Pak Mesdi dan Senjakala Pasar Sepeda Loak

Pak Mesdi, pedagang sepeda bekas di pasar loak Kediri, melayani pembeli di tengah lesunya pasar yang dipengaruhi maraknya transaksi melalui platform belanja online.
Foto: Intan Nuraini /Tandaglobal.news

TANDAGLOBALNEWS KEDIRI — Momentum menjelang tahun ajaran baru sekolah biasanya menjadi angin segar bagi para pedagang sepeda, mengingat meningkatnya kebutuhan moda transportasi bagi anak-anak yang akan masuk sekolah baru. Namun, realitas berbeda justru harus dihadapi oleh para pedagang sepeda bekas di kawasan pasar loak tradisional.
​Berdasarkan pemantauan langsung dan informasi yang dihimpun melalui wawancara mendalam di lapangan, aktivitas perdagangan di sektor ini terpantau mengalami kelesuan yang cukup mendalam.


​Dampak Nyata Menjamurnya Media Online


​Dalam sebuah wawancara bersama salah seorang pedagang sepeda senior di pasar loak tersebut, Pak Mesdi, terungkap bahwa salah satu faktor utama yang memicu sepinya pembeli konvensional saat ini adalah maraknya kehadiran platform belanja digital atau media online.


​”Ya pengaruhnya ya sepi itu, ya banyak yang beli online,” ungkap Pak Mesdi saat memberikan keterangan mengenai kondisi penjualannya belakangan ini.
​Pak Mesdi mengakui bahwa sistem belanja daring saat ini menawarkan kepraktisan dan harga yang bersaing, sehingga mengalihkan perhatian sebagian besar calon konsumen. Padahal, menurutnya, bertransaksi secara langsung (offline) di pasar loak memiliki keunggulan tersendiri karena pembeli bisa melihat dan memastikan secara jelas kualitas serta kondisi fisik sepeda yang akan dibeli.


​Kondisi Pasar Stagnan dan Cenderung Sepi


​Meskipun saat ini memasuki periode pendaftaran sekolah baru bagi anak-anak—terutama tingkat SMP yang biasanya mulai membutuhkan sepeda—Pak Mesdi mengeluhkan tidak adanya peningkatan omzet yang berarti. Situasi pasar loak dinilai sama saja seperti hari-hari biasa dan cenderung sepi pembeli.
​”Ya sama-sama saja kalau sekarang. Jadi enggak ada peningkatan, biasa-biasa saja. Sepi,” tuturnya membandingkan dengan kondisi pasar pemenang secara umum yang belakangan ini juga dikeluhkan sepi oleh warga maupun pedagang lain.

Berita Terkait  Polsek Ngasem dan Satpol PP Kabupaten Kediri Bersinergi Gelar Patroli Jumat Gaul, Antisipasi Balap Liar hingga Knalpot Brong


​Ketika diminta membandingkan omzet pendapatan dengan tahun sebelumnya, Pak Mesdi menegaskan bahwa iklim perdagangan pada tahun lalu jauh lebih baik ketimbang tahun ini. “Ramai kemarin. Malah lebih ramai kemarin, sekarang sepi,” tambahnya. Kelesuan ini juga diperparah dengan harga jual sepeda yang kini justru dinilai lebih murah dibanding sebelumnya guna menarik minat pembeli, namun pasar tetap belum menunjukkan gairah yang signifikan.


​Empat Dekade Bertahan di Dunia Pasar


​Pak Mesdi bukanlah orang baru di dunia perdagangan sepeda bekas. Pria yang telah mendedikasikan hidupnya di pasar ini mengungkapkan bahwa dirinya sudah mulai berjualan sejak tahun 1983 silam di area pasar loak tersebut.


​Selama lebih dari 40 tahun mengabdi, ia menjadi saksi hidup pasang surutnya dinamika pasar loak dari masa kejayaannya yang dahulu sangat ramai dan terkenal, hingga kini mengalami penyusutan jumlah pedagang akibat akses jalan yang sulit dan ruko-ruko yang mulai tutup.


​”Dulu ramai, dulu ramai sampai terkenal. Dulu saya jualan di pasar pemenang terus pindah ke sini. Sekarang cuma tinggal empat orang saja yang jualan sepeda di sini,” kenang Pak Mesdi mengenai berkurangnya rekan sejawat di sektor yang sama.


​Di lapak dagangannya, Pak Mesdi menyediakan berbagai macam variasi sepeda bekas dengan rentang harga yang cukup terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Untuk jenis sepeda berukuran standar, ia mematok harga di kisaran Rp200.000-an. Sementara untuk ukuran sepeda yang paling kecil, harganya dimulai dari kisaran Rp150.000.


​Kondisi sepinya pasar loak ini menjadi tantangan berat bagi segelintir pedagang kecil yang tersisa seperti Pak Mesdi. Para pedagang berharap agar eksistensi pasar loak tradisional ini tetap terjaga dan kembali dilirik oleh masyarakat luas sebagai alternatif mendapatkan barang berkualitas dengan harga ramah kantong.

Berita Terkait  Juru Pelihara Situs Calon Arang Luruskan Sejarah, Sebut Calon Arang Bukan Penyihir

Jurnalis : Intan Nuraini

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *