BANDUNG BARAT, TandaGlobalNews — Pabrik Teh Panglejar merupakan salah satu peninggalan industri perkebunan teh yang memiliki jejak sejarah kuat di Kabupaten Bandung Barat. Berada di kawasan Cikalong Wetan, Panglejar menjadi bagian dari sejarah panjang perkebunan yang berkembang di wilayah Priangan sejak masa Hindia Belanda.
Sejarah perkebunan Panglejar dapat ditelusuri hingga 1893. Penelitian mengenai artefak kolonial Panglejar mencatat perkebunan tersebut berdiri pada rentang 1893 hingga 1898. Pada masa perkembangannya, teh menjadi salah satu komoditas utama yang mengubah lanskap perkebunan di kawasan tersebut.
Keberadaan pabrik teh di Panglejar ternyata lebih tua daripada angka 1925 yang kini terlihat pada bangunan. Peta topografi lama sekitar 1918 telah menunjukkan keberadaan fasilitas theefabriek atau pabrik teh di Panglejar. Artinya, fasilitas pengolahan teh telah ada sebelum pembangunan kembali pada 1925.
Tahun 1925 menjadi tonggak penting dalam sejarah Panglejar karena terjadi pembangunan kembali pabrik. Pada bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung Industri Hilir Teh Panglejar terdapat prasasti berbahasa Belanda yang menyatakan bahwa batu pertama pabrik diletakkan oleh Marianne Jeannete van Hillegondsberg pada 24 Maret 1925.
Penelitian arkeologi memberikan penjelasan penting mengenai kronologi tersebut. Pabrik teh Panglejar pertama diperkirakan telah berdiri sebelum 1925, sedangkan pembangunan pada 1925 kemungkinan merupakan pembangunan kembali setelah pabrik sebelumnya mengalami kebakaran. Karena itu, angka 1925 tidak tepat jika langsung dianggap sebagai tahun pertama kali pabrik teh Panglejar berdiri.
Kebakaran tersebut menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas pengolahan. Arsip surat kabar Belanda pada Januari 1925 mencatat lima gudang terbakar dan pabrik teh beserta mesinnya hancur. Kerugian produk teh dilaporkan mencapai sekitar 35.000 gulden. Selama proses pemulihan, pengolahan teh dan karet dilakukan dengan bantuan pabrik perkebunan di sekitar Panglejar.
Panglejar kemudian berkembang sebagai bagian dari jaringan perkebunan besar yang memiliki fasilitas produksi, permukiman pekerja, rumah administratur dan infrastruktur pendukung. Pola tersebut merupakan ciri khas perkebunan besar Hindia Belanda yang tidak hanya terdiri atas lahan tanaman, tetapi juga membentuk kawasan industri dan permukiman.
Dalam perkembangannya, komoditas di Panglejar mengalami perubahan. Pada masa awal pengelolaan, kopi masih menjadi tanaman penting, sebelum teh berkembang menjadi salah satu komoditas utama perkebunan. Perubahan tersebut turut dipengaruhi kondisi pasar dan perkembangan akses transportasi di kawasan Priangan.
Perubahan besar terjadi setelah Indonesia merdeka. Perusahaan-perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi dan asetnya diambil alih negara. Perkebunan Panglejar kemudian masuk dalam sistem pengelolaan perkebunan negara dan mengalami beberapa kali reorganisasi.
Dalam perkembangan berikutnya, Panglejar berada dalam jaringan PTPN VIII. Bangunan lama pabrik kemudian memiliki fungsi yang berbeda dengan masa awalnya. Bangunan yang dahulu digunakan untuk pengolahan teh kini dikenal sebagai bagian dari Industri Hilir Teh, termasuk kegiatan penyimpanan dan pengemasan produk teh.
PTPN VIII juga mengembangkan fasilitas Industri Hilir Teh yang berkaitan dengan produk teh seperti Walini dan Goalpara serta kebutuhan pasar ekspor.
Keberadaan bangunan lama Panglejar menjadi penting karena menunjukkan bahwa sebagian infrastruktur perkebunan kolonial mengalami perubahan fungsi, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan industri teh.
Sejarah Panglejar juga menggambarkan perubahan komoditas perkebunan. Teh, karet dan komoditas lainnya pernah memiliki peranan berbeda mengikuti perkembangan perkebunan dan kondisi pasar internasional.
Pada 1 Desember 2023, PTPN VIII dilebur ke dalam PTPN I sebagai bagian dari restrukturisasi holding perkebunan. Perubahan tersebut menandai fase baru dalam struktur pengelolaan perusahaan perkebunan negara.
Pabrik Teh Panglejar merupakan contoh penting warisan industri perkebunan Jawa Barat. Sejarahnya bukan hanya tentang produksi teh, tetapi juga tentang perubahan komoditas, kebakaran, pembangunan kembali, nasionalisasi dan perubahan fungsi bangunan.
Angka 1925 yang tertera pada bangunan menjadi salah satu bukti penting mengenai pembangunan kembali pabrik. Namun sejarah Panglejar jauh lebih panjang karena perkebunan dan fasilitas pengolahan teh telah ada sebelum tahun tersebut.
Lebih dari satu abad setelah perkebunan itu berkembang, Panglejar tetap menjadi salah satu situs penting untuk memahami sejarah industri teh dan perkebunan di kawasan Bandung Barat.




















Tinggalkan Balasan