Gempuran Intensif, Israel Rebut Benteng Beaufort Lebanon

Milter Israel (IDF) berhasil merebut Kastel Beaufort. (dok. AFP)

tandaglobal.news/ | TEL AVIV – Eskalasi militer di perbatasan utara semakin tidak terkendali setelah Pasukan Pertahanan Israel resmi memperluas jangkauan ofensif darat dan udaranya jauh ke dalam wilayah Lebanon selatan. Dalam pergerakan taktis terbaru pada Senin (1/6/2026), militer Israel dilaporkan telah berhasil menguasai Kastel Beaufort, sebuah benteng pertahanan abad pertengahan yang memiliki posisi geopolitik dan sejarah yang sangat strategis.

Jatuhnya Benteng Strategis di Atas Bukit

Kastel Beaufort, yang berdiri kokoh di atas tebing batu setinggi sekitar 700 meter di atas permukaan laut dekat desa Arnoun, jatuh ke tangan militer Israel setelah wilayah tersebut digempur secara intensif selama beberapa hari terakhir.

Posisi benteng kuno peninggalan era Tentara Salib ini sangat krusial karena memberikan jarak pandang langsung (vantage point) yang luas ke arah Lembah Hula di Israel utara, wilayah Galilea, serta aliran Sungai Litani di Lebanon selatan. Secara historis, siapa pun yang menguasai dataran tinggi Beaufort memegang kendali taktis atas pergerakan logistik dan militer di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidato resminya menyebut keberhasilan merebut benteng ini sebagai “pergeseran dramatis” dalam kampanye militer untuk memukul mundur kekuatan Hizbullah dari perbatasan.

“Kami tidak akan berhenti sampai keamanan warga kami di utara terjamin sepenuhnya, dan penguasaan titik strategis ini adalah langkah penting untuk mencapai tujuan tersebut,” tegas Netanyahu.

Lebanon Mengutuk, DK PBB Gelar Sidang Darurat

Dari pihak Beirut, pemerintah Lebanon mengecam keras perluasan ofensif ini. Mereka menuduh Israel sengaja menghancurkan situs warisan sejarah dan budaya dilindungi, serta melanggar kedaulatan wilayah luar batas aman yang disepakati sebelumnya. Hingga saat ini, gelombang pengungsian warga sipil dari Lebanon selatan menuju ibu kota Beirut terus membubung tinggi.

Merespons situasi yang kian kritis dan berpotensi memicu perang regional berskala besar, Dewan Keamanan PBB (DK PBB) dijadwalkan menggelar pertemuan darurat di New York pada hari ini untuk mendesak adanya gencatan senjata segera dan penarikan pasukan.

administrator

    Related Articles

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *