
KEDIRI, Tandaglobal.news — Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan mesin dalam sektor pertanian, kerajinan pande besi tradisional masih bertahan di Dusun Parerejo, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Salah satunya ditekuni Palal (75), yang telah menjalankan usaha pembuatan alat pertanian secara mandiri sejak 1974.
Selama puluhan tahun, Palal tetap mempertahankan cara tradisional dalam membuat berbagai peralatan pertanian.
Arit untuk menebang tebu, arit rumput, cangkul, hingga pisau dengan bentuk khusus sesuai permintaan pelanggan dibuat menggunakan keterampilan tangan.
Seluruh proses pengerjaan dilakukan secara manual tanpa mengandalkan mesin.
Besi dipanaskan menggunakan arang kayu jati, kemudian ditempa dan dibentuk secara bertahap hingga menjadi alat yang siap digunakan.
Palal mengatakan, mempertahankan cara tradisional bukan semata-mata karena keterbatasan teknologi.
Menurutnya, pengerjaan secara manual membuat bentuk dan ketajaman alat dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan.
“Kalau dikerjakan manual, bentuknya bisa mengikuti permintaan orang. Mau arit untuk tebu, untuk rumput, atau alat lainnya bisa disesuaikan,” ujar Palal, Rabu (2/9/2026).
Dalam sehari, Palal rata-rata mampu menyelesaikan sekitar dua hingga tiga buah arit.
Lama proses penempaan bergantung pada ukuran dan ketebalan besi yang digunakan.
Menurutnya, kualitas bahan menjadi salah satu hal yang tidak bisa dikompromikan.
Ia lebih memilih menggunakan besi yang dinilai memiliki kualitas baik agar alat yang dihasilkan kuat dan dapat digunakan dalam waktu lama.
“Saya tidak asal membuat. Bahannya harus bagus supaya hasilnya juga bagus dan awet. Kalau bahannya tidak sesuai, saya tidak berani menerima karena yang penting pembeli puas dan alatnya benar-benar bermanfaat,” katanya.
Meski berbagai alat pertanian modern semakin mudah ditemukan, peralatan manual hasil pande besi masih memiliki pelanggan tersendiri.
Sejumlah pekerjaan pertanian masih membutuhkan alat sederhana yang dapat digunakan secara langsung tanpa bergantung pada mesin.
Palal juga mengatakan permintaan terhadap produknya mengikuti musim pertanian.
Ketika memasuki musim tebang tebu, misalnya, kebutuhan terhadap arit tebang biasanya ikut meningkat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dirinya masih mempertahankan usaha yang telah dijalani selama lebih dari lima dekade.
Selain memenuhi kebutuhan masyarakat, keahlian membuat pande besi juga menjadi keterampilan yang menurutnya perlu tetap dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Selama masih ada yang membutuhkan, saya tetap membuat. Pekerjaan ini sudah saya jalani sejak dulu. Walaupun sekarang zaman sudah modern, alat seperti ini masih diperlukan,” ungkapnya.
Bagi Palal, pande besi bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan.
Ketelitian, kesabaran, dan kecermatan menjadi bagian penting dalam menghasilkan peralatan yang dapat digunakan dengan baik.
Ia juga tidak mengejar jumlah produksi dalam skala besar.
Usahanya lebih banyak melayani pelanggan yang datang secara langsung dan menerima pesanan sesuai kebutuhan.
Prinsip tersebut membuat proses produksi berjalan secara perlahan, tetapi tetap mengutamakan kualitas.
Setiap alat diperiksa dan dibentuk dengan cermat sebelum diserahkan kepada pembeli.
Di tengah perkembangan teknologi, keberadaan pande besi seperti milik Palal menjadi gambaran bahwa keterampilan tradisional masih memiliki tempat di masyarakat.
Selama kebutuhan terhadap alat pertanian manual tetap ada, tradisi menempa besi dengan tangan pun masih memiliki alasan untuk terus dipertahankan.




















Tinggalkan Balasan