


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika mereka harus menyewa mesin diesel secara mandiri dengan biaya tinggi, kini pasokan air sumber dapat mengairi lahan tanpa henti secara gratis.
Ancaman alih fungsi lahan dan krisis regenerasi membayangi senyum para petani yang tengah menyambut harga gabah yang cukup baik, mencapai Rp 750.000 per kuintal dengan potensi panen 6 ton per 600 ru.
Tersimpan kekhawatiran mendalam akan masa depan ruang hidup mereka.
Pertumbuhan perumahan dan bangunan permanen di sekitar area Gampengrejo perlahan namun pasti kian menggerus luasan lahan pertanian.
Palidi, yang awalnya mengelola hingga 2 hektare lahan, kini terpaksa mengembalikan separuh lahan sewaannya karena beban biaya operasional dan risiko merugi dari sistem bagi hasil (maro).
“Sewa lahan per 100 ru harganya Rp 3,2 juta per tahun. Kalau maro malah sering rugi. Sayangnya, lahan di sekitar perumahan juga kualitasnya menurun,” ungkapnya.
“Sawah yang berbatasan dengan rumah warga sering kali dibuangi sampah kotoran. Sangat mengganggu. Setiap hari saya harus turun tangan membersihkannya sendiri,” lanjut Palidi dengan nada prihatin.
Baidhowi pun memendam kecemasan yang sama. Sebagai rakyat kecil, ia merasa tak memiliki daya menahan laju alih fungsi lahan.
“Tanah pertanian sering dipatok untuk perumahan. Akhirnya petani mau ke mana? Lahan di sini kan sempit, tidak seperti di Sumatra atau Kalimantan,” tambahnya lirih.
Masalah lain yang tak kalah pelik adalah krisis regenerasi buruh tani. Pekerjaan agraris ini makin sepi peminat di kalangan anak muda.
Ketidakpastian musim dan penghasilan yang bergantung pada masa panen membuat generasi penerus lebih memilih terjun ke sektor konstruksi bangunan yang dinilai lebih menjanjikan dan rutin.
Di usianya yang terus menua, Palidi, Baidhowi, dan ribuan petani lainnya di Kediri tetap setia mencangkul harapan.
Di momen Hari Tani Nasional ini, potret mereka menjadi pengingat bahwa pahlawan pangan tak hanya butuh apresiasi, melainkan aksi nyata untuk menjaga ruang dan keberlanjutan hidup mereka di tanahnya sendiri.




















Tinggalkan Balasan