Sanggar Flying Star Dance Pare Konsisten Tanamkan Nilai Budaya pada Generasi Muda

Peserta kelas usia dini mengikuti latihan tari di Sanggar Flying Star Dance Pare sebagai bagian dari pembinaan seni dan pelestarian budaya.
(Dok. TGN/Stefani Eka Shaputri)

Tandaglobal.news | KEDIRI – Di tengah derasnya pengaruh budaya modern, seperti modern dance hingga demam K-Pop, Sanggar Flying Star Dance di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, terus konsisten membina generasi muda agar tetap mencintai seni tari tradisional. Melalui pembinaan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, sanggar ini berupaya menjaga warisan budaya sekaligus membentuk karakter para siswanya.

Pendiri sekaligus pemilik Sanggar Flying Star Dance, Gelar Gian Crismeril, menceritakan bahwa kecintaannya terhadap dunia tari telah tumbuh sejak remaja. Ia mulai mengajar tari pada 2011 saat masih duduk di bangku SMA. Meski sempat menghadapi penolakan dari almarhum ayahnya karena khawatir terhadap citra negatif tarian tertentu, Crismeril tetap menekuni dunia tari hingga akhirnya berhasil membuktikan prestasinya dan mendapat dukungan keluarga.

“Awalnya saya hanya mengajar satu sekolah untuk perlombaan pada tahun 2011.”

Seiring bertambahnya pengalaman, kegiatan tersebut berkembang menjadi komunitas anak-anak pencinta tari pada 2012 hingga 2013. Dari komunitas itulah kemudian lahir Sanggar Flying Star Dance sebagai wadah pembinaan yang lebih terstruktur bagi anak-anak dan remaja yang ingin mengembangkan bakat di bidang seni tari.

Untuk memaksimalkan proses pembelajaran, Flying Star Dance membagi peserta ke dalam empat kelompok usia dengan materi yang disesuaikan kemampuan masing-masing. Anak-anak usia dini diperkenalkan pada tari bertema flora, fauna, dan permainan tradisional sebagai media belajar yang menyenangkan. Memasuki jenjang berikutnya, peserta mulai dikenalkan dengan berbagai tari daerah, kemudian memperkuat teknik dasar dan postur tubuh, hingga akhirnya mempelajari tari kreasi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Gelar Gian Crismeril (mbak me) founder sekaligus pemilik Sanggar Flying Star Dance. (Dok. TGN/Stefani Eka Shaputri)

Menurut Crismeril, pembelajaran di sanggar tidak hanya berfokus pada kemampuan menari. Nilai-nilai karakter justru menjadi bagian penting yang selalu ditanamkan kepada setiap peserta.

“Nilai yang paling utama kami tanamkan adalah kedisiplinan waktu, tanggung jawab terhadap materi yang diberikan, serta kerja sama tim (teamwork) yang kompak, terutama saat persiapan kompetisi.”

Ia menambahkan, tujuan utama dari seluruh proses pembinaan tersebut adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Libur Program MBG Picu Harga Telur Anjlok, Peternak Kediri Keluhkan Kerugian

Persiapan menghadapi perlombaan pun dilakukan secara intensif. Durasi latihan yang biasanya berlangsung sekitar dua jam ditingkatkan menjadi lima hingga enam jam setiap hari. Selain memperdalam materi tari, para peserta juga menjalani evaluasi gerakan hingga gladi bersih sebagai bagian dari persiapan sebelum tampil.

Meski demikian, intensitas latihan akan dikurangi pada H-2 atau H-1 menjelang perlombaan. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi fisik para penari tetap prima saat tampil di atas panggung.

Di tengah semakin kuatnya pengaruh budaya populer, Crismeril mengakui mempertahankan minat generasi muda terhadap tari tradisional bukan perkara mudah. Karena itu, Flying Star Dance menghadirkan kelas K-Pop sebagai selingan agar peserta tetap antusias mengikuti latihan, tanpa mengurangi fokus utama pada pembelajaran tari kreasi tradisional dan kontemporer.

Crismeril juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah terhadap perkembangan sanggar seni. Menurutnya, perhatian dari Dinas Kebudayaan, termasuk melalui kebijakan kepemilikan Nomor Induk Sanggar, menjadi langkah positif dalam mendorong pembinaan seni yang lebih terarah.

Menutup wawancara, Crismeril berharap perkembangan seni tari tidak hanya terpusat di wilayah tertentu, tetapi dapat tumbuh merata di seluruh Kabupaten Kediri. Dengan semakin banyaknya komunitas dan wadah pembinaan seni, ia optimistis generasi muda akan semakin mencintai, menjaga, dan bangga terhadap identitas budaya Indonesia.


Jurnalis: Stefani Eka Shaputri

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *