Kediri, TandaGlobalNews –Kepergian Tri Sutrisno (30) dan adiknya, Aditya Firmansyah (20), dari Dusun Nanas, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, awalnya merupakan perjalanan untuk bekerja sekaligus mencari pengalaman. Namun, perjalanan keduanya menuju Banjarmasin kini berubah menjadi penantian panjang bagi keluarga.

Tri yang telah lama bekerja sebagai sopir tronton mengajak Aditya untuk ikut sebagai kernet. Aditya, lulusan SMA Al Wahid Kepung, baru sekitar dua bulan mengikuti pekerjaan tersebut. Keduanya berangkat membawa muatan paket ekspedisi menuju Banjarmasin dan harus menyeberangi laut menggunakan Kapal Virgo Transport 8.

Bagi keluarga, kedekatan keduanya menjadi alasan tersendiri mengapa Aditya akhirnya memilih ikut bersama kakaknya. Dalam keseharian, Tri dan Aditya memang dikenal sering berkumpul dan sudah cukup akrab.

“Aditya memang ingin ikut kakaknya untuk mencari pengalaman. Karena mereka sehari-hari dekat dan sering berkumpul, kami sebagai orang tua percaya kalau dia ikut bersama kakaknya,” ujar Ratna Sri Astutik, ibu Aditya, Senin (14/9/2026).

Aditya dikenal sebagai anak yang pendiam. Meski begitu, sebelum keberangkatan ia sempat bercerita kepada keluarganya mengenai kegemarannya menaiki kapal. Perjalanan tersebut menjadi kali kedua bagi Aditya menyeberangi laut setelah sekitar dua bulan menjalani pekerjaan sebagai kernet.

Sementara itu, Tri sudah lebih lama menjalani pekerjaan sebagai sopir tronton. Keinginan Aditya untuk ikut disebut bukan semata-mata karena pekerjaan, tetapi juga untuk mendapatkan pengalaman dengan mendampingi kakaknya dalam perjalanan.

Keduanya berangkat dari rumah pada Jumat sekitar pukul 11.00 WIB menggunakan bus. Pada sore hingga menjelang Magrib, mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk bergabung dalam perjalanan menggunakan truk tronton yang membawa muatan ekspedisi.

Komunikasi terakhir keluarga dengan Aditya terjadi pada Jumat sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah perjalanan memasuki wilayah laut, komunikasi kemudian terputus. Sekitar pukul 02.00 WIB pada Sabtu dini hari, keluarga mulai tidak mendapatkan kabar, hingga sekitar pukul 04.00 WIB masih belum ada informasi dari keduanya.

Kabar mengenai musibah kapal tersebut kemudian diterima keluarga melalui rekan kerja bernama Bayu dan informasi yang beredar melalui siaran langsung media sosial. Pada awalnya, keluarga belum mengetahui kapal yang mengalami musibah tersebut merupakan kapal yang ditumpangi Tri dan Aditya.

“Awalnya kami belum tahu kapal yang ditumpangi mereka. Setelah informasi terus berkembang dan diketahui kapal yang mereka naiki ternyata kapal yang dikabarkan mengalami musibah, kami langsung semakin khawatir,” tutur Ratna.

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, kapal tersebut membawa 243 penumpang. Sebanyak 113 orang disebut telah ditemukan selamat, enam orang meninggal dunia, sedangkan 130 orang lainnya masih dalam pencarian. Proses pencarian masih berlangsung dengan melibatkan dua kapal evakuasi.

Keluarga kini masih menunggu perkembangan dari tim pencarian maupun pihak berwenang. Harapan mereka tidak hanya tertuju kepada Aditya, tetapi juga Tri yang sejak awal berangkat bersama sebagai kakak dan adik.

“Harapan kami Tri dan Aditya segera ditemukan. Apa pun kondisi mereka, keluarga ingin mendapatkan kepastian dan kabar resmi dari tim evakuasi,” ungkap Ratna.

Bagi keluarga, perjalanan tersebut awalnya menjadi langkah Aditya untuk belajar dan mencari pengalaman bersama kakaknya. Tidak ada yang menyangka perjalanan kerja yang dijalani keduanya justru membuat keluarga harus menunggu kabar dari tengah laut.

Reporter: Maulana Rahmadha
Editor: Rizky Rusdiyanto