BANDUNG, TandaGlobalNews — Nama Walini memiliki posisi unik dalam sejarah industri teh Jawa Barat karena digunakan untuk menyebut produk teh PTPN VIII sekaligus berkaitan dengan fasilitas pengolahan teh CTC di kawasan Rancabali. Karena itu, sejarah Pabrik Teh Walini perlu dibedakan dari sejarah merek Teh Walini.
Akar fasilitas Walini berada di kawasan Rancabali, Kabupaten Bandung. Sejarah Kebun Rancabali bermula dari perkebunan yang berkembang sejak masa kolonial. Kawasan tersebut kemudian mengalami nasionalisasi setelah Indonesia merdeka dan masuk dalam sistem perusahaan perkebunan negara.
Perubahan penting terjadi pada dekade 1970-an. Pada 2 Mei 1974, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Pabrik Teh Rancabali oleh Direksi PTP XII. Kebun Rancabali kemudian terbentuk pada 1975 melalui penggabungan Kebun Rancasuni dengan sebagian areal Sinumbra dan Rancabolang. Pabrik tersebut kemudian diresmikan pada 7 Juli 1976.
Rancabali kemudian mengalami modernisasi teknologi. Pada 1985, pabrik teh Orthodox Rancasuni direnovasi dan diubah menjadi fasilitas pengolahan dengan sistem CTC. Pada 1986, fasilitas tersebut berganti nama menjadi Pabrik Teh Hitam CTC Walini dan mulai beroperasi.
Perubahan dari Orthodox ke CTC merupakan bagian dari perkembangan industri teh dunia. Teknologi CTC memungkinkan pengolahan daun teh secara mekanis melalui proses crushing, tearing and curling. Hasilnya berupa partikel teh yang lebih kecil dan seragam.
Perubahan teknologi tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan pasar. Teh hitam CTC banyak digunakan sebagai bahan teh celup dan untuk berbagai produk teh yang membutuhkan ukuran partikel lebih seragam.
Sementara itu, nama Walini kemudian berkembang menjadi merek komersial PTPN VIII. Dokumentasi PTPN VIII menyebut Industri Hilir Teh (IHT) perusahaan menghasilkan teh dengan merek Walini dan Goalpara, selain memenuhi pesanan ekspor dalam bentuk loose leaf maupun teh kemasan.
Merek Walini mulai diproduksi pada awal 2000-an. Sumber akademik mengenai pemasaran produk PTPN VIII mencatat bahwa Teh Walini mulai diproduksi pada 2003. Jadi, tahun 2003 lebih tepat dipahami sebagai tonggak perkembangan merek Teh Walini, bukan tahun pembangunan pabrik CTC Walini.
Pada 3 Agustus 2010, PTPN VIII juga meresmikan Walini Tea Gallery di Bandung. Tempat tersebut menjadi sarana memperkenalkan produk-produk Teh Walini dan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai proses pengolahan teh.
Sejarah Walini dengan demikian memiliki dua jalur yang saling berkaitan. Jalur pertama adalah sejarah fasilitas industri di Rancabali, yang berawal dari pabrik Rancabali dan kemudian dimodernisasi menjadi pabrik CTC Walini. Jalur kedua adalah perkembangan merek Walini sebagai produk hilir PTPN VIII.
Perkembangan kelembagaan perusahaan kembali berubah pada 1 Desember 2023. Dalam restrukturisasi PTPN Group, PTPN VIII digabung ke dalam PTPN I sebagai bagian dari Subholding SupportingCo.
Karena itu, penyebutan Walini pada masa sekarang harus dilakukan secara hati-hati. Walini bukan sekadar nama sebuah pabrik, tetapi juga identitas produk teh yang lahir dari jaringan perkebunan dan industri hilir PTPN.
Sejarah Walini menunjukkan bagaimana industri teh Jawa Barat berusaha mempertahankan daya saing melalui modernisasi teknologi, pengembangan merek, penguatan industri hilir, dan perluasan pasar.
Dari Rancabali, modernisasi CTC pada 1980-an, hingga pengembangan merek Walini pada era 2000-an, nama tersebut menjadi salah satu simbol kesinambungan industri teh perkebunan negara di Jawa Barat.




















Tinggalkan Balasan