KEDIRI, Tandaglobal.news Musim kemarau membawa persoalan tersendiri bagi para peternak di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Mengeringnya rumput liar dan berkurangnya pakan hijauan membuat peternak semakin bergantung pada tebon jagung sebagai pakan utama ternak.

Berdasarkan pantauan pada Kamis (20/8/2026), peternak lebih memilih tebon jagung yang masih hijau dan segar.

Meski di sejumlah lokasi masih tersedia tebon berwarna kuning atau mulai mengering, pakan tersebut kurang diminati karena dinilai memiliki kualitas yang tidak sebaik tebon hijau.

Wakino (70), salah seorang peternak setempat, mengatakan kondisi kemarau membuat ketersediaan rumput di sekitar permukiman semakin terbatas.

Karena itu, tebon jagung menjadi salah satu pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.

“Kalau musim kemarau seperti ini, rumput sudah susah. Yang dicari sekarang tebon yang masih hijau dan segar. Kalau yang sudah kuning atau kering, peternak biasanya kurang berminat,” ujarnya.

Tebon merupakan bagian tanaman jagung yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak, seperti batang, daun, dan bagian tanaman lainnya.

Tebon hijau lebih banyak dicari karena masih memiliki kadar air dan dinilai lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.

Tingginya permintaan terhadap tebon segar membuat peternak harus menunggu kedatangan pasokan berikutnya.

Sebagian peternak bahkan memilih memesan lebih awal atau mengantre agar tidak kehabisan.

Sutomo, peternak lainnya di Dusun Dorok, mengatakan ketersediaan tebon sebenarnya masih ada.

Namun, banyak tanaman yang kondisinya sudah menguning akibat cuaca panas dan kekeringan.

“Stok sebenarnya ada, tetapi banyak yang sudah kuning atau garing. Peternak lebih memilih menunggu kiriman berikutnya supaya mendapatkan tebon yang masih hijau,” katanya.

Kondisi tersebut juga berdampak pada meningkatnya pengeluaran peternak.

Kebutuhan pakan yang harus dipenuhi setiap hari membuat biaya operasional ikut bertambah, terutama bagi peternak yang harus membeli tebon secara rutin dari pemasok.

Selain itu, peternak semakin bergantung pada pedagang atau pemasok pakan yang mendatangkan tebon dari daerah lain.

Pasokan tersebut berasal dari wilayah yang masih memiliki tanaman jagung dan akses air lebih baik.

Menurut para peternak, kondisi ini menjadi tantangan yang hampir selalu muncul ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang.

Mereka berharap ketersediaan pakan hijauan kembali membaik ketika musim hujan tiba.

Situasi tersebut juga menunjukkan pentingnya persiapan cadangan pakan bagi peternak.

Pengolahan pakan awetan, seperti silase, maupun penyimpanan hijauan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga ketersediaan pakan saat rumput dan tanaman hijau sulit ditemukan.

Bagi peternak di Dusun Dorok, mendapatkan tebon hijau saat musim kemarau kini bukan sekadar soal membeli pakan.

Mereka juga harus bersabar menunggu pasokan datang demi memastikan kebutuhan ternak tetap terpenuhi.