Karena itu, pihaknya bersama CV Kembang Rosan Abadi berencana melakukan uji coba pola tanam dengan jarak sekitar 140 sentimeter pada lahan milik CV Kembang Rosan Abadi.

Uji coba tersebut nantinya akan diamati untuk mengetahui kondisi jarak tanam setelah tanaman memasuki usia dua hingga tiga tahun.

Hasilnya diharapkan dapat menjadi contoh bagi petani dalam menentukan pola budidaya yang lebih sesuai dengan kebutuhan mekanisasi.

“Jarak tanam ini berkaitan dengan pascapanen. Nanti akan memudahkan pada saat perawatan, terutama ketika daun tebu sudah waktunya di-klebet,” jelasnya.

Danang menilai jarak tanam yang lebih rapat tidak otomatis menjamin rendemen tebu menjadi lebih tinggi.

Karena itu, pola budidaya perlu dikaji secara menyeluruh agar produktivitas tanaman dan efisiensi pekerjaan dapat berjalan beriringan.

“Kami mengajak bagaimana dari CV Rosan itu merubah pola budidaya menjadi lebih baik untuk pertanian yang berkelanjutan, supaya rendemen tebu sesuai dengan yang diharapkan pabrik gula maupun Kementerian Pertanian,” ujarnya.

Ia menambahkan, teknologi yang tersedia saat ini memungkinkan mekanisasi diterapkan dalam rangkaian proses pertanian, mulai dari pengolahan tanah, budidaya, perawatan hingga panen.

Tantangannya adalah bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara tepat sesuai kondisi lahan dan kebutuhan petani.

Kolaborasi dengan CV Kembang Rosan Abadi di Kediri diharapkan menjadi salah satu contoh penerapan teknologi sekaligus pola budidaya yang dapat dipelajari petani.

Jika hasilnya sesuai, konsep tersebut diharapkan dapat dikembangkan lebih luas di Jawa Timur.

Langkah tersebut juga sejalan dengan kebutuhan meningkatkan produktivitas tebu di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat produksi gula nasional.

Bagi petani, penerapan mekanisasi diharapkan tidak hanya menggantikan pekerjaan manual, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan menciptakan pola usaha tani yang lebih berkelanjutan.