
Tandaglobal.news | KEDIRI — Setiap anggota Polri memiliki perjalanan hidup yang berbeda sebelum akhirnya mengabdikan diri kepada negara. Hal itu juga dialami Kompol Bowo Wicaksono yang kini bertugas di wilayah Kediri. Latar belakangnya di dunia seni menjadi pengalaman berharga yang membentuk karakter kepemimpinan yang humanis dan inovatif dalam menjalankan tugas kepolisian.
Kompol Bowo menceritakan, kecintaannya terhadap seni sempat membawanya menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Universitas Udayana, Bali. Ia diterima melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), sebelum akhirnya memutuskan mengikuti seleksi anggota Polri atas arahan orang tuanya.
Keputusan tersebut bukan tanpa perjuangan. Ia mengaku sempat mengalami dilema antara mengejar passion di bidang seni dan memenuhi harapan keluarga.
“Dorongan kuat dari sang ibu menjadi kekuatan utama untuk melepaskan dunia seni dan mengikuti seleksi hingga akhirnya saya dinyatakan lulus serta bertugas sebagai anggota Polri,” jelasnya.
Meski telah meninggalkan bangku kuliah seni, jiwa seninya tidak pernah hilang. Perwira menengah itu justru mengimplementasikan nilai-nilai seni dalam pelaksanaan tugas melalui pendekatan yang ia sebut sebagai Art Policing atau pemolisian melalui seni dan budaya.
Menurutnya, tugas kepolisian tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih humanis.
Dalam praktiknya, ia kerap memanfaatkan kegiatan seni dan budaya sebagai sarana membangun komunikasi dengan masyarakat, seperti menggelar pameran seni lukis maupun aktivitas yang mengangkat kearifan lokal.
“Pendekatan ini mampu meredam potensi konflik dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif dibandingkan hanya mengandalkan metode konvensional,” ucapnya.
Selama bertugas di berbagai daerah, mulai dari penempatan awal di Nusa Tenggara Timur, kemudian Surabaya, Kabupaten Kediri, hingga kini di Kota Kediri, Kompol Bowo melihat setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda.
Keberagaman latar belakang masyarakat, baik dari sisi pekerjaan, suku, maupun agama, menurutnya menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi dengan pendekatan yang tepat.
“Di sinilah pentingnya peran polisi sebagai pengayom. Melalui pendekatan yang humanis dan menyentuh sisi budaya masyarakat, kita dapat menjalankan tugas dengan lebih efektif,” ungkap Bowo Wicaksono.
Perjalanan kariernya dari seorang pecinta seni hingga menjadi perwira menengah Polri membuktikan bahwa dedikasi serta keterbukaan terhadap hal-hal baru menjadi bekal penting dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Perwira dengan tiga balok di pundaknya itu juga menegaskan pentingnya terus belajar mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, di era digital saat ini setiap anggota Polri harus mampu beradaptasi dengan cepat agar dapat memberikan pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat secara optimal serta tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi.
Jurnalis: Maya Rahmawati