
KEDIRI, Tandaglobal.news — Peringatan Hari Tani Nasional 2026 di Kabupaten Kediri menjadi momentum untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mewujudkan swasembada pangan. Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) menggandeng Kepolisian Resor (Polres), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk mengamankan target produksi pertanian tahun ini.
Kepala Dispertabun Kabupaten Kediri, Sukadi, menegaskan kolaborasi tersebut diperlukan, terutama di tengah ancaman kemarau ekstrem.
Menurutnya, Kediri memegang peran vital sebagai salah satu daerah penyangga swasembada pangan nasional yang memproduksi komoditas strategis seperti padi, jagung, cabai, hingga tebu.
“Tahun 2026 ini, Kabupaten Kediri mendapatkan target tanam jagung seluas 57.000 hektare. Selain itu, target untuk tanaman padi berada di angka 53.500 hektare, cabai 7.000 hektare, dan tebu seluas 23.000 hektare—meningkat dari tahun sebelumnya seiring adanya program bongkar ratoon (peremajaan tanaman tebu),” jelas Sukadi dalam sambutannya pada acara peringatan Hari Tani Nasional di Kediri.
Musim kemarau menjadi tantangan bagi sektor pertanian saat ini.
Untuk mengantisipasi gagal panen, Pemkab Kediri telah merumuskan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya mengamankan pasokan air melalui penyediaan infrastruktur irigasi.
Sukadi memaparkan, pihaknya secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.
Hasilnya, Kediri mendapatkan alokasi bantuan berupa 251 titik sumur submersible yang didistribusikan langsung kepada kelompok tani.
Selain itu, pemerintah juga merencanakan pendistribusian 245 unit pompa air dalam waktu dekat.
“Untuk daerah pegunungan atau dataran tinggi yang rawan air bersih, kami bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengebor sumur dengan kedalaman di atas 40 meter. Selain itu, kami juga memfasilitasi petani dengan barcode agar mereka mudah mendapatkan solar dan bensin bersubsidi untuk menggerakkan pompa air,” tambahnya.
Dari sisi bantuan sarana produksi (saprodi), pemerintah telah mendistribusikan 250 ton benih jagung gratis.
Pemkab juga proaktif melakukan realokasi pupuk dari daerah yang penyerapannya rendah untuk ditarik ke Kediri.
Bulan ini, Kediri mendapat tambahan 1.500 ton pupuk NPK dan 1.450 ton pupuk ZA.
Langkah pemerintah tersebut mendapat respons positif dari para petani di lapangan.
Agung Prihandono, petani jagung asal Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, mengaku bantuan dari pemerintah mengalir lancar tanpa kendala.
“Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala. Mulai dari alat mesin pertanian (alsintan) hingga pupuk, semuanya aman. Kelompok kami bahkan sudah dapat dua traktor,” ungkap Agung Prihandono.
Agung Prihandono yang menggarap lahan seluas 1 hektare ini menyebutkan, meski kemarau membuat debit air sumur berkurang sehingga ia harus memperdalam sumur, kondisi tersebut terbayar dengan harga jual panen yang sedang meningkat.
“Dalam setahun kami bisa panen tiga kali. Kebetulan harga jagung saat ini malah naik, lebih bagus dari tahun-tahun kemarin,” ujarnya semringah.
Meski demikian, Agung Prihandono menyimpan kekhawatiran terkait masa depan pertanian di desanya.
Ia menyoroti fenomena alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan serta minimnya minat generasi muda untuk turun ke sawah.
“Kekhawatiran itu pasti ada, lahan semakin berkurang. Selain itu, generasi mudanya juga kurang minat sama pertanian, kebanyakan petani usianya sudah tidak produktif. Tapi kami terus berupaya, kalau ada pertemuan-pertemuan kelompok tani, yang muda-muda ini kami ajak kumpul bareng agar mau terjun ke pertanian,” tutup Agung Prihandono.
Peringatan Hari Tani Nasional di Kediri tahun ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan petani diperlukan dalam menghadapi tantangan pertanian demi menjaga kedaulatan pangan bangsa.




















Tinggalkan Balasan