Bersih Desa Sempu Jadi Wujud Syukur Sekaligus Dorong Desa Wisata dan UMKM

Tandaglobal.news | KEDIRI — Pemerintah Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, kembali menggelar rangkaian tradisi Bersih Desa dan Suroan sebagai agenda tahunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Selain menjadi wujud rasa syukur dan pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mendorong pengembangan desa wisata serta meningkatkan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Sempu.

Kepala Desa Sempu, Eko Suroso, menjelaskan rangkaian kegiatan Bersih Desa telah dimulai sejak 19 Juni 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 12 Juli 2026.

Rangkaian acara diawali dengan kegiatan nyadran di Punden Sumber Banteng pada Jumat Pahing, 19 Juni 2026, yang diikuti warga dari dua dusun dan dilanjutkan dengan pementasan jaranan Jawa Kridho Manggolo. Selanjutnya, pada Kamis Pahing malam Jumat Pon digelar nyadran di Punden Mbah Diang, Dusun Sumberpetung.

Setelah itu, masyarakat akan mengikuti doa bersama dan Tahlil Akbar pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Joglo Indrapura Ringinsari. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pagelaran wayang kulit dan ruwatan desa pada Minggu, 12 Juli 2026, di lokasi yang sama.

Bersih desa merupakan giat rutin setiap tahun yang diselenggarakan masyarakat Desa Sempu sebagai wujud syukur, tolak balak dan memperingati Tahun Baru Islam/Muharam atau Suro dalam versi Jawa,” kata Eko Suroso.

Dalam pelaksanaannya, terdapat dua punden yang menjadi pusat kegiatan, yakni Punden Sumber Banteng dan Punden Mbah Diang. Kedua lokasi tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini memiliki sejarah penting bagi Desa Sempu sekaligus sebagai upaya menjaga kelestarian adat dan budaya Jawa.

Di Sempu ada dua punden, yaitu Sumber Banteng dan Punden Mbah Diang. Tempat tersebut dipilih supaya kita tetap nguri-uri budaya, melestarikan tradisi,” jelasnya.

Eko mengatakan, secara umum prosesi nyadran tidak mengalami perubahan dibandingkan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Perubahan hanya dilakukan pada lokasi penyelenggaraan pagelaran wayang kulit dan ruwatan desa yang dilaksanakan secara bergiliran di masing-masing dusun.

Yang berubah adalah tempat dilaksanakannya pagelaran wayang kulit dan ruwatan desanya. Gilir setiap dusun,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pagelaran wayang kulit menjadi agenda yang selalu digelar setiap tahun sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa dengan sistem rotasi antardusun.

Iya, setiap tahun dengan giliran atau gantian masing-masing dusun,” ujarnya.

Ke depan, Pemerintah Desa Sempu berkomitmen terus mengembangkan pelaksanaan Bersih Desa dan Suroan agar tidak hanya menjadi agenda pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata terhadap sektor ekonomi masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah desa berharap kunjungan wisatawan meningkat sehingga mampu menggerakkan sektor pariwisata dan UMKM lokal.

Kegiatan Bersih Desa dan Suroan didorong sebagai hajatan rakyat guna mendukung program desa wisata dan pengembangan pariwisata serta UMKM desa. Di tengah semakin lesunya kunjungan wisata di Desa Sempu, semoga mampu memantik semangat untuk bangkit kembali,” pungkas Eko Suroso.


Jurnalis: Stefani Eka Shaputri

Baca Juga  UIN Salatiga Resmikan Fakultas Saintek, Buka Tiga Program Studi Baru
administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *