
Tandaglobalnews | Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan konflik yang selama ini memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kesepakatan tersebut diumumkan setelah serangkaian perundingan intensif yang melibatkan sejumlah negara mediator.
Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan ini sebagai langkah besar menuju stabilitas kawasan, termasuk komitmen Washington untuk mencabut blokade terhadap Iran. Meski demikian, hingga saat ini nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara belum ditandatangani secara resmi.
Berikut sejumlah fakta penting terkait kesepakatan damai AS-Iran yang telah terungkap sejauh ini:
1. Penandatanganan Dijadwalkan 19 Juni di Swiss
Menurut pernyataan Trump melalui media sosial, penandatanganan resmi MoU akan dilakukan di Swiss pada Jumat, 19 Juni. Proses perdamaian ini disebut mendapat dukungan dari sejumlah negara, termasuk Qatar sebagai mediator utama, serta Arab Saudi dan Turki.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan apresiasinya kepada kedua negara yang memilih jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik.
2. Iran Konfirmasi Kesepakatan
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengonfirmasi bahwa teks nota kesepahaman telah diselesaikan pada 15 Juni malam. Otoritas Iran menyatakan penyelesaian dokumen tersebut dilakukan atas arahan Pemimpin Tertinggi Iran serta dukungan berbagai elemen negara.
Pemerintah Iran menilai kesepakatan ini sebagai langkah strategis untuk menghentikan perang dan membuka ruang dialog yang lebih luas dengan AS.
3. Selat Hormuz Akan Dibuka Tanpa Tarif
Salah satu poin yang disebut menjadi bagian dari kesepakatan adalah pembebasan biaya atau tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Trump menyatakan Iran juga berkomitmen membersihkan ranjau yang sebelumnya dipasang di kawasan tersebut. Pembukaan kembali Selat Hormuz direncanakan berlangsung setelah penandatanganan resmi kesepakatan.
4. Mendorong Penghentian Konflik di Lebanon
Kesepakatan damai ini juga dikabarkan mencakup upaya penghentian pertempuran di sejumlah front konflik, termasuk Lebanon.
Namun, implementasi poin ini diperkirakan tidak mudah karena Israel dan kelompok Hizbullah tidak menjadi pihak yang menandatangani perjanjian. Keberhasilan penghentian konflik akan sangat bergantung pada pengaruh AS terhadap Israel dan kemampuan Iran menahan aktivitas Hizbullah.
Di sisi lain, sejumlah pejabat Israel masih menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon akan berlanjut hingga Hizbullah dianggap tidak lagi menjadi ancaman.
5. Netanyahu Disebut Hampir Menggagalkan Kesepakatan
Dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan damai tersebut sempat berada di ambang kegagalan. Ia menilai serangan berkelanjutan Israel ke Lebanon hampir membuat Iran menarik diri dari proses negosiasi.
Trump secara terbuka menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai sosok yang sulit diajak berkompromi terkait upaya penghentian perang.
Menurut Trump, keberhasilan tercapainya kesepakatan damai ini merupakan langkah penting untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan damai AS-Iran kini menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi mengubah dinamika geopolitik kawasan, menurunkan ketegangan militer, serta membuka peluang pemulihan ekonomi dan stabilitas perdagangan global.
Sumber : cnnindonesia.com