Kediri, Tandaglobal.news-Jamaah Masjid Baitul Aisyah, yang berada di utara Favehotel Kediri, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri diingatkan untuk senantiasa memperkuat ketakwaan serta menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat bergantung dalam menjalani kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan khatib dalam khutbah Jumat, Jumat (4/9/2026). Dalam ceramahnya, khatib mengawali dengan mengingatkan pentingnya menjalankan perintah Allah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa.

Pesan tersebut sebagaimana termuat dalam QS Ali ‘Imran ayat 102, agar orang-orang beriman tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan beragama Islam.

Khatib kemudian menjelaskan hakikat tawakal, yakni menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Sikap tersebut dapat diteladani dari Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW yang tetap menggantungkan harapan kepada Allah dalam menghadapi berbagai ujian.

Salah satu bentuk tawakal yang ditekankan adalah memperbanyak kalimat “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, yang berarti Allah adalah sebaik-baik penolong dan tempat berserah diri. Khatib menjelaskan, kalimat tersebut pernah diucapkan Nabi Ibrahim AS ketika menghadapi ujian berat, serta Nabi Muhammad SAW dan para sahabat ketika mendapatkan ancaman dari musuh.

Dalam QS Ali ‘Imran ayat 173 disebutkan bahwa ancaman tersebut justru semakin menambah keimanan mereka. Hal itu menjadi pelajaran bahwa seorang Muslim hendaknya tidak mudah takut dan tetap percaya kepada pertolongan Allah.

Selain membahas tawakal, khatib juga mengingatkan jamaah mengenai larangan menggantungkan perlindungan kepada jimat, tangkal, maupun praktik-praktik yang bertentangan dengan tauhid.

Khatib menjelaskan bahwa dalam sejumlah hadis terdapat peringatan keras mengenai penggunaan benda-benda yang diyakini dapat memberikan perlindungan atau manfaat secara gaib. Jamaah juga diingatkan untuk berhati-hati terhadap mantra atau ruqyah yang mengandung unsur kesyirikan.

Dalam penjelasan yang merujuk pada pembahasan Kitab At-Tauhid, khatib menerangkan istilah tamimah sebagai jimat yang dikalungkan dengan keyakinan tertentu untuk mencegah bahaya seperti ‘ain. Sementara tiwalah merupakan praktik yang diyakini dapat memengaruhi rasa cinta seseorang terhadap pasangannya secara tidak sesuai syariat.

Khatib menegaskan bahwa seorang Muslim harus menjaga kemurnian tauhid dengan tidak menggantungkan hati kepada benda, kekuatan, atau sesuatu selain Allah.

“Seorang mukmin hendaknya menjadikan Allah sebagai tempat bergantung dalam setiap keadaan. Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi setelah berusaha, hati tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah,” jelas khatib.

Khatib juga menyampaikan peringatan berdasarkan hadis tentang bahaya menggantungkan hati kepada sesuatu selain Allah. Ketergantungan tersebut dapat membuat seseorang menyerahkan urusannya kepada sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki kuasa atas dirinya.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak untuk memperkuat ketakwaan, menjaga keyakinan, serta menjauhi berbagai bentuk kesyirikan. Tawakal kepada Allah diharapkan tidak hanya menjadi ucapan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan kehidupan sehari-hari.

Di akhir khutbah, jamaah kembali diingatkan bahwa segala bentuk ikhtiar hendaknya tetap disertai keyakinan bahwa pertolongan dan ketentuan terbaik berada di tangan Allah SWT.

Reporter: Maulana Rahmadha
Editor: Rizky Rusdiyanto