Layangan Gapangan Tetap Digemari di Era Digital, Jadi Hiburan Musim Kemarau yang Sarat Tradisi

Tandaglobal.news | KEDIRI – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya hiburan digital, permainan layangan tradisional jenis gapangan masih tetap menjadi pilihan masyarakat saat musim kemarau tiba. Tidak hanya dimainkan anak-anak, permainan ini juga digemari remaja hingga orang dewasa yang memanfaatkan angin kencang untuk menerbangkan layangan di area persawahan maupun lapangan terbuka, Rabu (8/7/2026).

Bagi sebagian masyarakat, bermain layangan bukan sekadar mengisi waktu luang. Permainan tradisional ini juga menjadi cara untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah seorang pecinta layangan, Hadi, mengatakan bahwa bermain layangan memiliki makna lebih dari sekadar hiburan musiman.

“Bermain layangan itu membuat kami kembali mengingat masa kecil. Selain itu, tradisi seperti ini juga harus terus dijaga agar tidak hilang,” ujar Hadi.

Menurutnya, membuat layangan gapangan membutuhkan keterampilan tersendiri. Prosesnya dimulai dari merakit kerangka bambu, memasang kertas atau plastik, hingga memasang sendaren yang menghasilkan suara khas ketika layangan mengudara. Kreativitas para pemain juga terlihat dari berbagai modifikasi yang dilakukan, termasuk penambahan lampu agar layangan tetap dapat diterbangkan pada malam hari.

Selain menjadi hiburan, permainan layangan juga menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat. Proses membuat hingga menerbangkan layangan berukuran besar kerap dilakukan secara bersama-sama sehingga mampu mempererat kebersamaan serta menjalin silaturahmi antargenerasi.

Pecinta layangan lainnya, Sutris, menilai aktivitas tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hiburan digital. Menurutnya, bermain layangan membuat seseorang lebih banyak bergerak di luar ruangan sekaligus menikmati suasana alam.

“Kalau sudah di lapangan, kami bisa berkumpul, berbincang, sekaligus menikmati angin sore. Rasanya lebih menyenangkan dibanding hanya bermain gawai di rumah,” kata Sutris.

Ia menambahkan, suara dengungan sendaren yang dihasilkan layangan saat terbang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya. Tidak sedikit pemain yang merasa bangga ketika layangan hasil rakitan sendiri mampu terbang stabil dengan suara yang nyaring.

Baca Juga  Jejak Kerajaan Kediri yang Masih Hidup di Tengah Desa Menang

Musim kemarau menjadi waktu yang paling dinantikan para pecinta layangan karena angin bertiup lebih kencang dibandingkan musim penghujan. Momentum tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk menerbangkan layangan mulai sore hingga malam hari.

Pada malam hari, layangan gapangan biasanya dilengkapi lampu berwarna-warni sehingga tetap terlihat saat mengudara. Pemandangan puluhan layangan bercahaya yang menghiasi langit malam menjadi hiburan tersendiri sekaligus menarik perhatian masyarakat yang datang untuk menyaksikannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak serta-merta menghilangkan minat masyarakat terhadap permainan tradisional. Justru di tengah era digital, layangan gapangan tetap mampu menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, sekaligus pelestarian budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.


Penulis: Maulana Rahmadha

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *