
Tandaglobal.news | Kediri – Arca Totok Kerot yang berada di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, hingga kini masih menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan. Selain memiliki nilai historis sebagai peninggalan Kerajaan Kediri, arca ini juga dikenal lekat dengan berbagai legenda yang diwariskan secara turun-temurun.
Juru Pelihara Arca Totok Kerot, Nur Ali, menjelaskan bahwa arca tersebut diyakini berasal dari masa pemerintahan Raja Sri Aji Jayabaya atau Joyoboyo. Pada masanya, arca ini berfungsi sebagai dwarapala, yakni arca penjaga pintu yang ditempatkan di kawasan suci atau tempat peribadatan.
“Arca Totok Kerot merupakan peninggalan Kerajaan Kediri yang dipercaya sebagai penjaga pintu tempat suci pada masa Raja Joyoboyo,” ujar Nur Ali, Jumat (10/7/2026).
Selain menyimpan nilai sejarah, keberadaan Arca Totok Kerot juga tidak lepas dari kisah legenda Putri Lodaya yang telah lama berkembang di tengah masyarakat. Dalam cerita rakyat tersebut, Putri Lodaya datang untuk melamar Raja Joyoboyo, namun lamarannya ditolak. Penolakan itu memicu kemarahan sang putri hingga menyerang Kerajaan Kediri. Setelah mengalami kekalahan, Putri Lodaya disebut menerima kutukan hingga berubah menjadi sosok arca yang kini dikenal sebagai Totok Kerot.
Menurut Nur Ali, kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Meski bersifat legenda, cerita itu menjadi salah satu daya tarik yang melengkapi nilai sejarah Arca Totok Kerot.
“Legenda Putri Lodaya menjadi cerita yang terus diwariskan. Meski bersifat cerita rakyat, kisah itu menjadi bagian dari kekayaan budaya yang melekat pada Arca Totok Kerot,” katanya.
Arca Totok Kerot ditemukan oleh warga di area persawahan Desa Bulupasar pada tahun 1981. Saat ditemukan, kondisi arca belum sepenuhnya utuh karena sebagian tubuhnya masih tertanam di dalam tanah. Penggalian secara menyeluruh baru dilakukan pada tahun 2005.
Beberapa bagian arca, seperti tangan kanan dan sebagian dahi, diketahui mengalami kerusakan yang diduga telah terjadi sejak masa penjajahan Belanda.

Di balik nilai sejarah yang dimilikinya, Arca Totok Kerot juga diselimuti berbagai mitos. Salah satunya adalah cerita yang menyebutkan bahwa arca tersebut pernah dipindahkan ke Alun-Alun Kota Kediri, namun secara misterius kembali lagi ke lokasi asalnya di Bulupasar. Kisah tersebut hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari tradisi lisan yang berkembang di wilayah setempat.
Nur Ali berharap keberadaan Arca Totok Kerot dapat terus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah ini agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
Jurnalis: Roni Ardiansyah