
Tandaglobalnews KEDIRI — Masyarakat Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, menggelar rangkaian Bersih Desa yang bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) pertama PLMDH Agro Satak Bersatu. Perayaan tersebut berlangsung selama dua pekan berturut-turut dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional sebagai hiburan sekaligus upaya melestarikan budaya lokal.
Rangkaian kegiatan diawali pada Minggu (21/6/2026) dengan hiburan rakyat berupa pagelaran Campursari Surya Buana Kediri yang di selenggarakan di perempatan Desa Satak. Sejumlah penampil turut memeriahkan acara, di antaranya Raros Kawiyan, Inces Mulik, Bambing Bolowo, Diah Setyaning, dan Cing Flo. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hingga malam hari. Warga dari berbagai dusun di Desa Satak maupun wilayah sekitar memadati lokasi acara untuk menikmati hiburan sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Seminggu kemudian, pada Minggu (28/6/2026), rangkaian Bersih Desa dilanjutkan dengan pagelaran kesenian Jaranan Jawi yang dipersembahkan oleh Lembaga Seni Jaranan Jawi “PUTRO GUNO WIJOYO” dari Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, di bawah pimpinan Bopo Karyono. Yang bertempat di Lapangan Desa Satak Yani. Pertunjukan tersebut menjadi bentuk komitmen panitia dalam menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.
Selaku panitia, Winarto menjelaskan bahwa penyelenggaraan pagelaran seni ini dilandasi semangat untuk terus melestarikan budaya leluhur.
“Uri-uri bab kesenian tradisional. Jadi kami itu tetap menghidupkan budaya tradisional. Kami jangan sampai kehilangan budaya tradisional,” ujarnya saat diwawancarai di sela-sela acara.
Menurutnya, lembaga yang menaungi kegiatan tersebut memiliki visi yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Visi dan misi kami adalah dari masyarakat untuk masyarakat. Semuanya dikembalikan untuk masyarakat,” tuturnya.
Winarto menjelaskan bahwa pemilihan kesenian jaranan sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa merupakan hasil kesepakatan seluruh anggota lembaga. Mereka menilai kesenian tradisional harus terus dijaga agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Ia juga menegaskan bahwa pagelaran campursari dan jaranan merupakan satu rangkaian peringatan HUT pertama PLMDH Agro Satak Bersatu dan Bersih Desa, hanya dilaksanakan pada waktu dan lokasi yang berbeda.
“Iya, kita kan jadi satu. Event ini jadi satu, cuman kita di tempat yang berbeda. Jadi seluruhnya mencakup dengan kesenian tradisional,” jelasnya.
Pada perayaan tahun ini, panitia hanya menghadirkan satu grup jaranan, yakni Putro Guno Wijoyo. Meski demikian, momen tersebut terasa istimewa karena menjadi kali pertama HUT PLMDH Agro Satak Bersatu diperingati bersamaan dengan Bersih Desa melalui penyelenggaraan hiburan budaya.
“Kita baru kali ini, Pak. Kita baru tahun ini. Iya, ulang tahun yang pertama. Bersih desa yang pertama kita mengadakan seperti ini,” tambah Winarto.
Ia mengungkapkan bahwa persiapan acara telah dilakukan sejak satu tahun sebelumnya agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan maksimal.
“Persiapan kami yang jelas dari satu tahun sebelumnya kami sudah ada. Memang nanti pada saat bersih deso dibarengkan dengan ulang tahunnya lembaga ini, kita adakan istilahnya hiburan untuk menghibur masyarakat yang ada di tempat kita,” ungkapnya.
Momentum HUT pertama PLMDH Agro Satak Bersatu juga menjadi ajang memperkuat sinergi antara masyarakat desa dan lembaga pengelola hutan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Melalui perayaan tersebut, Winarto berharap seluruh elemen masyarakat Satak semakin kompak dan mampu bersatu membangun desa ke arah yang lebih baik.
“Harapan kami sesuai dengan visi dan misi kita, satu bahwasanya Satak itu bersatu. Satak untuk satu. Jadi tidak ada pintu, hanya satu pintu. Seluruhnya Satak nanti akan menjadikan satu menuju ke Satak Emas,” pungkasnya.
Tradisi Bersih Desa yang rutin diselenggarakan setiap tahun merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus doa bersama agar Desa Satak senantiasa diberikan keamanan, kemakmuran, dan keberkahan. Melalui rangkaian pagelaran campursari pada 21 Juni 2026 dan kesenian jaranan pada 28 Juni 2026, masyarakat berharap nilai-nilai budaya lokal tetap lestari serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Jurnalis : Stefani Eka Saputri