Selama bertugas di wilayah perbatasan, para prajurit harus menahan rindu, melewatkan berbagai momen bersama keluarga, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi.

“Ada rindu yang harus ditahan, momen-momen keluarga yang dilewatkan, anak yang tumbuh tanpa bisa setiap hari dipeluk ayahnya, dan keluarga yang terus merapal doa dari kejauhan. Itulah konsekuensi dari sebuah kehormatan bernama pengabdian,” tuturnya.

Ia menilai, di balik seragam TNI terdapat keberanian, ketulusan, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Pengalaman yang diperoleh selama menjaga perbatasan RI-Papua Nugini juga menjadi bekal berharga untuk menghadapi penugasan berikutnya.

Vinanda berharap seluruh prajurit terus menjaga profesionalisme, ketangguhan, serta kedekatan dengan masyarakat dalam setiap pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Teruslah menjadi prajurit yang profesional, tangguh, dicintai rakyat, serta selalu menjunjung tinggi Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI. Selamat berkumpul kembali dengan keluarga. Peluklah keluarga yang selama ini menunggu dengan penuh kerinduan,” ungkapnya.