Bondowoso, Tandaglobal.news — Di lereng Pegunungan Ijen, pada ketinggian sekitar 1.100–1.500 meter di atas permukaan laut, berdiri Pabrik Kopi Blawan, salah satu pabrik pengolahan kopi arabika tertua di Indonesia yang masih beroperasi. Menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII), pabrik ini telah melewati perjalanan panjang sejak era kolonial hingga menjadi penghasil kopi specialty yang dikenal dunia.
Pabrik Kopi Blawan lahir seiring berkembangnya industri perkebunan di kawasan Karesidenan Besuki pada akhir abad ke-19. Saat itu, meningkatnya permintaan kopi di Eropa mendorong pemerintah Hindia Belanda membuka perkebunan di dataran tinggi Jawa Timur yang memiliki kondisi alam ideal bagi tanaman arabika.
Pengembangan kawasan Blawan dipelopori oleh Gerhard David Birnie pada dekade 1890-an. Perkebunan yang kala itu dikenal sebagai Mount Blau berkembang menjadi salah satu proyek kopi terbesar di wilayah Bondowoso dan disebut sebagai perkebunan pertama yang dikembangkan secara intensif di kawasan Ijen, bahkan lebih dahulu dibandingkan Kalisat/Jampit.
Seiring meningkatnya produksi, dibangunlah pabrik pengolahan kopi dengan teknologi modern pada masanya. Pabrik Kopi Blawan dirancang khusus untuk menghasilkan kopi arabika washed process berkualitas ekspor. Bangunan bergaya kolonial itu dilengkapi bak fermentasi, saluran pencucian, lantai penjemuran, gudang penyimpanan, hingga jaringan jalan yang menghubungkan kebun dengan pusat pengolahan.
Belanda, Jerman, Prancis, Italia, dan sejumlah negara Eropa menjadi tujuan utama ekspor kopi Blawan sejak awal abad ke-20. Pada masa itu, istilah Java Coffee telah dikenal luas sebagai identitas kopi berkualitas dari Pulau Jawa dan tetap bertahan sebagai sebutan populer hingga sekarang.
Keunggulan kopi Blawan berasal dari perpaduan tanah vulkanik Pegunungan Ijen, udara pegunungan yang sejuk, curah hujan tinggi, serta proses pengolahan olah basah yang konsisten. Karakter rasanya dikenal memiliki aroma bunga, sentuhan madu, karamel, citrus, dengan tingkat keasaman yang seimbang.
Masa pendudukan Jepang pada 1942–1945 sempat menurunkan produksi akibat terbatasnya tenaga kerja, rusaknya sarana transportasi, dan terputusnya jalur ekspor. Namun, perkebunan Blawan tetap dipertahankan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Setelah Indonesia merdeka, perubahan besar terjadi ketika pemerintah menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda pada 1957–1958. Perkebunan Blawan kemudian dikelola negara melalui Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) sebelum akhirnya menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) pada 1996.
Di bawah pengelolaan PTPN XII, berbagai modernisasi dilakukan tanpa menghilangkan nilai sejarah kawasan. Mesin pengolahan diperbarui, sistem pengendalian mutu ditingkatkan, sementara bangunan kolonial dan tata ruang emplasemen tetap dipertahankan sebagai identitas perkebunan.
Kini, Kebun Blawan bersama Kalisat/Jampit menjadi pusat produksi Java Ijen-Raung Arabica yang telah memperoleh Indikasi Geografis (IG). Sebagian besar hasil produksinya dipasarkan sebagai kopi specialty dalam bentuk green bean untuk memenuhi permintaan pasar ekspor.
Selain sebagai pusat produksi, kawasan Blawan berkembang menjadi destinasi heritage dan agrowisata. Rumah administratur bergaya Indische, kompleks perumahan karyawan, gudang tua, hingga bangunan pabrik yang masih aktif menjadi daya tarik bagi peneliti, fotografer, dan wisatawan yang ingin mengenal sejarah kopi Indonesia dari dekat.
Lebih dari satu abad sejak pertama kali dikembangkan, Pabrik Kopi Blawan tetap menjaga tradisi pengolahan kopi arabika sekaligus mempertahankan nama besar Java Coffee. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan perkebunan tidak hanya tersimpan pada bangunan bersejarah, tetapi juga pada pengetahuan, budaya, dan reputasi kopi Indonesia yang terus diakui dunia.




















Tinggalkan Balasan