
Tandaglobal.news | KEDIRI – Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, terus mengembangkan potensi desa berbasis wisata dan pemberdayaan masyarakat. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Bringin, Iwan Faisol, desa yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil madu terbesar di Kabupaten Kediri ini semakin berkembang melalui Desa Wisata Kampung Madu dan Wisata Kali Etan, Rabu (8/7/2026).
Kepala Desa Bringin, Iwan Faisol, mengatakan pengembangan potensi desa dilakukan dengan memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya masyarakat yang telah ada sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, sektor wisata dan budidaya lebah madu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa.
“Kampung Madu merupakan potensi unggulan Desa Bringin yang terus kami kembangkan sebagai destinasi wisata edukasi sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iwan Faisol.
Secara geografis, Desa Bringin berada di kawasan dataran rendah di bagian selatan Kecamatan Badas. Letaknya cukup strategis karena Dusun Bunut berada di jalur utama menuju Kabupaten Jombang, sehingga memudahkan akses wisatawan maupun masyarakat yang ingin berkunjung.
Desa Bringin terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Bringin, Dusun Bunut, Dusun Ketangi, dan Dusun Purworejo. Berdasarkan data profil desa, jumlah penduduk mencapai 6.417 jiwa yang tersebar dalam 1.744 kepala keluarga, terdiri atas 3.278 perempuan dan 3.139 laki-laki, serta terbagi ke dalam 36 RT dan 14 RW.
Salah satu ikon Desa Bringin adalah Kampung Madu yang berada di Dusun Purworejo. Budidaya lebah madu di kawasan tersebut telah berkembang sejak 1980 dan kini dikelola oleh sekitar 50 peternak lebah yang menghasilkan madu murni, madu hutan, royal jelly, hingga propolis.
Menurut Iwan Faisol, keberadaan Kampung Madu tidak hanya menjadi sentra produksi madu, tetapi juga dikembangkan sebagai wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat secara langsung proses budidaya lebah sekaligus mengenal berbagai produk hasil peternakan lebah.

Selain Kampung Madu, Desa Bringin juga memiliki Wisata Kali Etan yang menawarkan suasana pedesaan dengan aliran sungai yang jernih. Wisata ini menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati kuliner tradisional, seperti nasi jagung, di tengah suasana alam yang masih asri.
“Kami ingin wisata yang ada di Desa Bringin tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga mengenalkan potensi desa, budaya, dan hasil usaha masyarakat kepada para pengunjung,” tambah Iwan Faisol.
Dari sisi sejarah, wilayah Desa Bringin dipercaya mulai dibuka sejak masa Kerajaan Kediri, ketika kawasan tersebut masih berupa hutan belantara. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, daerah ini kemudian dihuni oleh para pendatang dari wilayah Kudus dan Jepara, Jawa Tengah, yang membuka lahan pertanian hingga berkembang menjadi permukiman.
Masyarakat Desa Bringin juga masih menjaga tradisi budaya, seperti Grebeg Suro dan Sedekah Bumi, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dengan potensi wisata, pertanian, peternakan lebah, serta kekayaan budaya yang dimiliki, Desa Bringin terus memperkuat posisinya sebagai salah satu desa wisata unggulan di Kabupaten Kediri yang mengedepankan konsep edukasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Jurnalis: Maulana Rahmadha