KEDIRI, Tandaglobal.news — Perkebunan Damarwulan di Dusun Laharpang, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tidak hanya menjadi sumber penghidupan warga, tetapi juga menyimpan cerita sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada aktivitas perkebunan, terutama tanaman kayu dan kopi, Jumat (23/10/2026).

Agus Widodo, yang akrab disapa Dewo, selaku Ketua RT setempat, menjelaskan bahwa permukiman di kawasan Damarwulan awalnya disediakan untuk tempat tinggal para pekerja perkebunan sejak masa kolonial Belanda.

Sejumlah bangunan lama pernah berdiri di kawasan tersebut, meskipun sebagian kini telah dibongkar.

Menurut Dewo, jumlah penghuni permukiman tersebut mengalami penurunan dibandingkan masa lalu. Dahulu, kawasan itu diperkirakan dihuni hampir 60 kepala keluarga (KK), bahkan satu rumah pernah ditempati dua keluarga.

Kini, jumlah warga yang menetap diperkirakan sekitar 30 KK dengan kurang lebih 24 rumah.

“Dulu kawasan ini memang disediakan untuk tempat tinggal pekerja perkebunan supaya mereka tidak perlu jauh-jauh saat bekerja. Dahulu jumlahnya hampir 60 kepala keluarga, sedangkan sekarang sekitar 30 kepala keluarga,” ujar Dewo.

Aktivitas perkebunan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Selain bekerja di kebun, warga memanfaatkan kawasan tersebut untuk mencari rumput dan kayu bakar.

Perkebunan juga membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat dari luar wilayah sehingga keberadaannya turut mendukung perekonomian warga sekitar.

Di sisi lain, masyarakat masih menghadapi sejumlah keterbatasan fasilitas. Jaringan telepon seluler di kawasan tersebut belum sepenuhnya lancar.

Pelayanan kesehatan dari pihak perkebunan juga hanya tersedia sekitar satu kali dalam sebulan, sementara belum terdapat bangunan khusus fasilitas kesehatan di lingkungan permukiman.

Selain itu, terdapat sekitar lima warga lanjut usia yang tinggal di kawasan tersebut.

Selain menjadi kawasan permukiman pekerja, Damarwulan juga menyimpan cerita mengenai situs yang dikenal dengan nama Jeding Miring. Berdasarkan cerita lisan yang diwariskan masyarakat, lokasi tersebut dipercaya pernah menjadi tempat singgah tokoh Damarwulan sekaligus tempat mandi pada masa kerajaan.

Dewo menuturkan, sejumlah peninggalan yang dahulu berada di sekitar lokasi kini sebagian telah rusak atau hilang. Sekitar enam hingga tujuh tahun lalu, beberapa peneliti, termasuk dari Bandung, juga pernah mengunjungi kawasan tersebut untuk meneliti batu bertulisan.

Namun, arti tulisan pada batu itu belum berhasil dipastikan.

“Menurut cerita orang-orang tua dahulu, Damarwulan pernah singgah di sini. Ada tempat yang disebut Jeding Miring dan dipercaya sebagai tempat mandinya. Peneliti juga pernah datang untuk melihat batu bertulisan, tetapi sampai sekarang artinya belum diketahui,” tambahnya.

Cerita mengenai Jeding Miring masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat setempat. Meski demikian, kaitan situs tersebut dengan tokoh Damarwulan masih berdasarkan cerita turun-temurun dan memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan latar belakang sejarahnya.

Keberadaan perkebunan, permukiman pekerja, dan situs yang menyimpan cerita masa lalu menjadikan Damarwulan memiliki karakter tersendiri. Selain menjadi sumber penghidupan masyarakat, kawasan ini juga menyimpan potensi sejarah lokal yang dapat ditelusuri dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.