Tandaglobal.news | Sragen — Kisah mengenai konflik internal di Pabrik Gula (PG) Mojo, Kabupaten Sragen, kembali menjadi perhatian setelah dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026).
Cerita tersebut mengangkat perbedaan pandangan antara dua pejabat Belanda di lingkungan pabrik pada periode 1903–1907 yang disebut berujung pada terganggunya operasional pabrik.
Pada musim giling tahun 1903, PG Mojo yang dikelola NV Cultuurmaatschappij Mojo menjadi salah satu pabrik gula yang aktif beroperasi di kawasan selatan Bengawan Solo.
Aktivitas penggilingan berlangsung normal dengan dukungan jalur lori pengangkut tebu, sementara laporan produksi gula terus disampaikan kepada kantor perusahaan di Semarang.
Dalam narasi yang beredar, administratur pabrik Dirk Frederik van Haastert disebut sebagai sosok yang mengutamakan efisiensi biaya selama target produksi tetap tercapai.
Di sisi lain, kepala teknik Willem Anton Scholten disebut mulai menyoroti kondisi ketel uap yang dinilai telah menua dan berpotensi membahayakan operasional pabrik.
“Ketel-ketel ini sudah usang. Tanpa penggantian, kita mengambil risiko besar,” demikian peringatan Scholten sebagaimana dikisahkan dalam cerita tersebut.
Peringatan itu disebut tidak mendapat tanggapan positif dari pihak manajemen karena Van Haastert tetap mempertahankan jalannya produksi.
“Selama produksi masih berjalan, tidak ada alasan menambah biaya,” jawab Van Haastert sebagaimana diceritakan dalam narasi yang beredar.
Perbedaan pandangan tersebut disebut terus berlanjut hingga 1905 ketika Scholten mengusulkan pengurangan kecepatan proses penggilingan demi alasan keselamatan kerja.
Usulan itu kembali ditolak dengan alasan perusahaan tidak dapat menerima keterlambatan produksi pada musim giling.
Menurut cerita yang berkembang, puncak persoalan terjadi pada malam 12 Agustus 1906 ketika ketel uap utama mengalami kerusakan.
Insiden tersebut disebut mengakibatkan tiga buruh mengalami luka-luka dan menghentikan aktivitas produksi selama sekitar dua pekan.
“Risiko tersebut sebenarnya telah dilaporkan sebelumnya, namun produksi tetap dilanjutkan,” demikian isi laporan teknis yang dikaitkan dengan Scholten dalam narasi tersebut.
Peristiwa itu kemudian disebut memicu audit dari kantor perusahaan di Semarang pada awal 1907.
Hasil audit tersebut disebut tidak pernah diumumkan secara terbuka, tetapi Scholten dipindahkan ke salah satu pabrik gula di Jawa Timur.
Sementara itu, Van Haastert tetap menjabat dengan kewenangan yang disebut mulai dibatasi.
Seiring waktu, PG Mojo kemudian menjalani proses modernisasi secara bertahap untuk memperbarui fasilitas produksi.
Narasi tersebut menyebut konflik internal di tingkat manajemen menjadi salah satu pelajaran dalam pengelolaan industri gula pada masa kolonial.
“Mesin tidak gagal karena besinya, melainkan karena kehendak manusia yang saling bertabrakan,” demikian kutipan yang disebut berasal dari catatan auditor perusahaan.
Kisah tersebut menggambarkan bahwa dinamika industri gula pada masa kolonial tidak hanya dipengaruhi hubungan antara perusahaan dan buruh.
Perbedaan pandangan di kalangan pejabat perusahaan juga menjadi bagian dari cerita yang berkembang mengenai pengelolaan pabrik gula pada masa itu.
Namun, sejumlah tokoh, dialog, dan rincian peristiwa dalam cerita ini belum dapat dipastikan melalui arsip sejarah yang terverifikasi.
Karena itu, kisah tersebut lebih tepat dipandang sebagai narasi sejarah atau cerita berlatar sejarah yang berkembang di masyarakat.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan