Tandaglobal.news | KEDIRI – Di tengah persaingan yang semakin ketat antar lembaga pendidikan, MTs Annidhom di Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, hanya memperoleh empat peserta didik baru pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.

Jumlah tersebut terbilang sangat minim. Padahal, lokasi sekolah berada di wilayah yang mudah dijangkau dan bukan termasuk daerah terpencil.

Kondisi ini menjadi gambaran tantangan yang dihadapi sejumlah sekolah swasta dalam mempertahankan keberlangsungan layanan pendidikan.

Kepala MTs Annidhom, Titik, mengungkapkan bahwa hingga penutupan penerimaan peserta didik baru, sekolahnya hanya menerima empat siswa yang berasal dari berbagai daerah.

“Alhamdulillah masih ada empat siswa,” ujarnya.

Keempat siswa tersebut berasal dari Tulungagung, Tales, Purwokerto, dan Slumbung. Meski jumlahnya jauh dari ideal, pihak sekolah tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan secara maksimal sebagaimana sekolah lainnya.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan tetap menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara penuh.

Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Ya tetap kami profesional sesuai aturan. Hari ini kegiatan outbound,” kata Titik.

Selain kegiatan outbound, para siswa juga mengikuti berbagai kegiatan pembiasaan dan penguatan karakter.

Setiap pagi mereka menjalani pembiasaan keagamaan, kemudian mendapatkan materi pengenalan lingkungan sekolah, kegiatan literasi, hingga pengenalan program ekstrakurikuler.

Menurut Titik, jumlah siswa yang sangat sedikit tidak akan mengurangi kualitas proses pembelajaran.

Sekolah tetap menerapkan sistem belajar mengajar sesuai regulasi yang berlaku, termasuk menjalankan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi program Kementerian Agama.

“Tetap sesuai aturan yang sudah ditetapkan, KBC,” tegasnya.

Di balik minimnya jumlah siswa baru tersebut, Titik menilai terdapat persoalan yang perlu menjadi perhatian para pemangku kebijakan.

Ia menyoroti semakin banyaknya lembaga pendidikan yang berdiri dalam satu wilayah sehingga memperketat persaingan dalam memperoleh peserta didik.

Menurutnya, pemerintah maupun Kementerian Agama perlu melakukan kajian lebih mendalam sebelum memberikan izin pendirian sekolah baru, terutama di daerah yang jumlah lembaga pendidikannya sudah cukup banyak.

“Dari kepala sekolah menyampaikan bahwa dinas atau Departemen Agama seharusnya memberikan pembatasan pembangunan sekolah baru. Karena semakin menumpuk sekolah di sebuah desa atau kecamatan maka potensi persaingannya semakin ketat,” ungkapnya.

Fenomena yang dialami MTs Annidhom menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan swasta saat ini.

Di satu sisi, sekolah dituntut terus meningkatkan kualitas layanan. Namun, di sisi lain harus bersaing memperebutkan jumlah lulusan sekolah dasar yang relatif terbatas.

Meski hanya memiliki empat siswa baru, MTs Annidhom memilih tetap melangkah dengan optimistis.

Bagi pihak sekolah, setiap peserta didik yang mempercayakan pendidikannya merupakan amanah yang harus dilayani secara profesional tanpa memandang jumlahnya.