Menjaga Asa Tari di Kalangan Gen Z: Kisah Sukses Flying Star Dance Pare hingga Kancah Internasional

Suasana latihan peserta di Sanggar Flying Star Dance Pare, Kabupaten Kediri. (Dok. TGN/Stefani Eka Shaputri)

Tandaglobal.news | KEDIRI – Berawal dari sebuah komunitas tari di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Flying Star Dance berhasil membawa nama daerah ke panggung internasional sebagai bagian dari delegasi kebudayaan Indonesia yang tampil di Singapura, Thailand, dan Malaysia pada 2025. Di balik capaian tersebut, sanggar yang juga dikenal sebagai Sanggar Sekartadji Kontemporer Pare ini terus konsisten membina generasi muda melalui seni tari sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mencetak prestasi.

Flying Star Dance berdiri pada 28 April 2014 di Jalan Welirang, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Di bawah pengelolaan Ody Widya Asmara, sanggar ini awalnya dibentuk sebagai komunitas yang bertujuan merangkul anak-anak muda agar memiliki ruang untuk mengembangkan bakat dan kreativitas melalui seni tari.

Seiring berkembangnya jumlah anggota, Flying Star Dance kini membina hampir 200 siswa aktif dengan berbagai jenis tarian, mulai dari hip hop, tari kreasi, tari tradisional, K-Pop, tari kontemporer, hingga berbagai garapan tari lainnya.

Untuk memaksimalkan proses pembelajaran, peserta dibagi ke dalam empat kelompok usia. Kelas A1 diperuntukkan bagi anak PAUD hingga kelas 1 SD, Kelas A2 bagi siswa kelas 2 hingga 3 SD, Kelas B untuk siswa kelas 4 hingga 6 SD, sedangkan Kelas C diikuti pelajar SMP, SMA, hingga kategori umum.

Mengajarkan seni kepada Generasi Z dan Alpha menjadi tantangan tersendiri. Menurut Ody, perbedaan karakter dan mental peserta didik saat ini menuntut para pelatih untuk lebih sabar serta mampu menyesuaikan pendekatan dalam setiap proses pembelajaran.

“Niatnya anak sekarang itu berbeda banget dengan niatnya anak dulu dan mental. Kalau kita sebagai pengelola sanggar ini, anak-anak sekarang dikerasin dikit saja sudah nggak mau masuk sanggar.”

Karena itu, metode latihan disesuaikan dengan usia dan karakter masing-masing peserta. Anak-anak usia dini diperkenalkan melalui tarian bertema dolanan dan karakter hewan agar suasana belajar lebih menyenangkan. Sementara itu, peserta remaja hingga dewasa mendapatkan materi tari kreasi dan garapan yang mengikuti perkembangan tren tanpa meninggalkan unsur budaya.

Baca Juga  Pria Asal Ngasem Meninggal Mendadak di Pinggir Jalan Raya Kandangan–Pare
Coach/Pelatih Tari, Ody Widya Asmara, pengelola sanggar flying star dance. (Dok. TGN/Stefani Eka Shaputri)

Ody mengatakan, memahami karakter setiap kelompok usia menjadi kunci agar materi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

“Kesulitannya memahami karakternya anak-anak. Kelas A1 ini karakternya gimana, kelas A2 karakternya gimana, kelas B karakternya gimana, kelas C karakternya gimana agar nanti kita waktu ngasih bahan pengajaran tidak mengalami kesulitan.”

Pendekatan tersebut membuahkan hasil. Pada 2025, Flying Star Dance dipercaya menjadi bagian dari delegasi kebudayaan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam misi promosi budaya Indonesia ke Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Delegasi tersebut terdiri atas anggota Kelas C bersama para pelatih, yakni Ody, Merril, Vidi, Salwa, dan Hendi. Keikutsertaan mereka menjadi bukti bahwa pembinaan seni budaya dari daerah mampu bersaing dan tampil di tingkat internasional.

Keberhasilan tersebut juga didukung kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan, di antaranya SMK Bakti Mulia Pare, SMA Dharma Wanita 1 Pare yang merupakan boarding school binaan Bupati Kediri, serta SMP Muhammadiyah 1 Pare. Selain itu, Flying Star Dance juga berada di bawah pembinaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Melalui kerja sama tersebut, Flying Star Dance tidak hanya menjadi tempat belajar menari, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, kreativitas, dan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.

Menutup sesi wawancara, Ody berharap pelestarian seni budaya terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Menurutnya, kebudayaan harus menjadi bagian dari pembangunan di berbagai bidang agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

“Kebudayaan harus bisa masuk di segala sektor. Entah itu dari sektor pendidikan, entah itu dari sektor ekonomi kreatif, entah itu dari sektor UMKM.”

Ia menilai penanaman nilai budaya sejak usia dini menjadi langkah penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya daerah. Dengan sinergi antara pelaku seni, dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat, semangat Kediri Berbudaya diharapkan terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga  Hari Lahir Pancasila 2026, Sekda Kediri: Pancasila Harus Menjadi Penuntun Arah Kemajuan Bangsa

Jurnalis: Stefani Eka Shaputri

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *