
Tandaglobalnews KEDIRI — Di tengah gempuran aneka kuliner modern yang terus berganti tren, jajanan tradisional sate aci tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu sosok yang setia merawat eksistensi kuliner sederhana ini adalah Edi, seorang pria asal Malang yang kini menetap dan mengais rezeki di Pare, Kediri. Tidak tanggung-tanggung, Edi tercatat telah menekuni profesi sebagai penjual sate aci sejak tahun 1990.
Tiga puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah konsistensi. Melalui usaha sate aci ini, Edi membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras mampu menjadi pilar utama dalam bertahan hidup dan menghidupi keluarga.
Perjalanan Panjang dan Resep Otodidak
Memulai sebuah usaha dari nol tentu tidak pernah mudah, begitu pula yang dialami oleh Edi. Saat diwawancarai, ia mengenang kembali masa-masa awal tahun 1989 ketika ia mulai mencoba meracik sate aci. Perjalanannya terbilang rumit karena ia tidak memiliki guru atau mentor yang mengajarinya secara langsung.
”Waduh, perjalanannya agak lumayan rumit, Mbak. Kan ini enggak ada yang mengajari. Cuma aku kan belajar tahap demi tahap. Aku waktu belajar enggak bisa langsung jadi,” kenang Edi dengan logat Jawa yang khas.
Kegagalan demi kegagalan di tahun 1989 tidak membuatnya patah arang. Ia terus bereksperimen, mencoba lagi, hingga akhirnya berhasil menemukan formula rasa dan tekstur sate aci yang pas, yang kemudian ia jajakan secara resmi mulai tahun 1990. Resep sate aci miliknya merupakan hasil kerja keras dan proses otodidak murni.
Adaptasi dari Keliling hingga Menetap Akibat Pandemi
Sebelum menetap di lapaknya yang sekarang, Edi dulunya adalah seorang pedagang keliling yang dinamis. Ritme kerjanya sangat padat; ia mulai berkeliling sejak pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Setelah beristirahat sejenak, ia akan melanjutkan berjualan di satu titik dari pukul 09.30 hingga 12.00 WIB.
Namun, badai pandemi Corona (COVID-19) beberapa tahun lalu memaksa Edi untuk mengubah strategi bertahannya. Pembatasan mobilitas membuatnya memutuskan untuk berhenti berkeliling dan memilih menetap di satu lokasi. Perubahan ini rupanya membawa berkah tersendiri. Kini, ia berjualan dari pukul 07.00 hingga pukul 11.00 siang.
Menurutnya, menetap di satu tempat justru terasa lebih nyaman. Selain karena para pelanggan setia sudah mengetahui lokasinya, ia juga tidak perlu lagi menguras tenaga untuk berkeliling.
Menyikapi Pasang Surut dengan Filosofi Bersyukur
Ketika ditanya mengenai suka duka selama lebih dari tiga dekade berjualan, Edi memberikan jawaban yang sangat bersahaja. Baginya, tidak ada dikotomi antara suka dan duka dalam kamus hidupnya sebagai pencari nafkah.
”Masalah suka duka sih, saya kira enggak ada ya. Cuma kita memang niatnya cari nafkah, cari rezeki ya cuma gitu tok. Aku enggak pernah menganu (membedakan) antara suka dan duka, enggak pernah. Itu sudah biasalah, memang namanya manusia cari nafkah,” ujarnya dengan bijak.
Setiap harinya, Edi menghabiskan sekitar 5 hingga 6 kilogram tepung sebagai bahan baku utama sate acinya. Ia sengaja membatasi kuota penjualannya sesuai target harian tersebut; jika habis, maka ia akan langsung menyudahi aktivitas berjualannya pada hari itu.
Mengenai pendapatan atau omset, Edi mengaku bahwa kondisinya relatif stabil dari tahun ke tahun. Ia tidak pernah mengeluh apakah dagangannya sedang sepi atau ramai. Baginya, perkara rezeki dan ramai tidaknya pembeli adalah mutlak urusan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya perlu konsisten berusaha dan menjalani perannya dengan sebaik-baiknya.
Kisah Edi adalah potret nyata dari determinasi dan ketulusan seorang pelaku usaha mikro. Di tengah modernisasi wilayah Pare yang dikenal sebagai Kampung Inggris, kehadiran sate aci ini tidak hanya menjadi pengganjal lapar yang murah meriah, tetapi juga simbol konsistensi yang melintasi zaman.
Jurnalis : Fitri Rahayu