Mengapa Nabi Muhammad Tak Pernah Dikuasai Amarah? Psikologi Modern Kini Menjelaskan

Foto : Ilustrasi orang berjabat tangan

Tandaglobal.news | JAKARTA – Di tengah maraknya konflik di media sosial dan meningkatnya polarisasi di masyarakat, kemampuan mengendalikan emosi menjadi keterampilan yang semakin penting. Menariknya, apa yang kini dijelaskan oleh psikologi modern sebagai regulasi emosi dan empati taktis ternyata telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW lebih dari 14 abad yang lalu.

Perkembangan ilmu psikologi modern melahirkan berbagai teori mengenai pengelolaan emosi dan penyelesaian konflik. Salah satunya adalah tactical empathy atau empati taktis yang dipopulerkan mantan negosiator FBI, Chris Voss. Konsep ini menekankan pentingnya memahami emosi orang lain tanpa harus membenarkan perilakunya.

Prinsip serupa ternyata dapat ditemukan dalam banyak sunnah Rasulullah SAW yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam meredakan kemarahan, memahami kondisi psikologis manusia, dan mengubah permusuhan menjadi penerimaan.

Kemarahan dan Hilangnya Kendali Rasional

Psikologi modern menjelaskan bahwa kemarahan yang memuncak dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan berpikir jernih. Dalam neurosains, kondisi ini dikenal sebagai amygdala hijack, yaitu ketika pusat emosi mengambil alih fungsi berpikir rasional.

Empat belas abad lalu, Rasulullah SAW telah memberikan perhatian besar terhadap bahaya kemarahan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ أَوْصِنِي، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ

“Dari Abu Hurairah, seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, ‘Berilah aku nasihat.’ Beliau bersabda, ‘Jangan marah.’ Orang itu mengulanginya berkali-kali dan beliau tetap menjawab, ‘Jangan marah.'” (HR Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan menghilangkan emosi marah, melainkan mengendalikan diri agar tidak dikuasai oleh kemarahan.

Kekuatan Sejati Adalah Menguasai Diri

Rasulullah SAW juga memberikan definisi baru tentang makna kekuatan. Beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri saat emosi memuncak.

Dalam psikologi modern, kemampuan tersebut dikenal sebagai emotional regulation atau regulasi emosi, yakni kemampuan mengelola dorongan emosional agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan.

Rasulullah Memahami Sebelum Menghakimi

Salah satu contoh paling menakjubkan dalam sirah Nabi adalah ketika seorang pemuda datang meminta izin untuk berzina.

يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا

“Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.”

Mendengar hal itu para sahabat marah dan hampir menghardiknya. Namun Rasulullah SAW justru mengajak pemuda tersebut mendekat dan berdialog.

Beliau bertanya:

أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟

“Apakah engkau menyukai hal itu terjadi pada ibumu?”

Pemuda tersebut menjawab tidak. Nabi kemudian mengajukan pertanyaan serupa tentang putri, saudara perempuan, dan kerabat perempuannya hingga pemuda itu menyadari kesalahannya.

Setelah itu Rasulullah SAW meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut dan mendoakannya. Pendekatan ini membuat perubahan terjadi tanpa paksaan dan tanpa kemarahan.

Ketika Badui Kencing di Dalam Masjid

Contoh lain adalah kisah seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid.

أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ

“Seorang Arab Badui kencing di dalam masjid.”

Para sahabat langsung berdiri dan hendak memarahinya. Namun Rasulullah SAW bersabda:

دَعُوهُ وَلَا تُزْرِمُوهُ

“Biarkan dia dan jangan kalian hentikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Setelah orang tersebut selesai, Nabi menjelaskan dengan lembut bahwa masjid merupakan tempat untuk salat, berzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Pendekatan yang penuh ketenangan itu membuat orang tersebut menerima nasihat tanpa merasa dipermalukan.

Menghadapi Kekasaran dengan Senyuman

Kemampuan pengendalian emosi Rasulullah juga tampak ketika seorang Arab Badui menarik selendang beliau dengan keras hingga meninggalkan bekas pada lehernya.

Dalam riwayat Shahih Bukhari disebutkan:

فَجَذَبَ رِدَاءَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً

“Ia menarik selendang Nabi dengan sangat keras.”

Kemudian orang itu berkata:

مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ

“Berikan kepadaku harta Allah yang ada padamu.”

Alih-alih marah, Rasulullah SAW justru tersenyum dan memerintahkan agar orang tersebut diberikan bantuan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi tidak terpancing oleh perilaku kasar yang tampak di permukaan, melainkan memahami kebutuhan yang melatarbelakanginya.

Relevan Hingga Hari Ini

Di era digital, ketika kemarahan dapat menyebar hanya dalam hitungan detik dan perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan, teladan Rasulullah SAW menjadi semakin relevan.

Apa yang kini dikenal sebagai tactical empathy, de-escalation conflict, dan emotional regulation sesungguhnya telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW sejak 14 abad yang lalu. Bedanya, jika psikologi modern memandangnya sebagai teknik komunikasi, Rasulullah menjadikannya sebagai bagian dari akhlak mulia yang lahir dari kasih sayang, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dari perspektif ilmiah, hadis-hadis Nabi tentang kemarahan bukan hanya nasihat moral, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip psikologi sosial, neurosains perilaku, dan manajemen konflik yang kini diakui oleh ilmu pengetahuan modern.

Sumber : mui.or.id

author

    Related Articles

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *