
TandaGlobalNews TELUK BINTUNI, 1 Juni 2026 – Pemerintah pusat terus mempercepat pemerataan kualitas pendidikan hingga ke wilayah paling timur Indonesia. Sebanyak sepuluh satuan pendidikan di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, kini telah memiliki wajah baru dan fasilitas yang jauh lebih layak. Program revitalisasi yang digulirkan pada tahun 2025 dengan total anggaran senilai Rp17,5 miliar telah rampung 100 persen pada akhir Mei 2026 lalu.
Komitmen pemerintah tidak berhenti di situ. Pada tahun 2026 ini, jangkauan pembangunan mengalami peningkatan signifikan, di mana 25 satuan pendidikan telah masuk dalam perjanjian kerjasama revitalisasi dengan alokasi anggaran menembus lebih dari Rp20,7 miliar. Angka ini membuktikan bahwa dalam kurun waktu satu tahun, cakupan program pembangunan sekolah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Pencapaian ini merupakan wujud nyata pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Pembangunan difokuskan melalui mekanisme swakelola yang efektif dan melibatkan partisipasi masyarakat lokal, sehingga pengerjaan berjalan cepat, tepat sasaran, dan menyerap tenaga kerja setempat.
Di balik deretan angka dan nilai anggaran tersebut, tersimpan kisah panjang penantian dan harapan yang akhirnya terjawab. Seperti yang dialami oleh SD Negeri 1 Bintuni Timur. Dengan jumlah 149 siswa dan 15 guru, sekolah ini harus menunggu selama tiga puluh tahun lamanya untuk mendapatkan perbaikan layak. Kepala Sekolah, Nirmawati, mengaku telah berkali-kali mengajukan permohonan namun sering berakhir dengan kekecewaan.
Namun, penantian panjang itu kini terbayar lunas. Dua bangunan baru telah kokoh berdiri di halaman sekolahnya: ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) dan fasilitas toilet yang layak pakai.
“Setelah hadir bangunan baru di sekolah kami, siswa dan guru-guru merasa sangat senang dan nyaman berada di sekolah. Kini sudah ada tempat untuk buang air dan tempat istirahat atau berobat ketika merasa kurang sehat saat jam belajar,” ujar Nirmawati dengan mata berbinar penuh haru.
Menurutnya, suasana belajar mengajar kini jauh lebih lancar dan kondusif. Siswa tidak perlu lagi keluar lingkungan sekolah hanya untuk mencari pertolongan pertama saat sakit. Ia pun berharap di tahap revitalisasi selanjutnya, sekolahnya bisa mendapatkan tambahan fasilitas berupa laboratorium komputer lengkap dengan perangkat pendukungnya.
Kisah serupa juga dirasakan di wilayah kepulauan yang terisolasi. SMA Negeri Babo, yang hanya bisa dijangkau menggunakan kapal atau perahu, telah menunggu perbaikan selama sepuluh tahun. Kepala Sekolah, Slamet Riyadi, mengaku pernah hampir putus asa karena berbagai proposal yang dikirimkan belum membuahkan hasil. Namun, program revitalisasi kali ini membawa jawaban yang melebihi ekspektasi. Sebanyak tujuh bangunan baru disetujui dan dibangun untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Program revitalisasi ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya negara memastikan anak-anak di Teluk Bintuni mendapatkan hak pendidikan yang setara dengan wilayah lain di Indonesia, membuka peluang masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus di tanah Papua.
Sumber: Kemendikdasmen