

KEDIRI, Tandaglobal.news — Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Plosoklaten menggelar festival ecoprint dengan teknik pounding yang melibatkan anak dan ibu. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk melatih kreativitas sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak melalui aktivitas bersama, Senin (31/8/2026).
Ketua HIMPAUDI Kecamatan Plosoklaten, Muassisa Tullut Fiyah, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan ruang kepada ibu dan anak untuk berkegiatan bersama.
Menurutnya, kesibukan orang tua dalam bekerja terkadang membuat waktu bersama anak menjadi terbatas.
“Tujuan kegiatan ini untuk melatih kreativitas ibu dan anak sekaligus merekatkan kembali kebersamaan mereka. Momen seperti ini penting agar orang tua dan anak dapat memiliki waktu untuk berkegiatan bersama,” ujar Muassisa.
Festival tersebut diikuti sebanyak 283 pasangan ibu dan anak. Jika ditambah dengan guru yang hadir, jumlah peserta dan tamu yang mengikuti kegiatan mencapai sekitar 600 orang.
Peserta berasal dari berbagai desa dalam satu wilayah Kecamatan Plosoklaten, di antaranya Sepawon, Dusun Kalasan, Desa Jarak, dan Sumberagung.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah pihak sebagai bentuk kolaborasi, seperti IGTK, Bunda PAUD desa, Bunda PAUD Kecamatan Plosoklaten, serta PKG.
Muassisa menjelaskan, kegiatan ecoprint dengan teknik pounding tersebut merupakan agenda yang baru pertama kali dilaksanakan.
Pada tahun sebelumnya, HIMPAUDI Kecamatan Plosoklaten menggelar kegiatan menggunakan media clay yang mengajak anak dan orang tua membuat berbagai bentuk dari bahan tersebut.
Dalam kegiatan ecoprint, peserta memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam, terutama daun yang memiliki kandungan getah tertentu.
Setiap peserta membawa bahan dari rumah sehingga hasil karya yang dibuat memiliki variasi sesuai dengan bahan yang ditemukan di lingkungan masing-masing.
Selain menjadi kegiatan untuk mengembangkan kreativitas, ecoprint juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Hasil karya dapat diterapkan pada kain dan kemudian diolah menjadi berbagai produk, termasuk pakaian. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh peserta dapat dipraktikkan kembali di rumah.
Panitia menilai hasil karya peserta berdasarkan beberapa aspek, yaitu kreativitas, kekompakan ibu dan anak, serta variasi hasil ecoprint.
Peserta juga didorong untuk mengeksplorasi berbagai bentuk dari bahan alam, tidak hanya menggunakan motif daun, tetapi juga dapat menghasilkan bentuk seperti bunga.
Muassisa berharap kegiatan tersebut dapat membuat anak semakin kreatif dalam melihat dan memanfaatkan lingkungan di sekitarnya.
Anak diharapkan mampu memahami bahwa bahan-bahan yang ada di alam tidak hanya memiliki fungsi sebagai bagian dari tumbuhan, tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi sebuah karya.
“Harapannya, anak-anak semakin kreatif dan dapat melihat bahwa apa yang ada di lingkungan sekitar bisa dimanfaatkan menjadi sebuah karya,” pungkasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan trofi dan piagam bagi peserta yang berhasil meraih penghargaan dalam festival tersebut.




















Tinggalkan Balasan