Kementan Bangun Ekosistem Terpadu, Swasembada Bawang Putih Ditargetkan Tercapai 2029

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat memimpin pertemuan bersama petani penangkar, Bulog, ID Food, dan pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat terwujudnya swasembada bawang putih nasional dalam tiga tahun. ( Foto: M. Digi )

TandaGlobalNews | JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat upaya mewujudkan swasembada bawang putih nasional melalui pembangunan ekosistem terintegrasi yang mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari penyediaan benih hingga pemasaran hasil panen untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah akan hadir secara penuh dalam mendukung petani melalui penyediaan benih unggul, sarana produksi, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta penguatan peran BUMN pangan untuk menjamin keberlanjutan usaha tani bawang putih.

Hal tersebut disampaikan Mentan Amran saat menggelar pertemuan bersama petani penangkar, PTPN, ID Food, Bulog, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut Amran, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menginginkan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bawang putih secara mandiri tanpa bergantung pada impor.

“Bapak Presiden ingin swasembada. Karena itu ekosistemnya kita bangun dari benih sampai konsumsi. Dulu pendekatannya parsial sehingga tidak berjalan optimal. Sekarang kita kawal bersama, tiga tahun insyaallah bisa swasembada,” ujar Amran.

Fokus pada Penguatan Benih Nasional

Mentan menjelaskan bahwa langkah awal yang menjadi prioritas pemerintah adalah memperkuat ketersediaan benih bawang putih dalam negeri sebagai fondasi peningkatan produksi nasional.

Pemerintah akan memberikan bantuan benih, alsintan, serta menjamin penyerapan hasil produksi petani. Selain itu, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk bawang putih basah juga tengah disiapkan guna memberikan kepastian harga dan menjaga keuntungan petani.

“Kita support petani. HPP bawang putih basah disiapkan supaya petani tidak rugi. Pemerintah hadir sebagai trigger untuk menggerakkan produksi bawang putih nasional. Swasta juga kami kawal, dan impor kita tekan kerannya,” tegasnya.

Skema yang dibangun pemerintah akan melibatkan petani penangkar, sektor swasta, serta PTPN III dalam memproduksi benih bawang putih. Selanjutnya, hasil produksi benih tersebut akan diserap oleh ID Food dan Bulog untuk didistribusikan kembali ke berbagai daerah guna memperluas areal tanam.

Dengan sistem tersebut, pemerintah berharap tercipta siklus produksi yang berkelanjutan mulai dari penyediaan benih, budidaya, hingga pemasaran hasil panen.

“Silakan menjadi penangkar, kemudian jual ke ID Food dan Bulog. Ekosistem ini harus berjalan dari benih sampai konsumsi. Gudang dan penyerapan akan kita siapkan bersama Bulog dan ID Food. HPP dan HET ditentukan supaya semua jelas dan tidak ada yang dirugikan,” katanya.

Bantuan Alsintan untuk Tingkatkan Efisiensi

Selain mendukung ketersediaan benih, Kementan juga akan membantu penyediaan alat dan mesin pertanian, salah satunya kultivator. Bantuan tersebut akan diberikan dalam bentuk pinjaman yang dapat digunakan secara bergilir oleh kelompok tani.

Model pengelolaan tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat bantuan pemerintah sekaligus meningkatkan efisiensi budidaya bawang putih di berbagai sentra produksi.

Petani Sambut Positif Dukungan Pemerintah

Komitmen pemerintah tersebut mendapat sambutan positif dari para petani. Salah satunya datang dari petani penangkar bawang putih asal Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Bedjo Supriyanto.

Bedjo mengaku optimistis program yang dirancang pemerintah dapat menjadi titik balik kebangkitan komoditas bawang putih nasional setelah puluhan tahun bergantung pada impor.

“Alhamdulillah, ini menjadi momentum yang sangat ditunggu petani bawang putih. Selama lebih dari 20 tahun kami bertani, baru sekarang bawang putih mendapat perhatian yang kuat. Dengan adanya kepastian harga, pembeli, dan dukungan dari hulu sampai hilir, petani akan lebih semangat meningkatkan produksi,” ujarnya.

Menurut Bedjo, kolaborasi yang erat antara petani, pemerintah, BUMN pangan, dan konsumen menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional, khususnya untuk komoditas bawang putih.

Ia berharap dukungan yang diberikan pemerintah dapat berjalan secara konsisten sehingga Indonesia mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor dan secara bertahap memenuhi seluruh kebutuhan bawang putih dari hasil produksi petani dalam negeri.

“Kami punya cita-cita agar petani bawang putih Indonesia bisa berdiri di kaki sendiri. Memang membutuhkan proses, tetapi dengan momentum ini kami optimistis suatu saat kebutuhan bawang putih nasional dapat dipenuhi sepenuhnya dari produksi dalam negeri,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *