
Tandaloblanews KEDIRI – Kenaikan harga bahan pokok, khususnya minyak goreng dan tepung terigu, mulai dirasakan para pelaku usaha mikro. Salah satunya dialami Mun (67), pedagang gorengan di Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, yang mengaku usahanya terdampak akibat biaya produksi yang semakin tinggi.
Mun mengatakan kenaikan harga minyak goreng dan tepung membuat modal yang harus dikeluarkan setiap hari semakin besar. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi usahanya yang bergantung pada bahan baku tersebut.
“Ya jelas berdampak. Minyak mahal, tepung mahal. Kalau misalnya bahannya murah ya lebih baik,” ujar Mun saat ditemui.
Meski biaya produksi meningkat, Mun memilih tidak menaikkan harga jual maupun mengurangi ukuran gorengan. Seluruh gorengan yang dijualnya tetap dibanderol Rp1.000 per buah agar pelanggan tidak beralih ke tempat lain.
“Tidak. Tetap Rp1.000 harganya,” katanya.
Namun, keputusan mempertahankan harga tersebut belum mampu menjaga tingkat penjualan. Mun mengaku jumlah pembeli yang datang ke warungnya kini mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya.
“Jumlah pembeli berkurang,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, Mun mengaku tidak memiliki strategi khusus selain terus berusaha mempertahankan usahanya agar tetap berjalan.
“Ya tetap berusaha,” ungkapnya.
Mun berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menekan harga kebutuhan pokok, terutama minyak goreng, sehingga beban para pedagang kecil dapat berkurang dan daya beli masyarakat kembali meningkat.
“Semoga diturunkan harga-harga barang. Kayak minyak, kayak wis bahan pokok lah,” pungkasnya.
Jurnalis : Stefani Eka Saputri