Dampak Nyata Polusi Asap Pembuatan Arang terhadap Kehidupan Warga Dusun Tondomulyo

Asap dari usaha pembuatan arang di Dusun Tondomulyo, Kediri, dikeluhkan warga karena berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan kenyamanan. dok. Fitri Rahayu/ Tandaglobalnews

Tandaglobalnews Kediri, 8 Juni 2026 – Keberadaan sejumlah unit usaha pembuatan arang di Dusun Tondomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, bukan semata-mata menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian warga. Selama berjalannya waktu, aktivitas pembakaran kayu yang dilakukan secara terus-menerus telah menimbulkan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat di sekitarnya. Masalah polusi udara yang ditimbulkan tidak hanya sekadar gangguan visual, tetapi telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan tubuh, kenyamanan tempat tinggal, kualitas lingkungan, hingga keamanan dan ketertiban umum.

Dari sisi kesehatan, dampak yang paling terasa adalah gangguan pada sistem pernapasan. Asap yang mengepul dari cerobong pembakaran mengandung partikel halus, karbon monoksida, dan senyawa kimia lain yang berbahaya jika terhirup dalam jangka waktu lama. Banyak warga, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit asma atau alergi, mengaku sering mengalami keluhan seperti batuk-batuk terus-menerus, sesak napas, hidung tersumbat, hingga iritasi mata yang terasa perih dan berair.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keluhannya dengan jujur, “Sudah bertahun-tahun kami hidup berdampingan dengan asap ini. Kalau cuaca sedang tidak berangin, asapnya tebal sekali sampai masuk ke dalam rumah. Anak saya yang masih kecil sering bangun malam karena batuk dan sesak napas. Kami terpaksa menutup semua jendela meskipun siang hari panasnya menyengat, supaya asapnya tidak masuk. Menjemur pakaian pun jadi sulit, sebentar saja sudah tertutup debu hitam dan baunya tak sedap, jadi harus dicuci ulang.”

Ia menambahkan bahwa kekhawatiran tidak hanya tertuju pada kesehatan saat ini, melainkan dampak jangka panjang yang mungkin timbul. “Kami sebenarnya tidak melarang orang berusaha, karena kami juga mengerti kebutuhan ekonomi. Tapi sebagai warga yang tinggal di sini, kami juga berhak menghirup udara yang bersih dan sehat. Kadang kami merasa takut, dampak ini kan tidak terasa seketika, tapi bisa menumpuk bertahun-tahun dan berbahaya nantinya.”

Selain masalah kesehatan fisik, polusi asap juga sangat mengganggu kenyamanan hidup sehari-hari. Ketika asap tebal menyelimuti kawasan pemukiman, warga terpaksa menutup rapat jendela dan pintu rumah meskipun cuaca sedang terik, agar asap tidak masuk ke dalam ruangan. Akibatnya, sirkulasi udara di dalam rumah menjadi buruk dan terasa panas. Warga juga mengeluhkan kesulitan saat hendak menjemur pakaian, kasur, atau perlengkapan rumah tangga di halaman. Barang-barang yang dijemur justru menjadi tertutup lapisan jelaga hitam, berbau asap, dan terasa kotor, sehingga harus dicuci ulang. Bahkan, kegiatan sederhana seperti duduk santai di teras rumah atau bermain di halaman menjadi terasa tidak nyaman dan jarang dilakukan warga.

Dampak negatif juga meluas ke sektor pertanian dan lingkungan sekitar. Tanaman pekarangan, tanaman hias, hingga hasil pertanian milik warga yang tumbuh di sekitar lokasi usaha sering kali terlihat layu, daunnya menguning, dan tertutup debu hitam. Hal ini menurunkan hasil panen dan nilai ekonomi tanaman tersebut. Air sumur dan sumber air bersih di sekitar kawasan juga dikhawatirkan kualitasnya menurun akibat partikel asap yang jatuh dan tercampur ke dalam tanah serta sumber air permukaan. Lingkungan yang seharusnya asri dan sejuk perlahan berubah menjadi terasa gersang dan kurang sehat bagi makhluk hidup.

Tidak hanya masalah lingkungan dan kesehatan, aspek keamanan dan ketertiban juga menjadi sorotan utama warga. Sebelum disepakatinya aturan bersama, tumpukan kayu bahan baku sering kali diletakkan terlalu dekat dengan tepi bahu jalan, bahkan sebagian menutupi badan jalan raya. Hal ini sangat membahayakan, karena menyempitkan ruang lalu lintas dan menghalangi pandangan pengendara kendaraan bermotor. Kondisi ini sempat memicu beberapa insiden nyaris tabrakan dan kecelakaan, baik yang melibatkan warga setempat maupun pengguna jalan yang melintas. Belum lagi aktivitas bongkar muat kayu dan lalu lintas kendaraan pengangkut yang sering berlangsung hingga larut malam. Suara bising mesin kendaraan dan benturan kayu sering kali mengganggu ketenangan malam, sehingga mengurangi kualitas istirahat warga dan mengganggu ketentraman lingkungan pemukiman.

Menyadari bahwa dampak yang ditimbulkan sudah cukup luas dan mengganggu kehidupan bersama, masyarakat tidak tinggal diam. Melalui musyawarah besar yang difasilitasi pemerintah desa dan dihadiri lebih dari 100 orang, warga menyampaikan keluhan-keluhan tersebut secara terbuka. Akhirnya, dicapai kesepakatan bersama yang mengatur kewajiban pengusaha untuk memperbaiki sistem pembakaran dengan memasang penyaring asap, meninggikan cerobong, mengatur jarak aman penempatan bahan baku, dan membatasi jam operasional.

Kini, dengan adanya aturan yang disepakati bersama, warga mulai menaruh harapan besar. Warga yang menyampaikan keluhannya sebelumnya juga berharap kesepakatan ini benar-benar dijalankan. “Kami berharap kesepakatan yang sudah dibuat ini tidak hanya di atas kertas saja. Kalau aturan dipatuhi bersama, saya yakin udara di sini akan membaik, anak-anak bisa bermain bebas, dan kami bisa hidup damai berdampingan. Usaha berjalan, lingkungan pun terjaga,” tutupnya.

Mereka berharap langkah-langkah perbaikan yang diwajibkan dapat menekan produksi asap secara signifikan, sehingga udara di Dusun Tondomulyo dapat kembali bersih, segar, dan sehat. Warga berharap keluhan tentang gangguan pernapasan dapat berkurang, mereka bisa kembali beraktivitas di halaman rumah dengan tenang, tanaman pertanian tumbuh subur kembali, dan jalan raya menjadi aman bagi semua pengguna. Intinya, kesepakatan ini menjadi jembatan agar keberadaan usaha pembuatan arang tetap memberikan manfaat ekonomi, namun tidak lagi mengorbankan hak warga untuk hidup sehat, aman, dan nyaman di lingkungannya sendiri.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *