat, dan berintegritas di Kabupaten Kediri,” pungkasnya.