Libur Program MBG Picu Harga Telur Anjlok, Peternak Kediri Keluhkan Kerugian

Peternak ayam petelur di Kabupaten Kediri menunjukkan produksi telur yang terdampak turunnya permintaan selama program MBG libur. (dok. Roni Ardiansyah / Tandaglobalnews )

Tandaglobal.news | Kediri — Liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah berdampak pada anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak. Berhentinya penyerapan telur dalam jumlah besar membuat pasokan melimpah di pasar, sementara produksi telur dari ayam petelur tetap berlangsung setiap hari. Kondisi ini membuat peternak harus menjual telur dengan harga yang jauh di bawah biaya produksi.

Hal tersebut disampaikan Irzan, peternak ayam petelur di Dusun Jomblang, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, saat ditemui pada Kamis (2/7/2026).

Menurut Irzan, sejak program MBG berhenti sementara karena libur sekolah, permintaan telur mengalami penurunan drastis. Akibatnya, stok telur terus menumpuk di kandang, sementara telur memiliki daya simpan yang terbatas sehingga harus segera dipasarkan.

“Biasanya ada penyerapan dalam jumlah besar untuk kebutuhan program MBG. Begitu sekolah libur, permintaan langsung turun. Produksi telur tetap jalan setiap hari, jadi stok menumpuk dan akhirnya kami terpaksa menjual dengan harga yang rendah,” ujarnya.

Berdasarkan data PINSAR Petelur Nasional per 1 Juli 2026, harga telur di wilayah Kediri berada di kisaran Rp20.200 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi yang harus ditanggung sebagian besar peternak.

Irzan menjelaskan, turunnya harga jual sangat memberatkan karena biaya operasional, terutama pakan ayam, tetap tinggi. Kondisi tersebut membuat keuntungan peternak terus menurun bahkan tidak sedikit yang mengalami kerugian.

“Harga jual turun, tetapi harga pakan dan biaya perawatan ayam tidak ikut turun. Kalau kondisi seperti ini berlangsung lama, peternak kecil akan semakin berat karena perputaran modal ikut terganggu,” katanya.

Untuk mengurangi kerugian, sejumlah peternak mulai mencari alternatif pemasaran dengan menjual telur langsung kepada masyarakat, pelaku UMKM, maupun pedagang lokal tanpa melalui jalur distribusi yang panjang. Sebagian peternak juga mulai melakukan efisiensi biaya produksi, termasuk mengurangi populasi ayam yang produktivitasnya sudah menurun.

Baca Juga  Mapan Expo Rangkaian Hari Jadi Ke-1147 Kota Kediri, Pemkot Siapkan Rekayasa Lalu Lintas dan Kantong Parkir

Namun demikian, Irzan mengingatkan bahwa jika banyak peternak melakukan pengurangan populasi ayam secara bersamaan, dikhawatirkan akan terjadi kekurangan pasokan ketika program MBG kembali berjalan setelah libur sekolah berakhir. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan lonjakan harga telur di pasaran.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi agar harga telur tetap stabil, salah satunya dengan menyerap kelebihan produksi selama masa libur sekolah melalui program bantuan pangan, penanganan stunting, maupun program sosial lainnya.

“Harapan kami ada langkah dari pemerintah untuk membantu menyerap kelebihan produksi saat permintaan turun. Dengan begitu harga tetap stabil, peternak tidak merugi, dan masyarakat juga tetap mendapatkan telur dengan harga yang wajar,” pungkas Irzan.

Para peternak juga berharap adanya pengembangan fasilitas penyimpanan berpendingin serta penyusunan pola produksi yang lebih selaras dengan kalender akademik agar fluktuasi harga akibat berhentinya sementara program MBG dapat diminimalkan di masa mendatang.

Jurnalis : Roni Ardiansyah

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *